Sandalwood Flower

Sandalwood
Kelopak Bunga Cendana

Petang masih membentang di ufuk. Sinarnya menerpa, debu samar berhamburan. Anak-anak laki berkejaran di ladang tandus. Habiskan waktu sampai ibu atau ayah mereka datang membawa kayu sebatang, atau sejumput ranting dipegang. Tiba masanya usai, tak sedikit di antara mereka menerima segaris lebam di betis, lalu berjalan pelan senggugukan digiring pulang. Di antaranya lagi, ada yang terisak takut saat melihat ibunya datang. Satu, dua anak laki pulang dijemput, pertanda pesta dolanan harus dibubarkan.

Masih menikmati kilau senja berpendaran, seruput kopi perlahan di bingkai jendela, melihat anak-anak pulang satu per satu. Menjauh dari ladang tandus, dijemput satu per satu. Sebelah ladang, senja menyilau menyusup barisan rapi pepohonan cendana. Siluet senja menyemai peluh warga, peluh para pekerja. Tanpa lelah, yang ada binar bahagia di raut muka. Mengingatkan masa kecil bermain di tengah barisan pepohonan. Hanya sekedar mengganggu.

Angin sore masih melekat dalam pekat ingatan. Perlahan datang, bukan sesekali namun terlalu sering. Membuat senyum menyeringai tanpa sebab, mengintip jauh ke lubang masa. Seperti menonton opera, terhanyut iringan orkes masa lalu. Hening dan damai mendengar instrumental klasik. Dahan pohon bersahutan ditiup angin, menambah hanyut ingatan semakin dalam.

Aku berlari dikejar angin, berlari tak tentu arah. Lalu bergantian angin menabrak wajahku, bahagia terlalu singkat untuk seumuran anak-anak. Berlarian, lari dan hanya sekedar lari. Lari mengejar angin sore itu yang menggodaku. Kami akur, akrab seketika, walaupun tak mengenal pasti satu sama lain. Tiba-tiba angin itu hilang dalam haluan, lariku berhenti, terjerembab di serakan daun kering cendana. Aku malah tertawa, tanpa sebab dan terlalu bahagia.

Bahagia memang terlalu sederhana, semudah jatuh di kubangan masa lalu. Terlalu sederhana, menghirup udara hari ini dengan penuh syukur. Kemudian, tawa terhenti. Silau cahaya yang menelusup masuk dari celah ranting pohon cendana. Menarik perhatian, pandangan menengadah ke atas, aku masih tiduran telentang di kerumanan daun kering cendana. Walau kakiku sepertinya lecet, aku lupa rasanya sakit karena terjatuh. Sebab dari sini, pepohonan cendana sangat indah. Angin kembali datang, berbaring tepat disebelahku. Dahan pepohonan cendana menari.

Dari pohon cendana itu, ada kelopak bunga di ujung sana yang mencuri pandangku. Seperti berbisik dalam sunyi, kelopak bunga cendana bersuara lirih. Kami hanya saling pandang, aku dan kelopak bunga cendana, angin di sebelahku seakan tau maksud hati. Kelopak bunga tersebut menuruni pohon dituntun angin. Terjun dengan penuh bahagia, seakan melambai kearahku, aku hanya tersenyum, kami saling melempar senyum. Aku menunggunya di tumpukan daun, menyambutnya dengan satu tangan membentangkan telapak.
Kelopak bunga cendana yang indah, dari dulu hingga sekarang. Aku masih memandangi kelopaknya merebah di telapak tanganku. Kopiku menipis, lamunanku hampir habis.

“Juragan!” kelopak bunga cendana pergi, angin menerbangkan angan. “Para tamu sudah datang,”.

. . .

Malam larut dalam binar bulan terang, jangkrik bersenandung rindu. Bersahutan, memanggil bulan dengan lirik lagu yang tak aku mengerti. Hanya saja, terasa damai terdengar dari kamar ini. Jendela ku biarkan terbuka, tirainya nganga, menari mengikuti alunan lirik lagu jangkrik.

