Sandalwood Flower

Sandalwood
Kelopak Bunga Cendana

Petang masih membentang di ufuk. Sinarnya menerpa, debu samar berhamburan. Anak-anak laki berkejaran di ladang tandus. Habiskan waktu sampai ibu atau ayah mereka datang membawa kayu sebatang, atau sejumput ranting dipegang. Tiba masanya usai, tak sedikit di antara mereka menerima segaris lebam di betis, lalu berjalan pelan senggugukan digiring pulang. Di antaranya lagi, ada yang terisak takut saat melihat ibunya datang. Satu, dua anak laki pulang dijemput, pertanda pesta dolanan harus dibubarkan.

Masih menikmati kilau senja berpendaran, seruput kopi perlahan di bingkai jendela, melihat anak-anak pulang satu per satu. Menjauh dari ladang tandus, dijemput satu per satu. Sebelah ladang, senja menyilau menyusup barisan rapi pepohonan cendana. Siluet senja menyemai peluh warga, peluh para pekerja. Tanpa lelah, yang ada binar bahagia di raut muka. Mengingatkan masa kecil bermain di tengah barisan pepohonan. Hanya sekedar mengganggu.

Angin sore masih melekat dalam pekat ingatan. Perlahan datang, bukan sesekali namun terlalu sering. Membuat senyum menyeringai tanpa sebab, mengintip jauh ke lubang masa. Seperti menonton opera, terhanyut iringan orkes masa lalu. Hening dan damai mendengar instrumental klasik. Dahan pohon bersahutan ditiup angin, menambah hanyut ingatan semakin dalam.

Aku berlari dikejar angin, berlari tak tentu arah. Lalu bergantian angin menabrak wajahku, bahagia terlalu singkat untuk seumuran anak-anak. Berlarian, lari dan hanya sekedar lari. Lari mengejar angin sore itu yang menggodaku. Kami akur, akrab seketika, walaupun tak mengenal pasti satu sama lain. Tiba-tiba angin itu hilang dalam haluan, lariku berhenti, terjerembab di serakan daun kering cendana. Aku malah tertawa, tanpa sebab dan terlalu bahagia.

Bahagia memang terlalu sederhana, semudah jatuh di kubangan masa lalu. Terlalu sederhana, menghirup udara hari ini dengan penuh syukur. Kemudian, tawa terhenti. Silau cahaya yang menelusup masuk dari celah ranting pohon cendana. Menarik perhatian, pandangan menengadah ke atas, aku masih tiduran telentang di kerumanan daun kering cendana. Walau kakiku sepertinya lecet, aku lupa rasanya sakit karena terjatuh. Sebab dari sini, pepohonan cendana sangat indah. Angin kembali datang, berbaring tepat disebelahku. Dahan pepohonan cendana menari.

Dari pohon cendana itu, ada kelopak bunga di ujung sana yang mencuri pandangku. Seperti berbisik dalam sunyi, kelopak bunga cendana bersuara lirih. Kami hanya saling pandang, aku dan kelopak bunga cendana, angin di sebelahku seakan tau maksud hati. Kelopak bunga tersebut menuruni pohon dituntun angin. Terjun dengan penuh bahagia, seakan melambai kearahku, aku hanya tersenyum, kami saling melempar senyum. Aku menunggunya di tumpukan daun, menyambutnya dengan satu tangan membentangkan telapak.
Kelopak bunga cendana yang indah, dari dulu hingga sekarang. Aku masih memandangi kelopaknya merebah di telapak tanganku. Kopiku menipis, lamunanku hampir habis.

“Juragan!” kelopak bunga cendana pergi, angin menerbangkan angan. “Para tamu sudah datang,”.

. . .

Malam larut dalam binar bulan terang, jangkrik bersenandung rindu. Bersahutan, memanggil bulan dengan lirik lagu yang tak aku mengerti. Hanya saja, terasa damai terdengar dari kamar ini. Jendela ku biarkan terbuka, tirainya nganga, menari mengikuti alunan lirik lagu jangkrik.

“Mau jam berapa lagi tidur?” Ibu sudah ada dikamar tanpa aku sadari, berjalan ke arah jendela, tirainya yang berumbai masih menari bersama angin malam.

“Besok, hari minggu loh buk,” aku masih memandang lamat-lamat ke arah jendela.

“Matamu udah ngantuk itu, tidur,” ibu menutup jendela, tirai tak lagi menari.

“Oalah buk,” ibu beranjak pergi dari kamar.

“Hush, tidur,” aku memalingkan posisi rebahanku.

Apakah aku terlalu kecil untuk menikmati angin malam, seperti bapak yang selalu memberanda sampai bulan benar-benar diatas kepala. Malam ini, bapak masih bersahabat dengan jangkrik, angin malam, mungkin juga ditemani anai-anai yang bersayap. Tidak tau pasti, tapi aku yakin bapak belum tidur, kamarku tepat selapis anyaman bambu sebagai pembatas dengan beranda. Ada orang disana, berbicara, mungkin bapak dan ibu.

“Pak,”.

“Opo toh buk,”.

“Bagaimana kalau kita pindah ke kota saja?”

“Maksud ibuk,”.

“Kita jual tanah kebun ini, lalu hidup di Kota,”.

“Ini hartaku satu-satunya, setelah ibuk dan anak kita buk,”.

“Tapi pak, kasihan anak kita, pasti suatu saat dia ingin sekolah ke jenjang yang lebih, dan sekolah harus pakai uang pak,”.

“Itu juga yang mengganjal di pikiran bapak buk”.

“Mau gak mau, pasti kita akan menjual tanah untuk biaya sekolah pak,”.

“Bapak tau, tapi ini warisan keluarga buk, bapak harus menjaganya,”.

“Bapak gak lihat, mau sampe kapan anak kita main di kebun,”.
Aku terlalu kecil untuk mengerti obrolan orang dewasa, kalau tanah kebun dijual aku mau main dimana lagi. Kata pakde yang kerja di kebun, kota adalah tempat yang keras. Banyak gedung – gedung tinggi, angin pun enggan masuk ke perkotaan. Awalnya aku tak mengerti, terus mengapa mendadak aku menjadi takut.

. . .

“Maaf menunggu lama, ini juragan yang mengelolah kebun cendana di sini pak, buk,”. “Juragan, saya tinggal ya, permisi”

“Oh iya, makasih ya pakde,”. “Selamat datang, mas dan mbak sekalian,”.

“Pak juragan, saya Arya kami dari stasiun TV lokal, ingin meliput dan mengetahui bagaimana kebun cendana bapak bisa menjadi objek wisata,”.

“Yang pertama, jangan panggil saya bapak atau juragan, pastinya mas dan mbak sekalian lebih tua dari saya,”.

“Baiklah mas, bagaimana awal cerita perkebunan cendana milik mas, bisa ramai wisatawan dari dalam negeri maupun luar negeri,”.

“Kalau itu, mengapa ramai wisatawan yang berkunjung ke sini, itu adalah berkat teman-teman dari para blogger yang menginformasikan keunikan wisata di perkebunan cendana ini, mereka para blogger juga membantu pelestarian tanaman cendana dengan cerita-cerita yang di tulis di blog mereka,”.

Obrolan semakin hangat, sore terasa panjang, bualan yang tertinggal di ruang tamu, berlanjut ke kebun cendana.

. . .

Sore kesekian kalinya, senja oranye masih menggantung. Bermain di kebun, adalah sebuah petualangan yang tidak membosankan. Berlayar dengan angin sore, bersama arungi keindahan hayati.

“Pak, bapak lagi apa,”.

“Bapak baru selesai menyemai bibit cendana,”.

“Pak, apa benar kebun ini mau di jual, aku gak mau pindah ke kota pak, aku takut,”.

“Bapak belum memutuskannya, kamu suka kebun ini?”

“Iya pak, yang paling aku suka, adalah bunga cendana, apalagi kalau angin menerbangkan kelopak cendana dan jatuh perlahan,”.

“Sini, bapak mau kasih tau kamu,”.

“Iya pak,”.

“Nak, kamu harus tau, kalau tanaman cendana ini adalah tanaman asli Indonesia yang awalnya berasal dari Nusa Tenggara Timur. Tapi seiring berkembangnya zaman, pohon cendana tidak lagi menjadi tanaman primadona,”.

“Maksudnya tanaman primadona pak?”

“Dulu Indonesia pernah terkenal karena hasil tanaman cendana ini nak, namun sekarang tanaman ini sedikit orang yang tau,”.

“Pak ajari aku merawat pohon cendana pak,”.

“Kamu akan mewarisi kebun ini, pasti bapak akan mengajiri semua hal yang bapak ketahui,”.

. . .

Layaknya brand ambasador, layaknya kurator, layaknya sales, aku berbual tak tentu arah, sekarang aku mirip sekali dengan bapak. Bercerita tanpa jedah, tentang keunikan pohon cendana. Bila dekat pohon cendana aku menjadi pribadi yang lain, menjauh dari kebun aku hening.

“Jadi di polibag ini adalah bibit – bibit cendana yang sedang di semai. Sebelum penyemaian diusahakan tanah gembur dan cukup asupan air setiap pagi dan sore. Perlu juga dipantau kondisi perkembangan biji saat masa penyemaian,”.

Reporter masih diam, aku tak bisa diam.

“Seperti tanaman biasanya, setelah kecambah mencapai 15 cm sudah bisa ditanam di lahan. Setelah tumbuh 3 meter bagian pucuk harus dipotong, agar tidak tumbuh terlalu tinggi namun kualitas cabang dapat dipelihara,”.

“Mas, saya lihat di rumah mas, banyak gallery cendana dari mulai kerajinan dari kayu cendana, aroma terapinya, dan banyak hal lainnya. Apa yang menjadikan pohon cendana ini favorit buat mas?”

“Bunga cendana. Menurutku itu adalah hal yang paling istimewah, apalagi melihatnya jatuh dituntun angin, membawa siluet kenangan lama,”.

“Dengan keberhasilan mas sekarang, dan usia yang terbilang muda, tentunya ada destinasi impian ingin mas kunjungi?”

“Jujur, saya tidak ingin pergi kemana-mana. Karena tiap sore, aku selalu berpetualang di kebun pohon cendana ini, hanya sekedar menikmati angin sore yang ramah,” angin itu menyapaku, “bukankah seindah dan sejauh tempat wisata, adalah destinasi yang membuat hati terasa damai dan nyaman, maka kita tau caranya bersyukur,”.

“Tepat sekali mas, terimakasih mas, atas wawancaranya, boleh ya kita main lagi ke kebun cendana mas,”.

“Oh iya, sama-sama, pasti. Kebun ini selalu terbuka untuk siapa saja yang ingin bersahabat dengan keindahan hayati,”.

. . .

Kelopak bunga cendana merebah di lantai bumi, aku pungut, entah kenapa senyum menyungging di raut wajah. Angin ini datang lagi, menyapa ramah sesiapa yang berada di kebun cendana. Aku pejamkan mata, imajinasiku lari, hening dan damai. Aroma cendana menemani keheningan.

Lagi – lagi aku berlari dalam kenang masa lalu, bersama ibu dan ayah.

-0-

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen “Awesome Journey” Diselenggarakan oleh Yayasan Kehati dan Nulisbuku.com.
Juga sekalian memenuhi koleksi tulisan flower anthology, semoga konsisten terus nulis cerpen tentang bunga.

