Asterisma

Dingin mencekam semak perkotaan, lampu jalan terpacak kaku lemah hangatkan bingar malam. Deretan bintang palsu yang terpola dari lampu-lampu pencakar langit angkat saing dengan kemolekan pola rasi bintang putri Ratu Ethiopia, mencoba alihkan perhatian khalayak manusia tentang keindahan yang bertabur dilangit malam ini. Dingin berulang kali berjaya ubah lamunan, ditambah simponi desahan angin merangsek masuk ke pendengarannya. Gesekan ranting pepohon disana menggelayutkan suasana malam dalam orkestra sunyi.

Kepulan asap memberanda hilang senyap berusaha menemani lamunan yang tergugah. Sebatang, dua tiga empat bahkan lebih, setia menunggu dan menghantarkan ajal. Tuhan mencoba berkata sesuatu dari keindahan ciptaannya dan mulai mengilusi dengan asap rokok menyetubuhi dirinya.

Pandangannya terpaku keatas menatap kosong langit malam.
—-
“Aku tidak pantas menerima ini semua, semuanya, dari mulai dirimu, senyummu, candamu, tawamu, celotehanmu yang terkadang terlalu basi, namun aku suka semuanya, tapi aku merasa tidak pantas” wanita yang sejak setengah jam tadi berbaur dalam bualan lelaki didepannya, mulai menempatkan dirinya sebagai manusia hina dan lelaki itu dianggapnya seperti seorang dewa dengan kasta tertinggi terpisah dari segala macam teori kemanusiaan yang ada termasuk itu teori cinta.

“Salahkah corak batik coklat keemasan ini sehingga kamu tidak menerima kado, hadiah khusus dihari ulang tahunmu” lelaki ini menyanggah kotak terbalut bungkusan rapi tertutup rapat, serapat kekakuan keduanya. Lampu kamar tersudut disana, bahkan mulai mentertawakan mimik keduanya. Kaku, mereka, sebarang kata terbata.

“Aku letih bermain di kubangan cinta, semuanya sama saja bagiku, sudah hambar sedari dulu, mengapa kamu gali kubangan itu” masih sejak awal memasuki ruangan, lebih mirip kamar hotel ternama, seprai mewah belum terkusut birahi menjadi penonton hikmat atas segala hal yang terjadi diruangan ini.

“Aku mohon, berpuralah menjadi bagian hidupku seperti hari hari lalu, apakah ini cinta? Baiklah ini sebuah kecintaan yang tak bersyarat, hanya untukmu” suasana kamar makin tidak tertebak, diorama takdir pun mulai tak tersirat, tinggallah dia dan dia dan juga para dia-dia sebelum mereka berdua. Tangan mulai merangkul selangkangan jemari, mencoba menyentuh redupan hasrat.

“Maaf, ini semua uang kamu, uang yang awalnya kamu beli untuk daganganku, tapi kita tidak pernah menjalin siklus ekonomi selama ini, aku pergi, senang aku pernah mengenalmu pertama di jalanan itu” dia menjauhi lelaki ini, melepas eratan genggam yang sebentar tadi. Menjauh dari kamar hotel, berlalu meninggalkan kenangan yang tidak terjalin tak sengaja berbulan lamanya.
—-
“Biarkanlah kita menyatu dalam pola bintang yang tidak ada artinya, bukankah itu yang selalu kamu ujar saat melihat ke langit di malam hari”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s