“Mau jam berapa lagi tidur?” Ibu sudah ada dikamar tanpa aku sadari, berjalan ke arah jendela, tirainya yang berumbai masih menari bersama angin malam.

“Besok, hari minggu loh buk,” aku masih memandang lamat-lamat ke arah jendela.

“Matamu udah ngantuk itu, tidur,” ibu menutup jendela, tirai tak lagi menari.

“Oalah buk,” ibu beranjak pergi dari kamar.

“Hush, tidur,” aku memalingkan posisi rebahanku.

Apakah aku terlalu kecil untuk menikmati angin malam, seperti bapak yang selalu memberanda sampai bulan benar-benar diatas kepala. Malam ini, bapak masih bersahabat dengan jangkrik, angin malam, mungkin juga ditemani anai-anai yang bersayap. Tidak tau pasti, tapi aku yakin bapak belum tidur, kamarku tepat selapis anyaman bambu sebagai pembatas dengan beranda. Ada orang disana, berbicara, mungkin bapak dan ibu.

“Pak,”.

“Opo toh buk,”.

“Bagaimana kalau kita pindah ke kota saja?”

“Maksud ibuk,”.

“Kita jual tanah kebun ini, lalu hidup di Kota,”.

“Ini hartaku satu-satunya, setelah ibuk dan anak kita buk,”.

“Tapi pak, kasihan anak kita, pasti suatu saat dia ingin sekolah ke jenjang yang lebih, dan sekolah harus pakai uang pak,”.

“Itu juga yang mengganjal di pikiran bapak buk”.

“Mau gak mau, pasti kita akan menjual tanah untuk biaya sekolah pak,”.

“Bapak tau, tapi ini warisan keluarga buk, bapak harus menjaganya,”.

“Bapak gak lihat, mau sampe kapan anak kita main di kebun,”.
Aku terlalu kecil untuk mengerti obrolan orang dewasa, kalau tanah kebun dijual aku mau main dimana lagi. Kata pakde yang kerja di kebun, kota adalah tempat yang keras. Banyak gedung – gedung tinggi, angin pun enggan masuk ke perkotaan. Awalnya aku tak mengerti, terus mengapa mendadak aku menjadi takut.

. . .

“Maaf menunggu lama, ini juragan yang mengelolah kebun cendana di sini pak, buk,”. “Juragan, saya tinggal ya, permisi”

“Oh iya, makasih ya pakde,”. “Selamat datang, mas dan mbak sekalian,”.

“Pak juragan, saya Arya kami dari stasiun TV lokal, ingin meliput dan mengetahui bagaimana kebun cendana bapak bisa menjadi objek wisata,”.

“Yang pertama, jangan panggil saya bapak atau juragan, pastinya mas dan mbak sekalian lebih tua dari saya,”.

“Baiklah mas, bagaimana awal cerita perkebunan cendana milik mas, bisa ramai wisatawan dari dalam negeri maupun luar negeri,”.

“Kalau itu, mengapa ramai wisatawan yang berkunjung ke sini, itu adalah berkat teman-teman dari para blogger yang menginformasikan keunikan wisata di perkebunan cendana ini, mereka para blogger juga membantu pelestarian tanaman cendana dengan cerita-cerita yang di tulis di blog mereka,”.

Obrolan semakin hangat, sore terasa panjang, bualan yang tertinggal di ruang tamu, berlanjut ke kebun cendana.

. . .

Sore kesekian kalinya, senja oranye masih menggantung. Bermain di kebun, adalah sebuah petualangan yang tidak membosankan. Berlayar dengan angin sore, bersama arungi keindahan hayati.

“Pak, bapak lagi apa,”.

“Bapak baru selesai menyemai bibit cendana,”.

“Pak, apa benar kebun ini mau di jual, aku gak mau pindah ke kota pak, aku takut,”.