Bougenvile

Langit membiru dan awan mendung sedang senyum, mengisyaratkan para ibu untuk memungut pakaian dari tiang jemuran. Lain ibu lain para anak, mendung disambut gembira seperti hari raya bertabur amplop merah. Sore itu langit dilahap mendung, menggelap hampir keseluruhan desa. Aku hanya tertahan di dalam rumah, mencari cara, menyiasati agar bisa keluar dari penjara. Lalu ikut menyambut merayakan hujan dengan teman sebaya. Di tengah hujan, menari tanpa ritme, berlari tak tentu arah, sampai hujan berhenti, dan telapak tangan mengeriput. Kenangan tertinggal disana, berjalan pulang dengan gigil dan bibir membiru. Pulang ke rumah dengan bangga, disambut teh panas buatan ibu dan tali pinggang ayah.

Beberapa orang di desa ini punya tradisi tersendiri menyambut kedatangan hujan. Walaupun hanya sekedar duduk di beranda sempit dengan sisa kopi pagi tadi yang masih pahit.

“Ayah, sudah mau hujan, gak masuk ke dalam rumah?” Tanya yang bercampur ajakan dari ambang pintu, yang menghubungkan dunia ayah di beranda dan dunia lainnya, mereka sebut rumah. Aku berdiri tepat di rongga pintu, mencoba mengerti beranda rumah dengan seksama. Aku masih mencoba, kemudian duduk tepat di sebelah ayah dan hanya meja kecil sebagai perantara penghubung kursiku dan kursinya. Ayah masih diam dengan tatapan penuh makna ke bunga kertas yang menjadi bingkai panorama bila terlihat dari sini.

“Kopinya mau aku tambah Ayah?” Tanyaku lagi berusaha mengusik pandangannya yang tidak mudah tergoyah. Kali ini tanpa suara, hanya pertanda mengangguk sekali dan aku tahu pasti artinya.

Dapur rumah yang hampir menyatu dengan ruang temu tamu terpisah oleh sekeping lemari lama, berdiri kaku. Terhiasi poto lelaki gagah bersama seorang perempuan dan tiga anak kecil lainnya 2 lelaki dan 1 perempuan. Bila dilihat dengan perhatian lebih, lelaki di poto ini menyerupaiku, mirip hampir keseluruhan, berdiri dengan gagah. Hanya lemari hias menjadi sekat, dan poto – poto lainnya di sana.

Panas air sudah pada derajat yang sesuai. Kopi mulai tidak sabar dicumbu air didih. Mug besi corak hijau menjadi wadah kopi dan air berkolaborasi. Sebelum memulai memanjakan kopi, awalnya aku rapikan mug besi dengan air panas. Ku tuang, memastikan tiap sisi tersirami dengan rapi, lalu air di mug besi terbuang dengan sengaja karena telah selesai tugasnya, merapikan mug sebagai wadah kopi nantinya.

Kopi sudah pada tempatnya, seduhan pertama di 30 detik awal, berkenalan dengan air panas. Aroma kopi mulai mengisi atmosfer rumah ini. Setelahnya biarkan air menyelesaikan kewajibannya, bercampur menjadi satu. Menubruk tiap remah – remah kopi.

“Mas, kita gak bisa begini terus, aku malu mas tiap sore siramin bunga, jadi bahan omongan tetangga” mungkin aroma kopi membangunkannya dari kesibukan rutin yang monoton, dan memilih mengusikku.

“Maksudnya apa sih dek, mas gak ngerti,” walaupun tanpa melihat ronanya aku tahu arah pembicaraan akan bermuara ke hilir yang mana.

“Kenapa sih Mas harus kamu, apa kamu gak mikirken anakmu ini nanti,” aku diam, sepertinya aku semakin mirip dengan ayah yang hobi mendiamkan orang sekitarnya.
“Mbakyu kamu itu, kenapa bukan dia saja,”.

“Dia kan harus mengurusin keluarganya loh dek, dan dia kan ada kerjaan disana, gak mungkin harus ditinggal, anaknya masih kecil,”.

“Lah aku juga sebentar lagi hamil besar, dan kamu kok bisa tinggalin kerjaan udah enak-enak di kota,” aku diam, kopi menonton kami dengan diam.
“Adek mu itu yang lajang, kenapa gak dia aja,”.
“Dan kenapa gak dimasukin panti aja sih mas,”.

“Jaga mulutmu! Mas udah bilang berkali-kali, jangan bahas ini, kamu gak bosen bahas ini terus,”. Aku pergi antarkan kopi yang hampir dingin, dan hatiku juga berusaha untuk mendingin dengan sendirinya.

“Aku capek mas, kamu lebih pilih ayahmu daripada istri dan anakmu,”.

Pasangan serasi segelas kopi dan goreng ubi hasil ladang sendiri. Kopi hangat dan goreng ubi yang masih panas adalah hiburan tersendiri di hujan yang masih merintik. Rintik kali ini cukup lama mengundang hujan datang. Atap rumah terlalu ramah menyambut datang hujan dengan lantunan bunyi kasar dari rintik hujan.

“Astaghfirullah, Ayah sedang apa?” Nampan ku letakkan di meja, sepertinya ayah terlalu sibuk untuk menjawab pertanyaanku. Atau simponi atap rumah terlalu nyaring, aku bergegas mendapati payung di balik pintu rumah.

Aku keluar beranda mengembangkan payung menghampiri ayah, dan langit sedang tidak cerah.

“Apa yang ayah lakukan dengan selang ini?” Aku memayunginya, mengikutinya yang masih sibuk dengan selang yang akan disatukan oleh keran air.

“Hari sudah sore, mereka belum disiram,” ibaku sudah membatu, sedih tak lagi senduh, yang ada abdi dan sabar.

“Tidak perlu Ayah, hari sebentar lagi hujan, biar alam yang menyiramnya,” hujan semakin ramai, ayah masih menyiram bunga kertas yang menaiki tiang, bersatu dengan atap.

Sekawanan hujan datang beberapa menit lalu, ayah menyirami bunga di tengah hujan yang jatuh. Bunga kertas kata mereka ada cerita di balik indah kelopaknya. Haruskah aku bersyukur terlahir sebagai suku jawa yang memiliki banyak tradisi? Atau aku harus bangga dengan pantangan yang terkadang mengekang. Mungkin aku yang sudah dilahap zaman akan menolak kebiasaan – kebiasaan lama. Satrio Wirang diungkit memiliki karakternya dalam bunga ini. Tidak mengerti dari mana berasal banyak juga versi cerita tentang satrio wirang, namun bunga ini kata mereka bersifat Satrio Wirang. Bila ditanam di depan rumah akan mengalami musibah yang memalukan.

“Ayah sudahlah, sampai kapan siram bunganya,” aku masih tetap memayunginya, dan ayah masih menyiramnya.

Akhirnya ayah puas menyirami bunga dan aku puas dengan kelakuan ayah. Hujan masih berjatuhan, kami kembali ke beranda.

Sore lainnya, sore yang bersahabat dengan senja, awan hampir jingga.

“Mas kamu gak pa pa,” seperti membaca raut wajahku yang penuh dengan dilema.

“Gak ada masalah, hanya saja aku terlalu banyak izin beberapa bulan belakangan ini, bosku gak terima, dan menghina ayah,”.

“Maaf mas, aku gak tau harus berbuat apa apa lagi,”.

“Yang penting ayah sudah pulang, karena sedikit di desa – desa ini yang menanam bunga bougenvile,”.

“Semenjak ibu meninggal, kebiasaan ayah lari dari rumah dan melihat bunga, aneh ya mas,”.

“Mungkin saja ada kenangan dengan bunga tersebut yang kita tidak ketahui,”.

“Bagaimana kalau kita tanam bunga bougenvile saja, agar ayah gak kabur lagi,”.

“Ide yang bagus,”.

“Mas tau gak?”

“Ada apa”

“Kamu akan menjadi seorang ayah,”.

Semesta hening, lalu mendadak riuh. Perasaanku pecah haru bahagia.

Ayah melanjutkan pandangannya, hanya ke bunga kertas itu. Sesekali menyeruput kopi. Aku hanya bisa memandangi cincin pernikahan yang sudah longgar, bahkan hampir goyah dari jari tangan. Sudah sekian kalinya, surat gugatan masih tersimpan di lemari. Di satu sisi aku punya keluarga, di sisi lain aku juga bagian dari keluarga. Pilihan yang sulit.

“Maafkan ayah,” ayah berucap tanpa ekspresi.

“Maksud ayah apa?”

“Ayah akan tinggal di panti,” tidak seperti biasanya, hari ini ayah berbicara dengan kesadarannya, atau apakah ini jawaban setiap do’aku. Inikah buah kesabaran itu.

“Benarkah ayah?” Ayah diam, mulai hening, tidak menjawab, hujan pun tak menjawab, hanya rintik, kini rintik.

Aku menelponnya, segera.

“Assalamu ‘alaikum”

“Wa’alaikum salam, didit. Ini ayah, ayah mau bicara dengan ibu.”

“Ini ayah ya, sebentar yaa” aku mendengar percakapan kecil di ujung talian “Kata ibu, bilang ke ayah, ibu lagi di luar, ayah apa kabar”.

“Alhamdulillah baik, didit?”

Semesta hening, lalu mendadak riuh. Perasaanku pecah haru bahagia.

– O –

Edelweis

Akhirnya aku di sini tanpa jeda.

-o-

Satu dari tujuh hari genap seminggu. Tidak tentu harinya, namun ada saja masa dimana aku menghabiskan waktu hanya mendengarkan cerita. Momentum pulang sekolah adalah hal paling istimewah kala itu, ketika bel bersuara nyaring hingga bising di seluruh sekolah. Seperti tanpa arah, semua berlarian keluar ruangan , aku pun ikut berlari tanpa sadar, berhenti, lalu diam. Setelah ritual berlari liar selalu saja aku pandangi halte bus dari situ; halaman sekolah yang tiap senin dijadikan lapak untuk menghening-cipta dan menaikkan bendera. Mereka menyebutnya upacara. Tapi dari arah pandangku, jarakku jelas terlihat lelaki itu tidak ada disana. Saat itu, aku lebih senang menunggu halte bercerita daripada jemputan ayah yang selalu telat.

Semua siswa sudah berhambus ditiup angin, ada yang diculik induknya, banyak juga yang mengambang mencari jalan pulang. Tinggal aku di halte bus terpacak kaku, entah apa dan siapa yang kutunggu disana. Hilang oleh angin, atau raib diculik atau mengambang setelah itu hilang dan raib.

Tapi aku senang bersahabat dengan halte bus itu, hampir tiap hari selalu suka menghabiskan waktu di sana. Walaupun panas leluasa menampakkan kuasa teriknya, atau hujan yang berlomba merengkuh bumi. Aku suka dari sana, pemandangannya damai.

Pernah ada di seberang jalan itu, tepat sejajar dengan halte bus ada pohon perindang jalan, peneduh sarang. Satu sarang burung yang masih aku ingat lekat dalam kenangan. Tapi esoknya sudah tidak ada lagi, mungkin mereka pindah karena kota sudah terlalu sesak. Hutan – hutan beton kota itu tidak lagi bersahabat dengan mereka. Hanya spesies kuat yang dapat bertahan oleh seleksi kota, dapat hidup dan berpenghidupan. Begitulah kata penghuni halte bus, tapi hari itu pakde tidak terlihat.

Pakde bukan orang terdekat namun cukup dekat baginya bercerita tentang dirinya, tentang keluhnya terhadap hutan – hutan beton, aku hanya pendengar yang banyak tanya siang itu. Anak kecil yang disuguhin hikayat, baginya seperti bercerita dengan dinding yang bergaung, menciptakan tanya dari setiap pernyataan.

