Edelweis

Akhirnya aku di sini tanpa jeda.

-o-

Satu dari tujuh hari genap seminggu. Tidak tentu harinya, namun ada saja masa dimana aku menghabiskan waktu hanya mendengarkan cerita. Momentum pulang sekolah adalah hal paling istimewah kala itu, ketika bel bersuara nyaring hingga bising di seluruh sekolah. Seperti tanpa arah, semua berlarian keluar ruangan , aku pun ikut berlari tanpa sadar, berhenti, lalu diam. Setelah ritual berlari liar selalu saja aku pandangi halte bus dari situ; halaman sekolah yang tiap senin dijadikan lapak untuk menghening-cipta dan menaikkan bendera. Mereka menyebutnya upacara. Tapi dari arah pandangku, jarakku jelas terlihat lelaki itu tidak ada disana. Saat itu, aku lebih senang menunggu halte bercerita daripada jemputan ayah yang selalu telat.

Semua siswa sudah berhambus ditiup angin, ada yang diculik induknya, banyak juga yang mengambang mencari jalan pulang. Tinggal aku di halte bus terpacak kaku, entah apa dan siapa yang kutunggu disana. Hilang oleh angin, atau raib diculik atau mengambang setelah itu hilang dan raib.

Tapi aku senang bersahabat dengan halte bus itu, hampir tiap hari selalu suka menghabiskan waktu di sana. Walaupun panas leluasa menampakkan kuasa teriknya, atau hujan yang berlomba merengkuh bumi. Aku suka dari sana, pemandangannya damai.

Pernah ada di seberang jalan itu, tepat sejajar dengan halte bus ada pohon perindang jalan, peneduh sarang. Satu sarang burung yang masih aku ingat lekat dalam kenangan. Tapi esoknya sudah tidak ada lagi, mungkin mereka pindah karena kota sudah terlalu sesak. Hutan – hutan beton kota itu tidak lagi bersahabat dengan mereka. Hanya spesies kuat yang dapat bertahan oleh seleksi kota, dapat hidup dan berpenghidupan. Begitulah kata penghuni halte bus, tapi hari itu pakde tidak terlihat.

Pakde bukan orang terdekat namun cukup dekat baginya bercerita tentang dirinya, tentang keluhnya terhadap hutan – hutan beton, aku hanya pendengar yang banyak tanya siang itu. Anak kecil yang disuguhin hikayat, baginya seperti bercerita dengan dinding yang bergaung, menciptakan tanya dari setiap pernyataan.

Aku sangat ingat cerita terakhirnya, cerita yang membuat kami tidak bertemu lagi. Cerita yang membuat aku tidak bisa tidur dengan mimpi buruk. Kemana pakde, atau jangan – jangan dia menggembel di tempat lain, bisa jadi diangkut petugas tata kota karena tidur sembarangan di proyek taman buatan. Taman yang dibayar dari pajak penghuni hutan – hutan beton tadi, tapi sedikit pun tidak mencerminkan taman yang selalu aku lihat di imajinasiku seperti cerita pakde. Taman yang dibuat oleh Sang Maha Pencipta lebih dahsyat tutur pakde, ada pegunungan yang menggunung, ada rimba yang merimba, dan banyak lagi sampai aku tidak bisa membayangkannya kata pakde.

Walaupun kami jadi bahan tontonan orang yang berlalu di halte bus ketika pakde bercerita, kami masih tersesat di dalam panorama saat itu. Panorama buatan dari bualan pakde, menurut orang lain pakde adalah orang gila dengan beragam cerita gila. Banyak yang melirik kami, tidak ada yang menegur hanya melihat dan berlalu pergi. Seperti pameran yang dilihat tanpa disinggahi, sesekali berhenti untuk melihat lebih lama. Mungkin mereka tidak bisa menjamah kami, karena kami sudah hilang beberapa waktu ke taman bualan pakde. Bualan yang mahal.

Kalau saja pakde tidak terlalu skeptis, mungkin pakde bisa dibayar mahal seperti ayahku. Ayahku seorang pencerita namun tidak seorang petualang seperti pakde. Ayah dibayar mahal hanya bercerita kepada orang yang datang ke kantornya tentang apa yang mereka bisa lihat, mobil. Berbeda jauh dengan pakde, walaupun mereka sama tinggi.

Saat pelajaran bahasa, tugas yang menurutku gampang waktu itu, tapi seluruh kelas sampai tidak menyadarinya. Guru hanya menyuruh menulis pekerjaan masing – masing ayah kami. Ayahku seorang pencerita, bercerita tentang mobil kepada orang yang datang ke kantornya. Aku salah, Dan barulah aku tahu ternyata ayah bekerja sebagai salesman di kantornya kata ibu guru, yang menjual mobil kepada calon pembeli. Lalu, pakde apakah seorang salesman yang menjual alam? Pola pikir yang sangat jenius saat itu, dan aku tersenyum di sini.

Aku tidak tahu apa itu sepatu gunung atau sendal gunung, dan sekarang aku tahu pakde sudah memakainya lama sekali berkeliling kota. Aku juga tidak mau tau gembolan yang selalu dibawa pakde dan ternyata itu adalah sleeping bag. Apakah pakde seorang gembel atau pendaki gunung, atau pakde terlalu cinta dengan semaknya kota hingga tak sanggup meninggalkan kota. Aku pun tidak tahu.

