Pengharapan Chapter 1 | Medan City Extinction

Namaku Jen, ini pertama kali aku ngomong sendiri pake rekaman, yang biasanya aku ngomong sendiri sama kaleng susu atau sama bayanganku di cermin setiap pagi. Karena alat perekam sial ini, hidupku jadi berubah. Alat perekam ini aku temukan dari seorang reporter bodoh, ya.. cukup bodoh untuk meledakkan isi kepalanya sendiri, pake handgun yang entah darimana dia dapat.

Aku bertemu dengannya hari ini di indomarket, dengan kemejanya yang basah karena keringat mungkin juga basah karena darah.

Dia melihatku dengan mata pucatnya dan anehnya dia memintaku untuk membunuhnya. Aku menolak permintaan bodohnya, tiba-tiba dia menodongku dan membentakku. Dia kembali menegaskan permintaan bodohnya. Aku diam ditempatku berdiri, dia masih memohon agar aku membunuhnya. Tapi kali ini dia memohon bercampur tangis dengan selembar poto di tangan kirinya. Aku masih berdiri terpaku dengan samurai di tanganku. Samurai yang kubeli di pajak melati dan itu sudah lama sekali.

Dia berhenti memohon agar aku membunuhnya dan menodongkan handgunnya kearah kepalanya sendiri. Aku cepat mendekatinya berusaha mencegahnya tapi lariku gak secepak dia menarik pelatuk handgunnya. Dan…
-klek- ternyata handgunnya tidak ada peluru.

Aku mengabaikannya, saat dia mulai menangis di situ. Aku mencari stok makanan dan berniat langsung pergi sebelum mereka ramai ke daerah indomarket ini. Saat aku mau pergi dia sudah diam, aku mendekatinya perlahan sekedar memastikannya.

Tiba-tiba dia langsung menerkamku, dia bukan lagi manusia yang menangisi poto itu. Matanya melotot kearahku, suaranya parau. Tanpa sadar tanganku mengambil samurai yang aku sarungkan di belakang pundakku. Dan menebas tepat di kepalanya dan dia jatuh seketika, darahnya mulai menggenangi lantai.

Disinilah aku tahu dia seorang reporter, dari badge nama yang aku temukan di tasnya. Aku membawa pulang tasnya yang berisi tape recorder dan menambahkan baterai ke list stok makananku.

Aku belum mendengarkan semua tape miliknya. Tapi disetiap perjalanannya, dia merekamnya dan di setiap rekaman tidak sedikit dia menangis mengucapkan

-anakku aku akan pulang-

Dia terus berharap sampai sisa nafasnya, akan pulang menemui anaknya walaupun dia tahu anaknya mungkin tidak menjadi manusia lagi setelah bertemu. Tapi dia tetap mencarinya.

Dasar reporter bodoh, kau mengajariku caranya berharap di kota mati ini.

Iklan