Aku sangat ingat cerita terakhirnya, cerita yang membuat kami tidak bertemu lagi. Cerita yang membuat aku tidak bisa tidur dengan mimpi buruk. Kemana pakde, atau jangan – jangan dia menggembel di tempat lain, bisa jadi diangkut petugas tata kota karena tidur sembarangan di proyek taman buatan. Taman yang dibayar dari pajak penghuni hutan – hutan beton tadi, tapi sedikit pun tidak mencerminkan taman yang selalu aku lihat di imajinasiku seperti cerita pakde. Taman yang dibuat oleh Sang Maha Pencipta lebih dahsyat tutur pakde, ada pegunungan yang menggunung, ada rimba yang merimba, dan banyak lagi sampai aku tidak bisa membayangkannya kata pakde.

Walaupun kami jadi bahan tontonan orang yang berlalu di halte bus ketika pakde bercerita, kami masih tersesat di dalam panorama saat itu. Panorama buatan dari bualan pakde, menurut orang lain pakde adalah orang gila dengan beragam cerita gila. Banyak yang melirik kami, tidak ada yang menegur hanya melihat dan berlalu pergi. Seperti pameran yang dilihat tanpa disinggahi, sesekali berhenti untuk melihat lebih lama. Mungkin mereka tidak bisa menjamah kami, karena kami sudah hilang beberapa waktu ke taman bualan pakde. Bualan yang mahal.

Kalau saja pakde tidak terlalu skeptis, mungkin pakde bisa dibayar mahal seperti ayahku. Ayahku seorang pencerita namun tidak seorang petualang seperti pakde. Ayah dibayar mahal hanya bercerita kepada orang yang datang ke kantornya tentang apa yang mereka bisa lihat, mobil. Berbeda jauh dengan pakde, walaupun mereka sama tinggi.

Saat pelajaran bahasa, tugas yang menurutku gampang waktu itu, tapi seluruh kelas sampai tidak menyadarinya. Guru hanya menyuruh menulis pekerjaan masing – masing ayah kami. Ayahku seorang pencerita, bercerita tentang mobil kepada orang yang datang ke kantornya. Aku salah, Dan barulah aku tahu ternyata ayah bekerja sebagai salesman di kantornya kata ibu guru, yang menjual mobil kepada calon pembeli. Lalu, pakde apakah seorang salesman yang menjual alam? Pola pikir yang sangat jenius saat itu, dan aku tersenyum di sini.

Aku tidak tahu apa itu sepatu gunung atau sendal gunung, dan sekarang aku tahu pakde sudah memakainya lama sekali berkeliling kota. Aku juga tidak mau tau gembolan yang selalu dibawa pakde dan ternyata itu adalah sleeping bag. Apakah pakde seorang gembel atau pendaki gunung, atau pakde terlalu cinta dengan semaknya kota hingga tak sanggup meninggalkan kota. Aku pun tidak tahu.

Aku pun tidak tahu tentang keabadian yang dibicarakan oleh pakde, itulah cerita terakhirnya sampai dia tidak aku temukan lagi. Sialnya, dia berhasil mempengaruhiku dengan cerita terakhirnya. Bukan sekedar bunga tapi sebuah keabadian yang selalu tertanam diingatannya. Bodohnya aku terobsesi dari seorang lelaki tua yang hanya aku kenal sebagai pakde. Menghabiskan waktu kerja dan gajiku hanya untuk melampiaskannya demi pencarian sensasi sama seperti pakde. Walaupun hanya mencium aroma keabadian agar aku dapat mengenang apa yang dikenangnya, dan merasakan apa yang pernah dirasakannya.

Siang itu dia memberikan dahan kecil, dan bercerita tentang bunga yang sudah hilang tapi masih tertinggal dan terkenang di hati.

“Kamu tau, setiap pencarian manusia pasti akan menemukan titik jenuh bila mereka tau arti bersyukur, dek,”. Pakde menjelaskan tentang dahan atau menjelaskan tentang manusia, karena saat bercerita pakde memegang dahan tersebut. Dan ternyata baru aku tahu sekarang apa yang di maksud pakde. Aku hanya menatap binar penuh tanda tanya dan juga harap ke arah dahan kecil tersebut.

“Walaupun ini hanya dahan kecil, tapi kenangan ini sangat berarti walaupun dia tidak pernah menjadi bukde,”. Ini yang membuat aku saat itu mengidolakan pakde, setiap kata – kata yang ia katakan aku sama sekali tidak mengerti. Tapi aku suka, diam – diam kucatat di buku pelajaran yang sekarang sudah di daur ulang mungkin.

“Janji sepakat yang kami buat mungkin tertinggal di sana dengan beribu jedah. Tapi janji yang kita buat bersama pemilik semesta akan pasti datangnya, mengalahkan janji antara manusia,”. Lagi – lagi pakde sangat bersemangat seperti biasa, sampai – sampai aku tidak mengerti apa yang disampaikannya. Mungkin aku harus sekolah lebih tinggi agar mengerti bahasa, dan aku mengerti sekarang.

“Ini untukmu, apa pun harapanmu tumbuhlah dewasa,”. Pakde menyerahkan dahan kecil ini, dahan yang aku pegang sekarang, dan dengan polosnya aku bertanya tentang dahan ini. Kepolosan yang banyak tanya, dan itu membuat pakde tergelak.

“Ini dahan bunga edelweiss, pakde lupa dari alun – alun Surya Kencana, atau Mandalawangi.” Pakde berdehem sejenak, dan melanjutkan bingungnya, “mungkin Tegal Alun atau dari Plawangan Sembalun, Pakde lupa,”.

Pikirku nama toko bunga, banyak juga toko bunga di kota ini, apa karena bunga tidak bisa tumbuh secara liar lagi sehingga banyak toko yang menanamnya. Aku salah, bukan nama toko bunga, bukan nama orang, bukan nama jalan, tapi nama sebuah tempat. Pencarianku di mulai, dari sana.

“Sebelum pakde dan bukde menyelesaikan tempat yang ke lima, pemilik Semesta sudah menagih janji bukde, bukde pergi. Sebelum sah sebagai bukde,”.

Aku ingat jawaban anak kecil ini, “Pergi kemana pakdae? Pakde gak menyusul bukde?” Pakde tersenyum.

“Jadilah dewasa, dan lihatlah dunia, pasti kamu akan tahu eksistensi manusia hanya sebagai hamba,”. Sebelum aku bertanya, pakde sudah pergi dan meninggalkan dahannya. Seperti biasa, pakde seperti kartun serial ninja yang selalu aku tonton sebelum pergi sekolah. Datang tanpa sebab pulang tanpa akibat. Hilang.

Saat dahan ini ditinggalkan pakde, aku selalu terbayang – bayang seperti apa rupa bunga tersebut. Membuatku tidak bisa tidur, karena malam itu sangat gerah dan kebetulan mendadak banyak nyamuk. Akhirnya malam itu juga aku membuat janji, akan mencari tahu bunga ini. Tapi besok paginya, ritual seperti biasa makan nasi telur mata sapi sambil menonton serial kartun ninja. Dan lupa akan janji malam tadi.

-o-

Berlin Schönefeld Airport – Germany

Akhirnya aku di sini tanpa jedah. Demi apa, aku pun tak pasti. Banyak alasan terkait untuk menjawabnya. Cerita menarik untuk diceritakan anak cucu. Masih ku pandangi dahan pemberian pakde bertahun dulu. Hampir seperti partner traveling, dahan ini selalu bisa menentramkan hati. Saat di Gunung Rinjani, Pangrango, Gede dan Papandayan, selalu berhasil menciptakan suasana damai. Sangat indah, aku jadi tahu kenangan yang selalu pakde ceritakan dulu, kenangan yang abadi di ingatannya.

“Excuse me, where can i get a taxi,”. Seorang wanita bertanya dengan logat inggris yang aku kenal.

“Sorry, i’m a traveler here,”.

“Ow Sorry,”.

“Gak pa pa,”.

“What?”

“I mean, no problemo,”.

“Kamu Indonesia? Saya Indonesia juga,”.

“Iya, Apa yang membawamu ke sini,”.

“Kalau saya bilang berkunjung ke rumah Paman kamu akan percaya?”

“Mungkin,”.

“Kamu sendiri, apa yang membawamu ke Berlin,”.

“Pasti kamu tidak akan percaya dengan cerita saya,”.

“Ok, make me trust you,”.

“Ehm, aku tidak yakin aku bisa. My story is too long to tell,”.

“I have a long time,”.

Di kata terakhir kami senyap seketika, lalu senyum seakan mengenal lama bahkan kami belum bertukar nama.

-end-

Tulip

Kira-kira sepuluh jam yang lalu sebuah nomor tak dikenal menghubungiku. Sore itu.

Nomor ini lagi, siapa sih. Masih ada aja ya nelpon gak jelas di zaman yang canggih ini. Tapi sepertinya bukan dari Indonesia.

Benakku mencibir layar smartphone di tengah malam. Aku mengabaikannya dari sepuluh jam yang lalu. Aku tidak terpikir untuk mengangkat nomor tidak dikenal ini. Tapi tidak tahu apa yang menghasutku, sehingga panggilan kali ini aku mengangkatnya.

“Iya . . . ,” .

Di ujung pertalian hanya terdengar suara angin, ruanganku yang kurang pencahayaan menjadikan bulu tengkuk bergidik, tempat tidurku semakin dingin.

“Haloooo, jangan main-main ya, siapa ini,” .

Masih sama, hanya terdengar suara angin. Mungkin angin yang keluar masuk di pernafasannya atau angin yang berhembus di malam ini. Aku yakin orang di ujung pertalian telpon ini sedang menakutiku.

Aku tidak menutup telponnya, hanya membiarkan smartphoneku tergeletak di tempat tidur. Laptop yang ternyala dari tadi dengan lantunan lagu sendu, aku ganti dengan lagu beat keras, dengan niat menghilangkan ketakutanku. Lalu melanjutkan aktifitas yang termulai sejak beberapa menit yang lalu. Membaca beberapa blog favoritku, salah satunya imaji kata.

Tempat berpulangnya kata.

Tempat bermulanya kita.

Mengabaikan telpon dari orang yang tidak aku kenal tersebut, hanya membiarkannya menyala. Sesekali aku alihkan pandangan ke smartphone, masih saja berjalan durasi panggilan tersebut. Sudah lama detik menjadi menit berganti jam. Hampir 1 jam panggilan itu tidak tertutup. Aku mengabaikannya dengan bulu tengkuk kembali bergidik.

Sudah cukup untuk hari ini menurutku, aku harus tidur memejamkan ketakutan. Semakin larut malam, akan semakin telat aku bangun di hari minggu. Hari libur menanti.

Tempat berpulangnya kata. 

Matahari sudah meninggi, cahayanya masuk melalui jendela kamar koskosanku. Hangat dan bersahaja. Jam dinding tersenyum karena aku telat bangun di hari libur. 10:10 WIB. Tidak biasanya aku bangun telat di hari libur, aku langsung mengutuk penelpon bodoh yang menggangguku. Masih dalam keadaan badan terbangun dari tidur, aku mencari smartphoneku di tempat tidur. Setelah mengacak selimut, aku menemukannya di bawah bantal. Dalam keadaan padam.

Perlu dihidupkan kembali, tidak sesulit mencari smartphone di tumpukan bantal, aku langsung mendapati kabel charger di serakan benda – benda di meja kecil sebelah kanan tempat tidur. Aku tinggalkan smartphone keadaan terhubung dengan daya listrik. Berlalu pergi ke kamar mandi. Tidak seperti hari biasa yang selalu antri hanya untuk mandi, hari libur anak kos lainnya, memilih untuk tidak mandi dan tidur sampai pagi bertemu dengan sore. Atau mereka sekedar bermalas – malasan. Semua orang punya cara tersendiri untuk menghabiskan hari libur. Kalau aku mengawalinya dengan mandi pagi.

