Bougenvile

Langit membiru dan awan mendung sedang senyum, mengisyaratkan para ibu untuk memungut pakaian dari tiang jemuran. Lain ibu lain para anak, mendung disambut gembira seperti hari raya bertabur amplop merah. Sore itu langit dilahap mendung, menggelap hampir keseluruhan desa. Aku hanya tertahan di dalam rumah, mencari cara, menyiasati agar bisa keluar dari penjara. Lalu ikut menyambut merayakan hujan dengan teman sebaya. Di tengah hujan, menari tanpa ritme, berlari tak tentu arah, sampai hujan berhenti, dan telapak tangan mengeriput. Kenangan tertinggal disana, berjalan pulang dengan gigil dan bibir membiru. Pulang ke rumah dengan bangga, disambut teh panas buatan ibu dan tali pinggang ayah.

Beberapa orang di desa ini punya tradisi tersendiri menyambut kedatangan hujan. Walaupun hanya sekedar duduk di beranda sempit dengan sisa kopi pagi tadi yang masih pahit.

“Ayah, sudah mau hujan, gak masuk ke dalam rumah?” Tanya yang bercampur ajakan dari ambang pintu, yang menghubungkan dunia ayah di beranda dan dunia lainnya, mereka sebut rumah. Aku berdiri tepat di rongga pintu, mencoba mengerti beranda rumah dengan seksama. Aku masih mencoba, kemudian duduk tepat di sebelah ayah dan hanya meja kecil sebagai perantara penghubung kursiku dan kursinya. Ayah masih diam dengan tatapan penuh makna ke bunga kertas yang menjadi bingkai panorama bila terlihat dari sini.

“Kopinya mau aku tambah Ayah?” Tanyaku lagi berusaha mengusik pandangannya yang tidak mudah tergoyah. Kali ini tanpa suara, hanya pertanda mengangguk sekali dan aku tahu pasti artinya.

Dapur rumah yang hampir menyatu dengan ruang temu tamu terpisah oleh sekeping lemari lama, berdiri kaku. Terhiasi poto lelaki gagah bersama seorang perempuan dan tiga anak kecil lainnya 2 lelaki dan 1 perempuan. Bila dilihat dengan perhatian lebih, lelaki di poto ini menyerupaiku, mirip hampir keseluruhan, berdiri dengan gagah. Hanya lemari hias menjadi sekat, dan poto – poto lainnya di sana.

Panas air sudah pada derajat yang sesuai. Kopi mulai tidak sabar dicumbu air didih. Mug besi corak hijau menjadi wadah kopi dan air berkolaborasi. Sebelum memulai memanjakan kopi, awalnya aku rapikan mug besi dengan air panas. Ku tuang, memastikan tiap sisi tersirami dengan rapi, lalu air di mug besi terbuang dengan sengaja karena telah selesai tugasnya, merapikan mug sebagai wadah kopi nantinya.

Kopi sudah pada tempatnya, seduhan pertama di 30 detik awal, berkenalan dengan air panas. Aroma kopi mulai mengisi atmosfer rumah ini. Setelahnya biarkan air menyelesaikan kewajibannya, bercampur menjadi satu. Menubruk tiap remah – remah kopi.

“Mas, kita gak bisa begini terus, aku malu mas tiap sore siramin bunga, jadi bahan omongan tetangga” mungkin aroma kopi membangunkannya dari kesibukan rutin yang monoton, dan memilih mengusikku.

“Maksudnya apa sih dek, mas gak ngerti,” walaupun tanpa melihat ronanya aku tahu arah pembicaraan akan bermuara ke hilir yang mana.

“Kenapa sih Mas harus kamu, apa kamu gak mikirken anakmu ini nanti,” aku diam, sepertinya aku semakin mirip dengan ayah yang hobi mendiamkan orang sekitarnya.
“Mbakyu kamu itu, kenapa bukan dia saja,”.

“Dia kan harus mengurusin keluarganya loh dek, dan dia kan ada kerjaan disana, gak mungkin harus ditinggal, anaknya masih kecil,”.

“Lah aku juga sebentar lagi hamil besar, dan kamu kok bisa tinggalin kerjaan udah enak-enak di kota,” aku diam, kopi menonton kami dengan diam.
“Adek mu itu yang lajang, kenapa gak dia aja,”.
“Dan kenapa gak dimasukin panti aja sih mas,”.

“Jaga mulutmu! Mas udah bilang berkali-kali, jangan bahas ini, kamu gak bosen bahas ini terus,”. Aku pergi antarkan kopi yang hampir dingin, dan hatiku juga berusaha untuk mendingin dengan sendirinya.

“Aku capek mas, kamu lebih pilih ayahmu daripada istri dan anakmu,”.

