Celotehan Kursi Taman 4 #nulisrandom2015

Satu di antara mereka malam ini bersahabat denganku, kami berdua berbagi persahabatan dengan sunyi. Diam dalam kata,  hening dalam bising, mengumpat tak tentu arah. Panggilan nama mas Bimo, mas Danang, mas deris, dan terlalu banyak lagi tersebut dalam umpatan sendunya. Aku ikut sendu, tapi aku memilih diam, karena diam adalah sebuah cara untuk mengerti seseorang. Aku diam, dia diam kadang bising yang senyap, lalu tidur dalam malam.

Kami sebenarnya tak sama, yang membuatnya jadi sama, adalah sebuah pertanyaan teruntuk pencipta. Dia dan Sang Penciptanya, aku dan penciptaku. Pertanyaan yang selalu berkutat dalam bathin, ketika memandang awan lalu kami saling pandang, ketika mendengar kicau burung kemudian kami saling teriak, serta banyak lagi ketika. Aku ragu, keraguanku memuncak, memilih untuk diam.

Untuk apa aku dicipta dan diabaikan.

Sebenarnya siapa, atau apa aku ini.

Kemudian dia bangun, dari sandaranku, membenarkan bra yang tak terisi, mencari highhells tinggi, menata rambutnya yang terlepas dari kepala, lalu pergi, sekian kali lagi aku sendiri.

Check tulisan my rival dalam #nulisrandom2015

Septian Hadavi
Indriani
Sejati Ayu Putri
Ririn Anindya
Tjut Nurul Habibah
Ajeng Sulistio
Mahdiyyah

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s