Setelah mandi, aku langsung mengambil smartphone melihat – lihat adakah notifikasi disana. Hanya satu pesan singkat yang ada. Tidak langsung membuka pesan singkat aku membiarkannya tergeletak kembali di atas meja kecil. Aku takut terlalu bersemangat membaca pesan singkat tersebut, yang ada malah sms pemberitahuan pulsa habis. Kadang itu membuatku merasa sedih.

Sms yang aku harapkan dari teman kuliah, mengajak hang out atau hanya sekedar berbalas pesan. Yang ada dari operator mengingatkan pulsa dalam keadaan kritis. Tapi bagaimana bisa dapat sms dari teman, karena temanku terhitung dengan jari. Bukan aku tidak mau bergaul tapi hanya saja aku takut untuk berteman. Sudahlah hanya cerita lama yang seharusnya tidak aku ingat.

Seperti minggu – minggu biasanya, aku menghabiskannya dengan kertas origami. Melipat kenangan lama dan menjadikannya dalam bentuk yang baru. Itu mengapa aku menyukai seni melipat kertas ini. Sudah lama sekali aku tidak melipat kertas ini menjadi tulip. Tulip kertas. Mungkin satu, atau dua, atau beberapa tulip kertas untuk hari ini. Tak sempat tulip ke tiga aku merasa bosan. Sepertinya sudah waktunya untuk bermain dengan smartphone. Getrich atau permainan bodoh lainnya untuk menghilangkan kebosanan. Tapi sebelumnya aku harus melihat pesan dari siapa yang masuk tadi, walaupun tebakanku pesan tersebut dari operator seluler.

+31xxxxx

Masih hobi melipat kertas? 03:00AM

“Nomor ini?” . Aku mendadak terkejut, pesan singkat ini bukan dari operator seluler. Nomor ini, nomor kemarin malam.

Aku langsung melihat data panggilan masuk, untuk memastikan apakah benar nomor tersebut adalah nomor kemarin malam. Menelponku tanpa suara, hanya terdengar hembusan angin seperti orang sedang bernafas. Dan setelah melihat ternyata ini benar nomor kemarin malam. Durasi panggilan hampir 2 jam lebih.

Kata yang singkat dan berhasil membuatku terheran. Namun siapa?

Tempat bermulanya kita.

Aku teringat teman lama, lama sekali. Dan dia menghilang begitu saja setelahnya, itulah yang membuatku masih ragu menjalin pertemanan lebih dekat, sedekat itu. Tidak ada lagi. Aku lupa namanya yang aku ingat, kami berdua menyukai bunga tulip. Apakah benar bunga tulip adalah lambang dari kesempurnaan cinta dan kasih sayang.

Saat itu, umur kami tidak berbeda jauh, yang jelas tidak sampai 10 tahun. Rumah kami bersebelahan, rumahku di kiri dan rumahnya di kanan. Hanya pagar yang membatasi rumah kami. Pagar yang selalu berhasil dia lompati. Aku masih ingat permulaan itu.

Hei, kamu lagi apa?”. Aku hanya diam, memperhatikan senyum bergigi ompongnya. Aku tak membalas senyumnya, kemudian melanjutkan kembali lipatan origami.

Aku tidak tahu bagaimana dia menaiki pagar tersebut, tiba – tiba dia sudah ada saja di sebelahku. Dengan senyum ompongnya, sekali lagi dilayangkan kepadaku yang lagi sibuk belajar melipat kertas origami kala itu.

“Aku ikut melipat kertas ya, “. Tanyanya, tanpa aku jawab dia sudah mengambil lembaran kertas origami di tangannya. Aku hanya diam.

Sebentar kami tidak ada kata, hanya sibuk melipat kertas. Aku dengan kertasku dan dia dengan kertasnya yang aslinya adalah kertasku. Lipatan demi lipatan mengapa terasa sulit sekali saat itu. Mungkin karena ayah dan ibu mengganggu konsentrasi kami.

Ayah dan ibu sering sekali bersuara tinggi saat sedang mengobrol, aku saat itu tidak tahu apa yang menjadi bahan obrolan mereka. Hanya kata cerai yang aku ingat saat itu, apakah kata ini membuat semua orang dewasa menjadi gila. Sampai melempar piring, menangis, dan penyebab ayah tidur di sofa. Namun sekarang aku tahu arti kata itu.

“Kamu hebat ya, bisa betah di rumah dengan ayah dan ibu seperti itu, ” ucapnya saat mendengar teriakan ibu saat itu, mungkin ayah hanya diam menonton tv seperti biasa, aku masih melipat kertas.

“Maksudmu, ” aku menjawabnya tanpa berhenti melipat kertas origami saat itu. Sudah berapa kertas yang kami habiskan, tapi tidak juga menjadi sebuah bentuk utuh.

“Aku saja, keluar rumah karena tidak tahan dengan omelan ibu, kamu hebat ayah ibu kamu lagi bertengkar, kamu bermain origami, ” jawabnya sambil mengerjakan lipatan kertas tersebut.

“Ayah ibuku tidak bertengkar, meraka hanya mengobrol seperti biasa, ” aku malu sendiri atas jawabanku yang bodoh saat itu, mengapa bisa aku menjawab seperti itu.

“Baiklah, namaku Devi, “.

“Ehm, namaku Tania, “.

Lihat ini, Tan, ” sambil menunjukkan kertas origami yang sudah berwujud.

“Kamu hebat Devi, aku belum bisa membuatnya, “.

“Tapi ini apa ya? “.

“Ini bunga Tulip, bunga Tulip ini sangat indah, aku melihatnya di majalah ibu , “.

“Benarkah? “.

“Bunga Tulip ini banyak di Belanda, ada warna merah, kuning, dan banyak lagi, “.

“Belanda dimana ya Tan? “.

“Gak tahu, tapi aku mahu kesana suatu hari, melihat langsung keindahan bunga Tulip, “.

“Baiklah, kita akan bertemu disana ya suatu hari, “.

Pertemanan aku dan Devi terbilang singkat, tapi kami selalu menghabiskan waktu akhir pekan di teras belakang rumahku. Bercerita tentang masa depan, dia ingin memiliki keluarga yang besar, dan akan menikahi seorang lelaki yang bisa membuatnya bahagia. Lalu aku bertanya apa arti menikah, aku tidak tahu saat itu, Devi tahu banyak tentang urusan orang dewasa di umurnya yang terbilang belia saat itu.

Pertama telpon, lalu sms, itu sudah cukup untuk membawa kembali kenangan teman lamaku. Teman yang tiba – tiba hilang, karena dia pindah rumah ke daerah yang aku pun tidak mengetahuinya.

Telpon ini berdering lagi, dengan nomor yang sama, dan aku mengangkatnya dengan berharap, tapi harapan itu sebuah kemungkinan kecil. Darimana juga Devi mengetahui nomorku.

“Tania, “.

“Iya, ini siapa, “.

“Alhamdulillah, dari kemarin aku mencoba menghubungimu, tapi nomormu selalu sibuk, tiba-tiba kamu angkat, seperti ada gangguang operator handphonemu, “.

“Ini, siapa? “.

“Ini aku Devi, ingat tidak? “.

“Bagaimana aku bisa lupa dengan Devi yang selalu melompat pagar tetangganya, eh darimana kamu tau nomorku, “.

“Tidak penting Tania, kamu harus datang ya ke Belanda bulan depan aku nikah, “.

“Serius, di Belanda? dengan orang Belanda? “.

“Iya serius tapi bukan dengan warga Belanda, warga Indonesia kok, tenang saja, semua akomodasi aku yang tanggung, “.

“Tapi, “.

“Tidak ada kata tapi, kamu harus datang, “.

“Ehm, baiklah, “.

“Ok bye, nanti aku telpon lagi ya, “.

“Congratulation Devi, “.

“Makasih Tania, “.

Aku bahagia mendengar kabar tersebut, minggu yang cerah pikirku, aku pandangi tulip kertas ini, sesekali tersenyum. Tidak sabar melihat Devi dengan gaun pengantinnya.

-0-

Storiette ini didedikasikan untuk sahabat team relawan Sinabung, dan diikut-sertakan tantangan menulis dari mandewi.com. Thanks juga buat pemilik tumblr imaji kata, yang udah nantangin nulis cerpen ini.

 

 

Lilac

Rana melihat ke arah bunga Lilac yang dibelinya barusan, kebahagiaan menyesak dari mulai dashboard mobil sampai bagian terbelakang mobilnya. Bunga terbaring disebelahnya, tergolek indah di kursi mobil. Sesekali lampu merah memberhentikannya di perempatan, Rana menyunggingkan senyumnya sebab melihat bunga Lilac.

-o-

Cerahnya siang bercahayakan semangat pagi menyudut sinarnya di salah satu kawasan kota yang terbilang pusat keramaian. Sebuah cerita membesar dari omongan khalayak sekitar bahkan luar kota, bersamaan tumbuh kembangnya toko bunga dipersatuan jalan tersebut. Disini sebuah toko berdiri di apit gedung – gedung tinggi. Tidak seperti toko bunga lainnya berplang merek megah dan menyilaukan mata, bunga – bunga di toko ini hanya berjajar rapi menunggu pelaku romansa menyembangi mereka. Tanpa nama toko, tanpa plang merek

Namun bunga disini disebut – sebut sebagai bunga suci, bahkan ada yang mengatakan bunga disini adalah bunga yang dipetik dari kebun aphrodite. Dewi cinta. Tapi tidak sedikit juga yang mengutuk, bunga keramat kata mereka. Rose, tulip, aster dan banyak lagi dituding sebagai bunga keramat. Semua kabar yang beterbangan bersama burung di udara menjadi kisah tersendiri mempengaruhi pangsa pasar toko bunga tersebut.

“Selamat siang, cari bunga apa mas,” senyum bertabur jelas dari juru jual di toko itu menyambut Rana.

“Saya tidak tahu bunga seperti apa yang disukai wanita, bisa kasih masukan,” Rana membelakangi dan meninggalkan juru jual, masuk kedalam toko untuk melihat sederetan bunga terpajang rapi disana – sini.

“Maaf sebelumnya mas, apakah bunga ini untuk seseorang spesial dalam hidup mas?” Juru jual berhenti dari langkahnya mengikuti arah jalan Rana yang membelakanginya.

“Iya, untuk wanita spesial di hari yang spesial.” Tanpa menoleh sedikit pun, mata Rana masih sibuk jelalatan akan keindahan bunga – bunga itu.

“Apakah untuk pacar, Mas?” Juru jual mulai segan menanyakan hal pribadi menurutnya kepada calon pembelinya.

“Iya untuk pacar, yang mana ya mbak kira – kira?” Rana mulai membayangkan seseorang yang disayanginya menerima bunga pemberiannya, tergambar wajah pacarnya bahagia menerima bunga pemberiannya tersebut.

Maaf mas, saya tidak bisa memberi masukan, bila bunga yang mas beli untuk pacar mas,” Rana terkejut dengan perkataan juru jual tersebut, dan mulai melihat ke arahnya.

“Maksudnya? Tidak bisa memberi masukan karena bunga ini untuk pacar saya,” Rana mulai merasa ada yang aneh disini, namun Rana mencoba untuk tenang.

“Mas yang paling mengenal pacar masnya, jadi mas pasti tahu bunga mana yang sesuai untuk pacar masnya,” juru jual mulai memaksa senyumnya untuk menjernihkan kekakuan karena mengetahui bunga tersebut untuk pacarnya.