Pasangan serasi segelas kopi dan goreng ubi hasil ladang sendiri. Kopi hangat dan goreng ubi yang masih panas adalah hiburan tersendiri di hujan yang masih merintik. Rintik kali ini cukup lama mengundang hujan datang. Atap rumah terlalu ramah menyambut datang hujan dengan lantunan bunyi kasar dari rintik hujan.

“Astaghfirullah, Ayah sedang apa?” Nampan ku letakkan di meja, sepertinya ayah terlalu sibuk untuk menjawab pertanyaanku. Atau simponi atap rumah terlalu nyaring, aku bergegas mendapati payung di balik pintu rumah.

Aku keluar beranda mengembangkan payung menghampiri ayah, dan langit sedang tidak cerah.

“Apa yang ayah lakukan dengan selang ini?” Aku memayunginya, mengikutinya yang masih sibuk dengan selang yang akan disatukan oleh keran air.

“Hari sudah sore, mereka belum disiram,” ibaku sudah membatu, sedih tak lagi senduh, yang ada abdi dan sabar.

“Tidak perlu Ayah, hari sebentar lagi hujan, biar alam yang menyiramnya,” hujan semakin ramai, ayah masih menyiram bunga kertas yang menaiki tiang, bersatu dengan atap.

Sekawanan hujan datang beberapa menit lalu, ayah menyirami bunga di tengah hujan yang jatuh. Bunga kertas kata mereka ada cerita di balik indah kelopaknya. Haruskah aku bersyukur terlahir sebagai suku jawa yang memiliki banyak tradisi? Atau aku harus bangga dengan pantangan yang terkadang mengekang. Mungkin aku yang sudah dilahap zaman akan menolak kebiasaan – kebiasaan lama. Satrio Wirang diungkit memiliki karakternya dalam bunga ini. Tidak mengerti dari mana berasal banyak juga versi cerita tentang satrio wirang, namun bunga ini kata mereka bersifat Satrio Wirang. Bila ditanam di depan rumah akan mengalami musibah yang memalukan.

“Ayah sudahlah, sampai kapan siram bunganya,” aku masih tetap memayunginya, dan ayah masih menyiramnya.

Akhirnya ayah puas menyirami bunga dan aku puas dengan kelakuan ayah. Hujan masih berjatuhan, kami kembali ke beranda.

Sore lainnya, sore yang bersahabat dengan senja, awan hampir jingga.

“Mas kamu gak pa pa,” seperti membaca raut wajahku yang penuh dengan dilema.

“Gak ada masalah, hanya saja aku terlalu banyak izin beberapa bulan belakangan ini, bosku gak terima, dan menghina ayah,”.

“Maaf mas, aku gak tau harus berbuat apa apa lagi,”.

“Yang penting ayah sudah pulang, karena sedikit di desa – desa ini yang menanam bunga bougenvile,”.

“Semenjak ibu meninggal, kebiasaan ayah lari dari rumah dan melihat bunga, aneh ya mas,”.

“Mungkin saja ada kenangan dengan bunga tersebut yang kita tidak ketahui,”.

“Bagaimana kalau kita tanam bunga bougenvile saja, agar ayah gak kabur lagi,”.

“Ide yang bagus,”.

“Mas tau gak?”

“Ada apa”

“Kamu akan menjadi seorang ayah,”.

Semesta hening, lalu mendadak riuh. Perasaanku pecah haru bahagia.

Ayah melanjutkan pandangannya, hanya ke bunga kertas itu. Sesekali menyeruput kopi. Aku hanya bisa memandangi cincin pernikahan yang sudah longgar, bahkan hampir goyah dari jari tangan. Sudah sekian kalinya, surat gugatan masih tersimpan di lemari. Di satu sisi aku punya keluarga, di sisi lain aku juga bagian dari keluarga. Pilihan yang sulit.

“Maafkan ayah,” ayah berucap tanpa ekspresi.

“Maksud ayah apa?”

“Ayah akan tinggal di panti,” tidak seperti biasanya, hari ini ayah berbicara dengan kesadarannya, atau apakah ini jawaban setiap do’aku. Inikah buah kesabaran itu.

“Benarkah ayah?” Ayah diam, mulai hening, tidak menjawab, hujan pun tak menjawab, hanya rintik, kini rintik.

Aku menelponnya, segera.

“Assalamu ‘alaikum”

“Wa’alaikum salam, didit. Ini ayah, ayah mau bicara dengan ibu.”

“Ini ayah ya, sebentar yaa” aku mendengar percakapan kecil di ujung talian “Kata ibu, bilang ke ayah, ibu lagi di luar, ayah apa kabar”.

“Alhamdulillah baik, didit?”

Semesta hening, lalu mendadak riuh. Perasaanku pecah haru bahagia.

– O –

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s