Pintu

Selamat datang di duniaku, jika kamu masuk melewati pintu itu, pintu yang terbuka lebar bersinar kilau. Aku ucapkan selamat. Karena kamu tidak akan keluar lagi, dan tersesat sampai kurun waktu yang tidak ditentukan. Dan kau akan menemaniku di sini, tapi jika kamu tidak bisa bertahan maka kamu akan mati untuk kedua kalinya. Walau pun itu terdengar tidak mungkin.

Jangan tanya mengapa aku disini, dan bagaimana caraku bisa tersesat sama seperti kamu. Daripada kamu bertanya sesuatu padaku, tanyakan terlebih dahulu dirimu. Jika kamu sudah menjawabnya, itulah jawabanku.

Pernahkah kamu berpikir, adalah sebuah takdir setelah melalui pintu itu. Kalau itu sebuah takdir, apakah kebodohan itu takdir, karena kamu termasuk orang yang bodoh bila memikirkan hal tersebut. Karena orang bodoh akan tersesat di sini. Sampai kamu bosan untuk mencari jalan keluar.

Awalnya harapmu memuncak, kemudian melesap hingga melumat dirimu, terbakar semangat nafsu untuk keluar dari wilayah yang tidak biasa. Setelah itu, kamu akan berjumpa Tuan Jenuh dan Puan Putus Asa, menyapa dengan ramah seperti teman lama yang dipertemukan kembali. Di tengah jalan yang tak berujung, mereka akan menuntun nafsu itu.

Jadi aku hanya sebagai pemandu, dan semuanya terpulang kepadamu. Diam mengamati, atau berjalan menyusuri pertulangan yang mengharuskan kamu akan bertemu dengan Tuan Jenuh dan Puan Putus Asa. Kamu tidak akan bisa menghindar sebanyak dan sekuat apa pun kamu mencoba menghindari mereka. Mereka akan menemukanmu, tidak peduli ketika kamu letih dan berlutut.

Aku belum memperkenalkan diri, maafkan aku, terlalu bersemangat, karena saat sekarang ini sedikit yang mampu melewati pintu itu. Kabar yang beredar, ada beberapa orang yang mempengaruhi mereka dan tidak melewati pintu itu lagi. Dulu pintu itu sangat ramai, dilewati dengan tua dan muda. Saat inspeksi untuk mengungkap kebenaran tersebut, ternyata semua kabar yang beredar itu adalah nyata. Ada sekelompok Ego, sekawanan Dusta, serombongan tukang jagal yang membunuh mereka perlahan dengan bualan – bualan. Mungkin kamu juga berpikir aku seorang tukang jagal yang membual, itu hakmu. Buat saat ini, aku hanya melaksanakan tugas sebagai pemandumu, memperkenalkan tempat ini.

Tempat ini adalah relung yang tercipta dari semesta buangan, terbuat dari bathin yang terbelenggu, dari bongkahan sisa – sisa hingar-bingar kejayaan imajinasi. Imaji – imaji yang terkumpul membentuk daratan, bathin menguap membentuk air. Sebelum kamu bertanya, bagaimana udara tercipta. Aku akan bertanya, apakah kamu sekarang bernapas? Apakah paru – paru yang selama ini kamu kenal berfungsi? Lalu untuk apa udara, karena udara akan sia – sia, sama halnya seperti mereka yang menyiakan udara, menyiakan fungsi paru – paru mereka. Selamat berpetualangan, kirimkan salamku untuk Tuan Jenuh dan Puan Putus Asa.

-O-

“Pak, Semir Sepatunya Pak,” jika Bapak ini juga menolakku, genaplah 100 orang yang tidak ingin sepatunya di Semir.

“Semirlah, jangan lama – lama ya,”.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s