“Saya pilih yang ini saja, warnanya ungu dan pink,” Rana beranjak melihat sekeliling sembari menunggu bunga pilihannya terangkai.

“Terimakasih mas sudah mau menunggu, semuanya 50.000 rupiah,” setelah terangkai, juru jual tersebut menjadi kasir merangkap karena minggu adalah hari off untuk pekerjanya.

“Terimakasih, mbak,” setelah Rana barter bunga dengan uangnya, Rana melaju pergi ke arah kendaraan yang terparkir sejak tadi di depan toko tersebut.

“Sama sama, semoga pacar mas senang dengan pemberian masnya,” dalam hati terdalamnya dia tahu makna bunga pilihan Rana dan mendoakan semoga tidak ada masalah pada hubungan Rana.

Rose bermakna mengutarakan cinta, daisy berarti cinta dan kesetiaan, Tulip adalah cinta yang sempurna, Lily melambangkan kecantikan, Lilac cinta yang dipertanyakan. Setiap bunga memiliki pilosofi masing – masing, mungkin ini yang menjadi kekhawatiran juru jual terhadap bunga pilihan Rana.

-o-

“Apa seharusnya aku menelponnya ajak dia ketemuan, sepertinya tidak perlu aku kerumahnya saja,” di mobilnya, Rana bercelaru dengan kebahagiaan, terbayang olehnya wanita pasangannya.

Smartphone milik Rana bergetar, suara vokalis band punk rock asal Jepang Flying High by Good4Nothing, menjadikan nada pesanan singkat membuyarkan lamunannya di perempatan lalu lintas.

“Sms dari Alfi, kamu dimana boring nih, ngafe yuk” pesan singkat cukup mengutarakan isi hati pacarnya, boring bukan makna sebenarnya lebih tepatnya rindu kepada Rana.

Dimana fi, gimana di tempat biasa? Ok sent. Astaga ada polisi, hampir dia liat aku nyetir sambil main smartphone, bisa kena tilang nih,” Rana tau setiap agenda ngafe, alfi tidak banyak permintaan ingin pergi ke cafe mana.

Di cafe yang mau arah ke sekolah aja,  ketemu disana. Tidak seperti biasanya Alfi seperti ini,” di kepala Rana mulai mempertanyakan keganjilan sms yang di terimanya dari pacarnya, tapi Rana tidak mempersoalkannya.

Ok, ketemu disana dua jam lagi ya sayang.” Rana mengirimkan pesan terakhirnya dengan rasa kebingungan yang menyeruak keluar, namun bingung itu terkalahkan oleh bunga yang tertidur di kursi mobil sebelahnya.

Ok, sayang” pesan balasan penutup dari Alfi, Rana membacanya setelah itu melihat ke arah bunga Lilac tersebut.

-o-

Rana bersetubuh dengan waktu sejak setengah jam lalu, ditunggunya Alfi yang tidak ada kabar sedari tadi. Pesan singkat, telpon, dan berbagai jejaring pesanan dicoba Rana untuk mencari tau, tapi tidak ada kabar kejelasan Alfi sekarang ini. Kekhawatiran Rana menyelimuti meja cafe itu, bahkan ice tea pun tak sedingin setengah jam tadi. Smartphone mulai lelah dan hanya tiduran santai di meja cafe, lalu setelah itu deringan nada panggil mengusik rebahan santai smartphonenya.

Unknown Number? Siapa ini. Halo” Rana berharap panggilan tersebut dari Alfi, namun tidak.

“Kamu tidak perlu tahu siapa aku, Alfi ada bersamaku bila kau tidak ingin sesuatu terjadi dengan Alfi, datang sendiri ke sekolah, jangan mencoba untuk menghubungi polisi,” perasaan Rana mulai teraduk dalam satu wadah, emosinya meluap. Bukan kabar seperti ini yang ditunggu Rana.

“Hei BODOH, kau kira kau siapa bisa mempermainkan aku,” Rana tidak mempercayai panggilan tersebut, malah membentak seseorang yang jauh di talian panggilan disana.

“Heee,” suara terdengar seperti senyum sinis diujung sana, mematikan panggilan singkat yang berhasil membuat Rana panik.

“Sial dimatikannya,” Rana berdiam setelah itu, tidak tahu berbuat apa kemudian Line menambah kepanikannya. Seseorang mengirimkannya Video ke pesanan Line, tanpa nama profil. Didalamnya terekam jelas, Alfi dalam keadaan terikat di kursi dan sebuah kain menutup mulutnya. Setelah rekaman tersebut text tertulis

-bila ingin alfi selamat, datanglah sendiri ke sekolah, seberapa besar pengorbananmu di hari jadi kalian-

“Tai, siapa orang ini,” sumpah serapah terkeluar dari Rana, yang bergegas pergi ke sekolah.

Rana sesampainya di sekolah, dia tidak tahu tepatnya Alfi disekap. Namun tiba-tiba smartphone menjawab ketidaktahuannya.

-selamat datang dipermainanku
-disini aku yang pegang kendali
-aku bisa melihatmu sendiri dari sini
-jika aku menjadi kamu, aku akan ke ruang komputer bukan pergi ke tangga untuk menaikinya dan bertemu pacarmu
-teet

“Sial dia mematikan panggilan tanpa aku sempat mengatakan sesuatu” Rana tidak bisa berpikir jernih, dia memilih pergi ke tangga untuk datang menjemput Alfi.

-o-

Sesampainya di tangga, Rana mendapati tangga menuju ke atas terkunci dengan gembok kombinasi bernomor. Dan lagi smartphonenya berbunyi dari seseorang yang tidak lain adalah penculik Alfi.

-aku bisa melihatmu dari sini, bahwa kau memilih menaiki tangga
-apa mau, sialan
-hahaha apa mauku, aku mau kau tersiksa melihat kematian pacarmu
-sedikit saja kau sentuh dia, kau akan aku ku bunuh
-huu aku takut, hahaha buktikan kalau kau bisa, aku rasa kaulah yang takut disini,
-teet

“Kurang ajar, dia menguji kesabaranku, tidak aku maafkan,” pesanan Line berbunyi saat sumpah serapah terkeluar dari sebegitu kesalnya
Gambar sebuah meja, disuatu tempat di sekolah ini namun Rana melihatnya saat dia berlari ke arah Tangga tadi. Diikuti dengan pesan suara.

“Kalau aku jadi kau, aku memilih hidup dengan hina namun bisa bertemu dengan seseorang. Sent video bila kau sudah melakukannya”

“Apa maksudnya, tapi yang terpenting aku cari meja di gambar ini terlebih dahulu,”.

-o-

“Sama persis, ini mejanya” Rana mengecek meja tersebut saat dibukanya laci didapatinya sebuah jarum suntik tidak pasti berisi cairan apa dan tripod handphone serta sebuah kertas bertuliskan

-untuk bertemu seseorang yang dicintai sebanding dengan memilih menjadi pengidap HIV-

Rana mulai mengerti permainan yang menyudutkannya, bila Rana tidak menyuntikan cairan berwarna jernih kekuningan ke tubuhnya dia tidak mendapatkan angka kombinasi untuk membuka tangga.
Dengan nafas terengah Rana membulatkan tekad untuk memasukan batangan besi bersilinder ke lengan kirinya yang sebelumnya mencagakkan smartphone untuk merekam video yang akan di kirimnya. Setelah dikirim Rana mendapatkan telpon.

apa kau sudah mengecek keseluruhan meja di setiap sisinya
-apa maumu sebenarnya
-aku tidak menyuruhmu untuk bicara, disini aku yang pegang kendali
-setiap benda memiliki sisi atas dan bawah, samping kanan dan kiri.
-teeet

“Bagian bawah meja?” Rana langsung melihat bagian bawah dan mengambil kertas yang melekat di bawah meja.

_ _ 1 3

“Sekarang apa lagi, dua digit angka harus aku cari kemana,” berjalan Rana ke arah tangga menemukan kebuntuan, tapi langsung terpikirnya pilihan kedua saat pertama kali si penculik memulai permainan ini dan beranjak pergi kesana. Ruang komputer.

-o-

“Aku harus mulai dari mana, setiap sisi sudah aku lihat tidak ada petunjuk angka kombinasi disini,” Rana mulai putus asa, lalu pesan singkat masuk ke smartphonenya.

-jika aku jadi kau,  aku berpikir tidak semua siswa bisa menggunakan komputer

“Apa lagi ini, di situasi seperti ini nyawa Alfi dipertaruhkan, aku tidak bisa berpikir dengan jernih selama Alfi dalam bahaya,” Rana sangat mengkhawatirkan Alfi, dia mulai frustasi duduk di lantai bersandarkan dinding dan hanya melihat galery album foto di smartphonenya, dia menangis melihat senyum Alfi di setiap foto. Lalu saat Rana memalingkan senduhannya di antara barisan komputer, Rana membaca ulang pesan singkatnya.

“Jumlah komputer, mengapa aku tidak memikirkannya,” menghitung satu persatu komputer tersebut.

2 1 1 3

Langsung Rana berlari menuju tangga, dimasukannya satu persatu digit angka tapi tidak juga bisa terbuka.

-Sepertinya kau sudah menemukan semua kombinasi angkanya
-Aku sudah melakukan semua permainan sampahmu, kombinasi ini tidak bisa terbuka, dasar sialan dimana Alfi
-hahaha, dengarkan baik – baik, dahulu adalah dahulu, sekarang adalah sekarang, begitu juga ruangan komputer itu
-teet

“Akhh…..”

-o-

“Maksudnya dia apa, dulu dan sekarang,” Rana mulai bingung dan berpikir maksud yang disampaikan penculik, lalu tersirat dalam kenangnya.

Apakah maksud dia, bantuan komputer dari pemerintah 3 tahun yang lalu,” perasaan yang ganjil merasukinya, “darimana dia tahu tentang bantuan komputer itu, aku yakin dia pasti seseorang yang mengenal betul akan sekolah ini, bisa jadi dia siswa disini” pengandaian tak bersebab hanya dugaan yang bersanding di benaknya.

“Kalau begitu, jumlah komputer di ruang komputer bukan 21 melainkan 7” langsung Rana mengganti angka kombinasi, yang semula frustasi karena dipermainkan oleh penculik.

0 7 1 3

Kombinasi yang mengunci jeruji besi sebagai sebuah portal menaiki tangga lantai atas, akhirnya terbuka dan Rana bergegas berlari tak tentu arah menyingkapi setiap kelas hanya kursi kosong sejajar rapi yang dia temui. Nafasnya terus berlari sesak apakah mungkin daya tahannya melemah karena suntikan beberapa menit yang lalu. Demi menyelamatkan Alfi dia rela menyuntikan cairan yang tidak diketahuinya mungkin dapat menggerogoti sisa umurnya.

Dalam pencariannya menemukan Alfi, Rana merasa bahwa seseorang yang menyekap Alfi pasti orang yang Rana kenal dan juga mengenal baik tentang Alfi. Masih membingungkan Rana siapa seseorang tersebut, hanya ada satu nama siswa yang menjadi sebuah batu yang mengganjalnya

-o-

Mereka menyemak di depan ruang komputer, menunggu giliran mempelajari praktik komputer. Komputer menjadi salah satu barang istimewah di sini dan tidak semua sekolah memiliki lab komputer, hanya kebijakan sekolah yang membelanjakan kasnya untuk memfasilitasi komputer dimana saat itu pelajaran IT belum masuk dalam daftar kurikulum masih bersifat pengembangan diri masa itu.

“Siapa? tebak,” seseorang menghampiri Rana dari arah belakang, menutup matanya.

“Siapa lagi kalau bukan wanitaku,” Rana menarik tangan Alfi dari wajahnya.