“Bapak belum memutuskannya, kamu suka kebun ini?”

“Iya pak, yang paling aku suka, adalah bunga cendana, apalagi kalau angin menerbangkan kelopak cendana dan jatuh perlahan,”.

“Sini, bapak mau kasih tau kamu,”.

“Iya pak,”.

“Nak, kamu harus tau, kalau tanaman cendana ini adalah tanaman asli Indonesia yang awalnya berasal dari Nusa Tenggara Timur. Tapi seiring berkembangnya zaman, pohon cendana tidak lagi menjadi tanaman primadona,”.

“Maksudnya tanaman primadona pak?”

“Dulu Indonesia pernah terkenal karena hasil tanaman cendana ini nak, namun sekarang tanaman ini sedikit orang yang tau,”.

“Pak ajari aku merawat pohon cendana pak,”.

“Kamu akan mewarisi kebun ini, pasti bapak akan mengajiri semua hal yang bapak ketahui,”.

. . .

Layaknya brand ambasador, layaknya kurator, layaknya sales, aku berbual tak tentu arah, sekarang aku mirip sekali dengan bapak. Bercerita tanpa jedah, tentang keunikan pohon cendana. Bila dekat pohon cendana aku menjadi pribadi yang lain, menjauh dari kebun aku hening.

“Jadi di polibag ini adalah bibit – bibit cendana yang sedang di semai. Sebelum penyemaian diusahakan tanah gembur dan cukup asupan air setiap pagi dan sore. Perlu juga dipantau kondisi perkembangan biji saat masa penyemaian,”.

Reporter masih diam, aku tak bisa diam.

“Seperti tanaman biasanya, setelah kecambah mencapai 15 cm sudah bisa ditanam di lahan. Setelah tumbuh 3 meter bagian pucuk harus dipotong, agar tidak tumbuh terlalu tinggi namun kualitas cabang dapat dipelihara,”.

“Mas, saya lihat di rumah mas, banyak gallery cendana dari mulai kerajinan dari kayu cendana, aroma terapinya, dan banyak hal lainnya. Apa yang menjadikan pohon cendana ini favorit buat mas?”

“Bunga cendana. Menurutku itu adalah hal yang paling istimewah, apalagi melihatnya jatuh dituntun angin, membawa siluet kenangan lama,”.

“Dengan keberhasilan mas sekarang, dan usia yang terbilang muda, tentunya ada destinasi impian ingin mas kunjungi?”

“Jujur, saya tidak ingin pergi kemana-mana. Karena tiap sore, aku selalu berpetualang di kebun pohon cendana ini, hanya sekedar menikmati angin sore yang ramah,” angin itu menyapaku, “bukankah seindah dan sejauh tempat wisata, adalah destinasi yang membuat hati terasa damai dan nyaman, maka kita tau caranya bersyukur,”.

“Tepat sekali mas, terimakasih mas, atas wawancaranya, boleh ya kita main lagi ke kebun cendana mas,”.

“Oh iya, sama-sama, pasti. Kebun ini selalu terbuka untuk siapa saja yang ingin bersahabat dengan keindahan hayati,”.

. . .

Kelopak bunga cendana merebah di lantai bumi, aku pungut, entah kenapa senyum menyungging di raut wajah. Angin ini datang lagi, menyapa ramah sesiapa yang berada di kebun cendana. Aku pejamkan mata, imajinasiku lari, hening dan damai. Aroma cendana menemani keheningan.

Lagi – lagi aku berlari dalam kenang masa lalu, bersama ibu dan ayah.

-0-

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen “Awesome Journey” Diselenggarakan oleh Yayasan Kehati dan Nulisbuku.com.
Juga sekalian memenuhi koleksi tulisan flower anthology, semoga konsisten terus nulis cerpen tentang bunga.

Iklan

3 pemikiran pada “Sandalwood Flower

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s