“Kamu sudah selesai praktik komputernya Fi,” Rana bertanya kepada Alfi yang sejak tadi menunggu giliran praktik.

“Sudah, giliran kamu tuh, masuk lab sana,” Alfi menyuruh Rana masuk.

“Gak ah, aku ama kamu aja disini Fi” Rana malah bolos untuk sekian kalinya, demi berduaan dengan Alfi.

“Dasar kamu, bilang aja kamu kangen ama aku kan,” Rana hanya membalas dengan senyum sipu, akhirnya mereka berdua berlontar kata menjadi satu kesatuan romansa hampir satu, dua, bahkan tiga belas menit sudah terlewati.

“Rana, tau gak? Orang tua Jeri ke sekolah hari ini”

“Terus kenapa?”

Dengar – dengar sih, Jeri hilang dan kabur dari rumah”

“Terus kamu peduli,”

“Kamu kok gitu, dia kan teman kita, seharusnya kita harus peduli”

“Kamu saja yang peduli, aku gak”

“Kamu kenapa sih membenci Jeri”

“Jangan tanya kenapa deh, Jeri itu kan mantan kamu, jawab aja sendiri,”

“Kamu cemburu yaa,”

“Cemburu, sebagai pacar iya aku cemburu, sebagai teman aku gak peduli dengan Jeri,”

“Maaf deh lelakiku,”

“Alfi, aku mau masuk kelas,”

“Ow, yasudah. Bukannya kelas praktik hanya beberapa menit lagi”

-o-

Rana semakin terpenuhi amarah, karena Rana tahu bagaimana gilanya Jeri. Jeri akan melakukan apa saja untuk mengambil Alfi kembali.

“Sial, dimana dia menyekap Alfi,” Rana mulai tidak bisa mengontrol amarahnya, namun Rana langsung melihat poto Alfi yang dikirimkan sedari tadi. Poto yang mengubah hari istimewah mereka berdua. Berharap Rana dengan melihat poto Alfi yang terikat menambah kekuatannya untuk mencari Alfi.

“Poto ini, aku tahu dimana ini, dan ada yang aneh dengan poto ini” Rana langsung bergegas ke tempat yang dikenalnya.

-0-

  –  bink –
Saat penculik sedang mengirimkan pesan singkat kepada Rana, tiba tiba ringtone tersebut muncul dari arah belakang penculik tersebut.

“Permainan sudah berakhir, dimana Alfi” Rana masih berpikir bahwa penculik tersebut adalah Jeri.

“Hahaha, aku sudah menyekap Alfi di suatu tempat,” penculik tersebut terkejut bagaimana Rana menemukan ruang sekap tersebut. “Kau tidak pantas memilikinya Rana, hanya aku yang pantas memilikinya, karena aku mencintainya.”

“Jangan anggap, aku tidak mengenalmu karena hoodie dan topeng yang menutupi identitasmu,” Rana semakin yakin bahwa penculik tersebut adalah Jeri. Rana melihat pisau yang berada di genggaman tangan penculik tersebut, namun bukan pisau yang menjadi fokusnya melainkan sesuatu di pergelangan tangannya yang mengintip dari selah lengan hoodie penculik.

“Alfi dalam bahaya saat ini, aku meletakkan ribuan karet gelang di lehernya, kau harus menemukannya kalau kau memang mencintainya, kau bisa bayangkan betapa dia tersiksa dengan karet gelang tersebut,” Rana menjadi diam, kaku karena perkataan penculik tersebut. Amarahnya mulai lenyap seketika mendengar perkataan penculik.

“Semula aku tidak yakin, aku malah menduga kamu adalah Jeri, sejak kapan kamu bisa meniru suara lelaki,” Rana mulai mendekati penculik tersebut dengan langkah menderap perlahan di ruangan unit kesehatan sekolah.

“Apa maksudmu, apakah kau tidak mencintai Alfi, mengapa kau begitu sangat tenang,” Rana mulai mendekati penculik tersebut secara perlahan, semakin dekat dan dekat “Jangan mendekat aku peringatkan kau, aku akan membunuhmu,”.

“Pertama aku sempat tertipu dengan photo yang kamu kirim, dan aku percaya Alfi di culik, lalu semuanya ini, di sekolah ini. Mengembalikan siluet masa itu,” beberapa langkah lagi Rana bisa menjangkaunya, penculik itu.

“Aku bilang jangan mendekat aku akan membunuhmu menggunakan pisau ini,”.

“Aku yakin kamu tidak akan membunuhku,” Rana merengkuh penculik tersebut, memeluknya erat penuh dengan kehangatan, “Alfi, aku mencintaimu dan kamu tahu itu. Jangan beranggapan aku mengabaikanmu,”

Rana membuka pelukannya, dan melepaskan topengnya.

“Dari mana kamu tahu, kalau penculik ini aku?”

“Semula aku gak tahu, pertama yang menuntunku adalah photo yang kamu kirim, ikatan di photo itu setelah teliti ternyata longgar dan mengapa tidak terikat dengan kursi yang kamu duduki, lalu pesan yang kamu kirim, mengapa penculik mau tahu tentang hari istimewah korbannya, kemudian gelang pemberianku aniversary tahun lalu kelihatan dari tanganmu, dan lagi hanya aku yang tahu wanitaku memiliki phobia karet gelang”

“Hahaha, iya yaa,”.

“Tapi aku tidak habis pikir, mengapa kamu sampai seperti ini melakukannya, dan cairan itu mengapa?”

“Cairan itu hanya, cairan infus biasa, dan aku hanya ingin memberikan kejutan, aku tahu kamu suka komik Detective Conan. Aku hanya ingin melihatmu berperan sebagai Conannya yang sedang menyelematkan Ran, hehehe. Belum lagi aku hanya ingin mengetahui seberapa cintakah kamu padaku”

“Kalau kejutan seperti ini, aku sangat terimakasih dan harus sampai sebegininya kamu. Tapi alasan kamu mempertanyakan kecintaanku, aku sangat mencintaimu dan tidak akan membuatmu sedih. Walaupun belakangan ini aku sering mengabaikanmu, maafkan aku Alfi”

“Sudah, sudah, inikan hari aniversary kita, ayo kita buat harapan”

“Sebentar, aku gak beli kue, tadi aku beli bunga namun tertinggal di cafe”

“Bunga? Manisnya kamu, aku juga membawakan hadiah komik Conan edisi terbaru”

“Serius? Komik? Terimakasih Alfi,” Rana mengambil pemantik dari saku celananya “Ayo kita ucapkan harapan lalu tiup api dari pemantik api ini bersama-sama”

“Wuuussshhhh” Rana dan Alfi meniup api dari pemantik dan mengucapkan harapan kedepannya.

 

Mawar

Sebut saja para tuan – tuan itu adalah lelap yang merahasiakan sesuatu hal terhadap kami, dia dan aku. Rahasia yang teramat pelik dalam satu hembusan napas yang berbeda namun tetap sama, hembusan napas yang bertasbih terhadap pencipta kemegahan alam.

Malam itu tidak sama dengan malam kebanyakan, riak bintang seperti biasanya tidak menggoda bulan. Dingin, senyap namun tak hening. Simponi katak mulai menyuarakan kidung puji – pujian terhadap indahnya malam. Indah tanpa bintang, hanya bulan yang teronggok ditemani cerahnya langit.

Dia masih berkutat dengan lembaran kertas lama itu, membalikkan ini dan itu mengaitkannya dengan fakta ini serta fakta itu. Namun kenang hanya malu, membisik bisik lugu kepadanya. Dia yang masih diobsesi terhadap lembar demi lembar sebuah buku.

SEPERTIGA PAGI DI SEBUAH SISI JALANAN KOTA, BUNGA MEKAR DIAPIT GEDUNG TUA, BUNGA ITU MAWAR” di sebuah sisi jalanan kota, bunga mekar diapit gedung tua,” Dia membaca lembaran tertulis tertanggal 3 bulan lalu. “Tidak mungkin, benarkah ini” Tanggal yang sama saat perkenalannya dengan wanita pemilik senyum. Senyum yang memutar dunia pada poros bumi.

Penasaran mencekam, dicarinya lembaran tertanggal ketika wanita pemilik senyum tidak lagi tersenyum padanya. Tanggal ketika dia dan dunianya mulai berhenti, tidak lagi berputar.

“MAWAR, BUNGA ITU MULAI BERMAIN DENGAN KUMBANG, SATU, DUA, MUNGKIN TIGA” Dia mulai ambil pusing dengan lakaran diksi pada buku tersebut, dengan dilema cintanya. “Benarkah ini, namun aku masih tidak percaya”

Salahkah waktu yang memberi kesempatan kepadanya untuk menemukan buku tersebut. Di rumah tua bertahun lalu, dia berkenalan dengan buku itu berkenalan dengan segala lembaran yang meragukan pikirannya.

Buku itu tertumpuk debu tanpa sadar terbawa lari dari rumah almarhum neneknya. Meninggalkan sekawanan koleksi buku kakek lainnya. Kakeknya seorang penulis, menuliskan kata merajut makna mencari nafkah.

Aku juga dulu punya kakek, berbeda tapi tetap sama. Sama tua sama juga suka tulis. Aku masih ingat saat kakek sedang menulis dengan mesin tulis yang berisik itu. Kata nenek itu mesin tik.
“Kakek lagi apa” nada tanyaku sepertinya tidak mengganggu, tapi kakek kelihatan seperti terusik.
“Lagi nulis, nih Didit main sana” aku saat itu tidak tahu benda yang disodorkannya adalah pulpen dan buku. Aku mempertanyakan pikirku permainan apa yang dihasilkan pulpen dan buku.

Sadarku kabur, tangan tidak terkendali. Pulpen pemberian kakek saat itu mempermainkan imajinasiku. Dinding kamar kakek sangat menggiurkan, jemari mulai tergoda mengajak pulpen bersenggama. Tergores acak, tercoret kacau. Dinding mulai penuh dengan gambar goresan dan coretan asal.

Kakek setibanya sadar dari lamunan yang memaksa imajinasinya sedari tadi untuk menulis, terperanjat dengan dinding kamarnya berubah warna dari cat putih kusam menjadi putih kelam dan bertekstur sana sini.

“Haduh, Didit . . , kakek harus bilang apa ke nenek, habislah nenek pasti marah ama kakek ini” namun dibalik ketakutan kakek akan amarah nenek, kakek tercengang dengan torehan pulpen di dinding kamar umurku adalah tak wajar menggambar objek sedetail itu.

“Didit, ini apakah kamu yang menggambar? Tidak mungkin, tidak dapat dipercaya” lalu kakek mengubah gambarku menuliskannya dengan padanan kata khasnya.

Aku bahkan tidak ingat bagaimana aku bisa menggambar dinding itu, kakek menyuruhku menggambar lagi tapi tidak bisa. Yang ada aku takut melihat kakek menjadi terobsesi dengan coretan pulpen menggambar di dinding. Dinding seluruh rumah perlahan tanpa sadarku mulai tercoret lagi, lagi dan lagi kakek berhasil menutupinya, menyembunyikan tentang gambar itu dari nenek. Menghapus coretan setelah kakek menulisnya.

BIMBANG DIKECAMUK HERAN BERUNTUN DIGUMUL GUSAR DIHUJAT PIKIRAN, LALU TERJAWAB OLEH ANGIN

Pikiran dia bercelaru di perjalanannya mencari keabsahan kebenaran manuskrip kumpulan sajak bertajuk Almanak Love. Kumpulan sajak karya kakeknya, membingungkan dan mengherankan. Sajak itu hampir mengganggu pikirannya karena menurutnya sajak tersebut adalah tuntunan perjalanan hidupnya. Dan sekarang menuntunnya ke rumah sakit jiwa.

“Dokter, sebenarnya apa yang terjadi dengan kakekku” dipertanyakannya sebab kakeknya menjadi tidak waras. Dilihatnya dari kejauhan tatapan kakek hanya kosong, terduduk di kursi taman rumah sakit tersebut.

“Saya pun tidak tahu pasti, menurut diagnosa ini hanya trauma kecil masa lalu, tapi melihat kondisinya sekarang bukan sekedar trauma kecil. Ada sesuatu hal yang membuatnya shock berat” ungkap dokter.

“Aku akan menemuinya dok, ada hal yang ingin aku tanyakan padanya”

“Semoga saja kamu dapat jawabannya, bertahun dia hanya menatap kosong tanpa sedikit pun kata”

“Terimakasih dok, ya semoga”

“Kalau ada sesuatu hal, hubungi suster penjaga, atau perlu denganku aku dikantorku”

Angin saat itu ditiup senja memaksa masuk ke lamunan orang tua disana, itu kakeknya. Menatap lurus ke arah yang disebut tanda tanya. Tanda yang mempertanyakan kepastian diselimuti ketidakpastian. Dia datang menghampiri tanya yang tidak pasti, duduk tepat disebelah kakeknya, sambil memegang naskah sajak Almanak Love.

Hampir mereka berdua disesatkan oleh waktu. Kakeknya dan dia duduk tanpa sebarang kata. Setengah jam yang singkat dipandangi rumput taman, bertabur para penebar imajinasi masyarakat di Rumah Sakit Jiwa ini. Imajinasi membuat dia sebagai tontonan menyatu dengan kursi taman.

Kek, aku ingin menanyakan sesuatu padamu, tentang tulisanmu” dia diam sekejap.
“Aku masih heran tentang manuskrip Almanak Love. Sajaknya mengganggu pikiranku kek, aku merasa tiap diksinya mewakili kehidupanku kek. Lalu mengapa judulnya Almanak Love-kosa kata Indonesia dipadankan dengan kosa kata Asing” celoteh tak terdasar tak sengaja terkesiap namun kakeknya tetap diam.
“Bila diartikan kata demi kata berdasarkan wikipedia Alamanak berasal dari kosa kata serapan bahasa arab berarti musim, iklim-yang menginformasikan secara tabular beberapa hal disusun secara kalender, data astronomi dan berbagai jenis statistik terdapat pada almanak juga. Lalu love, cinta-sebuah emosi tentang sayang dan filosofinya memotivasi sifat baik yang mewarisi semua kebaikan”

“Rasakan keheningan hembusan angin, kamu temukan jawabannya” tiba tiba kakek itu terucap lalu dia terkesiap.

—-

Tentang angin, aku jadi ingat ada satu angin di sore yang meredup berhembus dalam satu titik. Kelopaknya menggoyahkan birahi setiap memandang, padahal saat itu aku belum berkenalan dengan tuan birahi. Aku pun heran, baca tulis belum lekat dalam pikiranku. Namun birahi mengganggu. Mawar menyapa dengan kelopaknya. Aku terbangun dalam diam yang lelap.

“Didit tidak menggambar hari ini” kakek menerorku seperti hari hari itu, selalu bertanya tentang gambar. Kepalaku pusing.
“Ayolah didit, biasanya setelah kamu bangung, kamu menggambarkan sesuatu di dinding, tunjukan pada kakek dimana gambar itu” aku masih bertanya, sejak kapan aku pandai menggambar, soalan ini menggangguku, kepalaku pusing, dan kakek mulai pusing. Kami berdua pusing.

Dia mulai berkenalan dengan angin, sejak saat itu sedetik terasa mengakrabkannya bertahun-tahun dengan angin. Angin menyentuh lembut imajinasinya yang tidur dalam kesenyapan. Lalu bangun.

“SERPIHAN ANGIN MENGANTARKAN KELOPAK MAWAR BARU UNTUK SI KUMBANG PINCANG” kakeknya terucap seketika saat dia bangun.

“Maksud kakek?” Kakeknya hanya menunjukkan naskah sajak kepadanya.

“Aku tidak gila, semua orang tidak percaya bahwa kamu menggambar saat kamu tidur” dia heran, dan semakin heran melihat gambar di akhir naskah yang semula tidak ada.

“Aku tidak mengerti maksud kakek” dia baru saja terbangun, namun kakeknua sudah mulai melucuti pernyataan

“Aku yakin, ada makna tersendiri dalam gambar setiap gambar Didit, namun aku tidak tahu apakah penting atau tidak, namun selalu gambar Didit kebanyakan menggambar mawar yany berarti perlambang pernyataan cinta” kakeknya ucapkan heran kepadanya.

Aku adalah Didit, Didit adalah dia bertahun-tahun lalu. Bertahun lalu juga kakek menyendiri dalam tanya di rumah sakit jiwa ini.

Aster

Malam tak berdaya menampung setiap rajutan kata
Dan hanya rekaman panorama kelam terhiasi palsunya cahaya
Sudut kelopakku meratapi keindahan yang tersaji dari dunia
Bekas sebening kaca senada dengan jernihnya air di dermaga
Aku hanya simbol, mungkin juga penanda
Bisa jadi sebuah pelampiasan akan asmara
Inilah aku bediri disini dengan palsunya dunia
-celotehan bunga di tengah gemerlapnya kota-

—-

“Indah sekali pemandangan dari sini” terkagum dengan indahnya lampu, mungkin lampu neon bisa jadi lampu pijar atau keduanya , yang tersusun rapi di setiap sisi gedung-gedung kota. Wanita ini tidak habisnya terpukau dengan jajaran lampu pencahayaan, sesaat terhipnotis dan hanyut dengan siluet yang dihadirkan malam itu.

“Terimakasih ajak aku kesini, sangat indah sekali dari sini” rambutnya lurus tidak terlalu pendek namun sepanjang rata dengan goresan dagunya, sisi rambut yang menutupi matanya diikat ke belakang.
“Kamu berhasil untuk sekian kalinya, membuatku menjadi wanita yang paling bahagia” masih berdiri dan jauh sebelumnya berdetik-detik yang lalu dia tetap berdiri, terpaku dengan deretan lampu- seperti kerumunan kunang-kunang yang kaku.

Langkahnya mulai mendekat, bukan wanita itu tapi lelaki ini, memantapkan haluan langkahnya dari belakang dirinya bukan dia tapi belakang wanita itu. Dekapan melebur jadi satu di tengah keindahan, pelukannya merengkuh kesah bahagia dirinya, dari lelaki ini untuk wanita itu. Rambutnya yang serata dagu bertemu dengan sisi wajah lelaki ini dalam satu waktu, tangannya dan tangan dirinya menyatu tersimpul jemari dalam satu dekapan itu.

“Kamulah yang selalu berhasil untuk sekian kalinya, sudah lama sejak saat-saat itu, menjadikan hidupku lebih dari sekedar hidup”

–o–

-Senja itu, 16:56 waktu barat di belahan bumi Indonesia.-
“Nino, tolong jangan pergi?” inilah ibuku, kemungkinan dia ibu biologisku, tapi tidak terlihat kemiripan dari kami berdua, ya hanya saja matanya mataku coklat dengan sorotan perspektip yang tajam, hidungnya hidungku tidak terlalu kedalam tapi tidak juga seperti hidung mereka orang Arab yang menjuntai mancung dan sialnya aku mewarisi lesung pipinya.

Tapi beruntung aku mempunyai ayah yang aku tidak pernah tahu, dan memang tidak ingin kucari tahu. Ayahku berhasil memberikan kontribusi pada ketinggianku, jadi ibuku yang perangainya teringin sangat beradaptasi dengan duniaku-dia setinggi bahuku. Terlihat jelas kalau aku jalan dengannya menemaninya ke Mall sekedar berbelanja atau jalan menemaniku pergi ke apotek ternama

Please Ma, aku harus pergi, tidak besok tidak juga lusa atau lain hari, sekuat apa mama melarang, aku harus dan pasti pergi” seperti biasa, kadang hubungan kami seperti teman yang saling curhat tentang gebetannya, berbagi waktu bersama, obrolin mantan, pacar, dan banyak sekali, kalau di filmkan mumgkin seperti sinetron Tersanjung yang panjang episodenya.

Dan bisa juga kami menjadi seperti musuh, yang selalu perang dan siap angkat senjata sampai mati matian, mempertahankan ideologi kami masing-masing. Pernah hampir tercetus perang dunia ketiga di dalam rumah-yang isinya hanya empat orang ini, aku, mama, bu Idah, dan pak Diman. Faktor utamanya adalah karena berbeda paradigma tentang program TV yang disajikan stasiun lembaga televisi, adu argumen saling memojokan program TV masing masing, tidak sekali remote TV berpindah tangan, walaupun TV ada di masing masing kamar, kami sering perang di ruang keluarga dan bu Idah, pak Diman hanya sebagai non-blok tidak berpihak ke blok timurnya mama dan blok baratnya aku, kami sering perang urat saraf karena bodohnya program TV yang mama tonton, dan terlalu berat program TV yang aku tonton untuk dijadikan tontonan malam

“Nino, aku ini mamamu, dan aku tahu, sekarang tanggal berapa, bulan berapa, dan tahun keberapa. Kamu mau pergi, mama harus ikut” inilah kekuatan orang tua khususnya ibu, hampir setiap ibu mempunyai bathin yang kuat terhadap anaknya, dan sialnya aku mempunyai ibu diatas SNI (Standard Nasional Ibu Ibu) dalam hal kebathinannya tentang anaknya. Dia seakan masuk ke alam bawah sadar, dan membaca setiap inci kepalaku atau jangan-jangan ibuku letakkan chip di tengah encephalonku dari sana dia memonitoringgerak-gerikku

“Tidak boleh….!, urusan yang satu ini mama tidak boleh ikut, titik…!” Aku membentak ibuku, ibu yang telah melahirkanku, melahirkan bertaruh nyawa, nyawa yang terkadang terbuang sia sia dengan tingkah lakuku. Aku menuju mobil ibu, memunggunginya tertinggal didepan pintu, sekali aku menoleh dia tetap berdiri di sana di pintu rumah.

Paaak Dimaaaan! Tolong buka pagar!” aku teriak terbelalak, pak Diman pun tak menjawab tapi terlihat bergegas membuka pagar, dia menoleh ke arah mama sambil membuka pagar, pasti mama masih diam di sana. Aku masuk mobil, dengan sesal menyelubungi tiap ruang mobil ini, aku mulai merasa bersalah, setiap aku bertengkar dengan ibu setelahnya mataku seakan kelilipan debu, tapi kali ini semoga ibu memaafkan aku.

-Maafkan aku mama-

Sesaat aku ingin menghidupkan mobil, aku malah tersenyum, senyum yang bercampur dengan tertawanya hati, tapi tidak sampai merubah raut wajah. Aku kembali menemui mama, dan mempersembahkan senyum lebarku, dengan terkibarnya senyumku berkibarlah bendera kedamaian.

“Sudah mama bilangkan, mama harus ikut” dan akhirnya mama ikut ke tempat tujuan aku pergi, kunci mobil yang semula di gantungan kunci bersama kunci kunci lainnya, tidak ada pada tempatnya hanya kunci mobil yang hilang, dan ternyata kunci mobil ada ditangan mama. Sepertinya benar teoriku, bahwa mama pasang chip dikepalaku, mengapa dia bisa tahu aku akan pergi malam ini, dan mama menyembunyikan kunci mobilnya, yang aku ambil hanya gantungan kunci beserta kunci kunci lain.

–o–

“Sebenarnya alasan aku hidup di dunia ini hanya dua hal, salah satunya karena kamu” dekapannya masih mencair dalam suasana malam itu, ditemani gelapnya malam namun tidak sampai gulita dan hanya bulan yang sangat terang hari itu mungkin lebih terang dari malam-malam yang lalu bahkan kelihatan bulan membesar dari biasanya.

“Hari itu, hari hari dimana kita bergumul dengan bualan cinta menjadikan aku lebih hidup” lelaki ini masih mendekap hangat dirinya-diri wanita itu, perlahan mengusik sejuknya malam yang tidak seperti biasanya, sunyi disini namun tidak dengan suasana disana-dijalanan kota yang ramai orang baru pulang kerja.

“Semoga akan terus menjadi seperti ini, kamu dan dirinya adalah wanita yang istimewah bagiku” perlahan dekapan itu mulai melonggar, melonggarkan kesunyian bersarat. Pelukannya tak lagi hangat, namun masih berkesan dikeduanya. “Aku berharap hanya menjadi yang pertama, dan bukan kedua atau ketiga”

–o–

Hari itu, hari yang mulai menggelap-

Oh baby ill take to sky . . . . Forever you and i…. you and i….

Petra pun bernyanyi di telpon genggam yang berukuran tidak normal untuk sebuah ukuran handphone, yang tergelatak di meja kerja atau di laci meja, atau di bawah tumpukan berkas yang berserakan rapi.

“Mas, udah dimana” sudah daritadi aku tunggu, sekitar setengah jam lebih, dan baru ini telponnya masuk. Apakah ini bagian dari kejutan bodohmu, atau kamu tidak sadar, aku sengaja tidak menghubungimu, supaya kamu berpikir dan sepertinya kamu tidak bisa berpikir. Apakah benda tumpul membentur kepalamu, aku tunanganmu.

“Udah didepan kantor kamu nih sayang, maaf macetnya menggila sayang” alasan klise, sama seperti semua alasan, seharusnya lebih kreatif dalam mencari alasan. Belum lagi ini adalah hari, ah sudahlah…. alasan sangat biasa dan alasan apa yang mau aku harapkan lagi. Tapi setidaknya sebuah alasan yang menjadi moodboosteruntuku. Setidaknya alasan permintaan maaf karena telat jemput cari bunga aster. Tapi apakah kamu pernah tahu aku menyukai bunga itu, walaupun kamu sering melihat bunga Aster di halaman rumahku. Tapi kamu tidak tahu itu.

“Ow yaudah, nih udah mau kelar, sebentar lagi aku keluar kantor mas” kamu terlalu lama mas Rifki, aku sudah bosan ini semua, bosan dengan klisemu. Pernahkah kamu merasa, aku ingin mengatakan sesuatu. Bawalah aku, bawa aku ke langit itu, dan hanya kita berdua, aku bosan dengan ini semua.

“Mas tunggu di parkiran ya Via kesayangan” walaupun aku mencoba dengan sangat, mencoba kembali ke masa itu, tapi aku tak bisa. Bisakah sang waktu memainkan perannya, kembalikan aku pada saat pertama kita bertemu, saat dimana aku terhanyut dalam bualan cintamu. Aku suka masa itu, bukan yang sekarang terikat dengan sebuah pertalian komitmen. Fase ini sangat membosankanku, seandainya kamu tahu mas, aku butuh perhatianmu disetiap pagiku dan menjelang tidurku.

–o–

Kalian tidak ada bedanya bagiku, dan aku tidakmembedakannya, dan kamu tahu itu” lelaki ini mulai memalingkan pandangan serta arah tubuhnya tidak lagi ke langit, ataupun cahaya lampu melainkan terarah ke wanitanya. Lelaki ini memegang tangannya mencoba menghangatkan kembali apa yang mereka sudah mulai hangatkan sejak tadi.

“Baiklah” kehangatan terlihat jelas semakin mendingin, melewati kesejukan malam saat itu. Sekitaran terasa dingin apakah ini akan hujan, tapi tidak ini hanya dingin biasa yang tadinya hangat.

“Aku ada kejutan kecil, sebentar yaa” lelaki ini berusaha menghangatkan suasana yang dari tadi mulai mendingin, dengan dibawanya sekantung plastik, mungkin isinya pupuk atau tanah bisa jadi juga sebuah benih tanaman.

“Apa itu, untuk apa tanah itu” kalimat yang terucap mulai datar, intonasi yang terkeluar dari bibir tipisnya tidak lagi sehangat tadi.

“Ini bukan hanya tanah, tapi aku mencampurnya dengan bibit bunga, bunga Aster” beruntung bibit bunga aster, mengembalikan suasana itu, suasana yang sejak tadi mulai redup atau bisa jadi mulai tidak stabil.

“Kamu? Dari mana kamu bibit bunga aster” wanita tadi mulai tertarik dengan isi kantung plastik yang dibawa lelaki itu. Kantung plastik berpindah tangan ke wanita yang ingin memastikan apakah benar bibit tersebut adalah bunga aster.

“Sini berikan padaku, biar aku tanam bibit tersebut” direbutnya kantung plastik yang dipegang wanitanya, tapi dia kalah cepat meraih plastik tersebut.

“Tidak perlu, kamu buat lubang saja di tanah, biar aku yang menanamnya, aku takut kamu salah tanam bibit ini tidak berkembang”

–o–

-di mobil itu, mobil yang tidak terlalu biasa-

“Sayang kenapa, lelah sekali kelihatannya” ada yang lain dengan tunanganku hari ini, tidak seperti via yang itu, via yang selalu ceria setiap aku jemput dari kantornya walaupun setelat apapun aku datang dia selalu ceria.

“Gak kenapa-napa mas, gak lelah juga kok” aku tahu ini hari lahirmu, dan mana mungkin aku melupakan hari bahagiamu. Aku sudah kemas hadiah terbaik untuk wanita terbaik dikehidupanku.

Sayang, tolong ambilkan berkas di laci dashboard itu sayang” mungkin kamu berpikiran hidupku hanya untuk berkas kantor setelah kamu mendengar kalimat itu, tapi sebenarnya tidak. Aku selalu memikirkanmu ditengah kesibukanku yang tak berarti itu.

– klek –

“Aku pikir mas lupa dengan ulang tahunku, ini isinya apa ya, aku buka sekarang ya” semoga kamu suka, hadiah yang tidak seberapa itu, dan seharusnya aku berikan tahun lalu.

“Buka saja semoga kamu suka via” aku berharap kamu suka, maaf jika terlambat aku memberikannya.

“Ini kan, makasih ya sayang” iya benar, hanya sebuah jam tangan yang kamu pernah bilang kamu suka sekali jam tersebut. Ornamen bunga di jam tersebut selalu kamu ceritakan di pertengahan obrolan pulang.

“Sekarang kita kemana, makan dulu atau langsung pulang” aku senang kamu langsung memakainya, jam tangan itu sangant indah melingkar di pergelangan tanganmu.

“Temanin via ke taman sekitaran jalan Ade Irma mas” baiklah kemana pun akan aku temani, demi dirimu.

“Ok sayang, kita akan kesana secepatnya”

– sampainya di sana –

“Sayang tunggu disini sebentar ya” aku terkejut, maksud kamu berkata seperti itu, kamu mau pergi kemana tanpa aku disampingmu.

“Kenapa? kalau kamu ada apa apa bagaimana” mengapa kamu ingin sendiri, aku tersentak mendengarnya

“Aku sebentar aja mas, please yaa, mohon mengerti aku sayang” aku memang tidak pernah bisa mengerti kamu keseluruhan, tapi yang jelas aku mencintamu jauh sebelum aku mengenalmu.

“Ya baiklah, jangan lama lama ya sayang”

–o–

-di taman itu, taman yang tidak terlalu ramai-

“Ibu kok sendirian di taman ini” siapa ini, bagus tadi saya tunggu di mobil daripada nunggu di luar mobil, mengapa tiba tiba dia menghampiri saya, lebih baik aku pergi saja.

“maaf, saya harus pergi, ada perlu apa ya” memang sih dari kelihatannya dia orang baik baik, tapi tampilan luar bisa menipu. Lebih baik berhati ? hati.

ow, maaf bu, saya lagi nungguin tunangan saya, dia bilang ada keperluan sebentar” tunangan, Anak muda zaman sekarang tunangan kok dibiarin jalan sendirian.

“sama dong, saya lagi nungguin anak saya” tapi tidak mengapa juga, nemenin saya cerita habiskan waktu sampai anakku datang.

Bualan terasa akrab seperti ibu dan anak, mungkin karena seorang ibu yang berperangai santai dan terbuka atau si lelaki yang selalu menghargai setiap sosok orang tua, semua orang tua dianggapnya seperti orang tua sendiri. Candaan terlempar sebegitunya tanpa ada sarat namun santun, dan tidak sedikit juga meluap keluar curahan hati masing-masing dari mereka. Dan hanya mereka berdua, Rifki dan Ibunya Nino.

–o–

“Nino?” ucap wanita itu dengan terkejut becampur heran.

“Hi Via, selamat ulang tahun” sambut lelaki itu yang selalu riang, di setiap sisa nafasnya.

“Sedang apa kamu disini? Aku hanya merawat bibit yang pernah kita tanam bersama”

“Indah sekali, dan kelihatan terurus, tapi aku tidak mengerti untuk apa kamu lakukan ini semua”

“Untuk apa, Seharusnya aku yang bertanya, aku tidak melihatmu di sini tahun lalu dan di tahun-tahun itu, kamu yang sedang apa malam-malam begini?”

“Jangan bilang kamu setiap tahunnya, ke sini menikmati keindahan kota dan ditemani bunga aster ini”

“Tidak, aku disini hanya mengganti air di pot kaca dan meletakkan bunga Aster yang baru aku petik”

“Tapi, apakah ini semua kamu lakukan hanya sebatas itu?”

“Sudahlah, jangan banyak tanya, cepatlah pulang nanti tunanganmu khawatir”

“Jangan sok tahu kamu. kalau kamu masih? tapi kenapa kamu akhiri semua itu, hari itu, 3 tahun lalu”

“Tahulah, cincin itu melingkar erat di jarimu Via, Sudahlah jangan banyak pertanyaan, pulanglah sana tunanganmu nanti khawatir”

-Via pun pergi dengan rasa kesal yang mendalam, tapi Nino tetap duduk di kursi itu, ditemani bunga Aster yang berdiri tegak di Pot Kaca-

Via aku mohon, biarkan aku mencintaimu dengan caraku sendiri disisa nafas ini.

–o–

di mobil itu, dalam perjalan pulang

“Via kamu tidak apa-apa, matamu merah”

“Gak apa – apa kok mas, aku capek sekali antar pulang aja mas yaa”

“Baiklah sayang, tau gak Via, tadi ada seorang Ibu yang lagi nungguin anaknya sendiri di tengah taman, dia sangat sayang sekali dengan anaknya, mas gak bisa bayangin bagaimana nasib ibunya kalau anaknya tiba-tiba meninggal dunia karena penyakit yang dideritanya”

“Maksud mas?”

“Kata ibu itu, anaknya mengidap Varises Otak diponis oleh Dokter 3 tahun lalu tidak akan bisa hidup lama hanya setahun saja sisa hidupnya, namun sebuah keajaiban dia bisa hidup sampai saat ini, itu yang mas gak tahu”

-Dasar Nino bodoh-

–o–

“Kamu suka tempat ini Via”

“Aku suka tempat ini Nino, tempat ini indah dan bakal tumbuh bunga Aster nantinya”

“Setiap tahun kita rayakan ulang tahun Via disini saja, Selamat ulang tahun Via”