Aku pun tidak tahu tentang keabadian yang dibicarakan oleh pakde, itulah cerita terakhirnya sampai dia tidak aku temukan lagi. Sialnya, dia berhasil mempengaruhiku dengan cerita terakhirnya. Bukan sekedar bunga tapi sebuah keabadian yang selalu tertanam diingatannya. Bodohnya aku terobsesi dari seorang lelaki tua yang hanya aku kenal sebagai pakde. Menghabiskan waktu kerja dan gajiku hanya untuk melampiaskannya demi pencarian sensasi sama seperti pakde. Walaupun hanya mencium aroma keabadian agar aku dapat mengenang apa yang dikenangnya, dan merasakan apa yang pernah dirasakannya.

Siang itu dia memberikan dahan kecil, dan bercerita tentang bunga yang sudah hilang tapi masih tertinggal dan terkenang di hati.

“Kamu tau, setiap pencarian manusia pasti akan menemukan titik jenuh bila mereka tau arti bersyukur, dek,”. Pakde menjelaskan tentang dahan atau menjelaskan tentang manusia, karena saat bercerita pakde memegang dahan tersebut. Dan ternyata baru aku tahu sekarang apa yang di maksud pakde. Aku hanya menatap binar penuh tanda tanya dan juga harap ke arah dahan kecil tersebut.

“Walaupun ini hanya dahan kecil, tapi kenangan ini sangat berarti walaupun dia tidak pernah menjadi bukde,”. Ini yang membuat aku saat itu mengidolakan pakde, setiap kata – kata yang ia katakan aku sama sekali tidak mengerti. Tapi aku suka, diam – diam kucatat di buku pelajaran yang sekarang sudah di daur ulang mungkin.

“Janji sepakat yang kami buat mungkin tertinggal di sana dengan beribu jedah. Tapi janji yang kita buat bersama pemilik semesta akan pasti datangnya, mengalahkan janji antara manusia,”. Lagi – lagi pakde sangat bersemangat seperti biasa, sampai – sampai aku tidak mengerti apa yang disampaikannya. Mungkin aku harus sekolah lebih tinggi agar mengerti bahasa, dan aku mengerti sekarang.

“Ini untukmu, apa pun harapanmu tumbuhlah dewasa,”. Pakde menyerahkan dahan kecil ini, dahan yang aku pegang sekarang, dan dengan polosnya aku bertanya tentang dahan ini. Kepolosan yang banyak tanya, dan itu membuat pakde tergelak.

“Ini dahan bunga edelweiss, pakde lupa dari alun – alun Surya Kencana, atau Mandalawangi.” Pakde berdehem sejenak, dan melanjutkan bingungnya, “mungkin Tegal Alun atau dari Plawangan Sembalun, Pakde lupa,”.

Pikirku nama toko bunga, banyak juga toko bunga di kota ini, apa karena bunga tidak bisa tumbuh secara liar lagi sehingga banyak toko yang menanamnya. Aku salah, bukan nama toko bunga, bukan nama orang, bukan nama jalan, tapi nama sebuah tempat. Pencarianku di mulai, dari sana.

“Sebelum pakde dan bukde menyelesaikan tempat yang ke lima, pemilik Semesta sudah menagih janji bukde, bukde pergi. Sebelum sah sebagai bukde,”.

Aku ingat jawaban anak kecil ini, “Pergi kemana pakdae? Pakde gak menyusul bukde?” Pakde tersenyum.

“Jadilah dewasa, dan lihatlah dunia, pasti kamu akan tahu eksistensi manusia hanya sebagai hamba,”. Sebelum aku bertanya, pakde sudah pergi dan meninggalkan dahannya. Seperti biasa, pakde seperti kartun serial ninja yang selalu aku tonton sebelum pergi sekolah. Datang tanpa sebab pulang tanpa akibat. Hilang.

Saat dahan ini ditinggalkan pakde, aku selalu terbayang – bayang seperti apa rupa bunga tersebut. Membuatku tidak bisa tidur, karena malam itu sangat gerah dan kebetulan mendadak banyak nyamuk. Akhirnya malam itu juga aku membuat janji, akan mencari tahu bunga ini. Tapi besok paginya, ritual seperti biasa makan nasi telur mata sapi sambil menonton serial kartun ninja. Dan lupa akan janji malam tadi.

-o-

Berlin Schönefeld Airport – Germany

Akhirnya aku di sini tanpa jedah. Demi apa, aku pun tak pasti. Banyak alasan terkait untuk menjawabnya. Cerita menarik untuk diceritakan anak cucu. Masih ku pandangi dahan pemberian pakde bertahun dulu. Hampir seperti partner traveling, dahan ini selalu bisa menentramkan hati. Saat di Gunung Rinjani, Pangrango, Gede dan Papandayan, selalu berhasil menciptakan suasana damai. Sangat indah, aku jadi tahu kenangan yang selalu pakde ceritakan dulu, kenangan yang abadi di ingatannya.

“Excuse me, where can i get a taxi,”. Seorang wanita bertanya dengan logat inggris yang aku kenal.

“Sorry, i’m a traveler here,”.

“Ow Sorry,”.

“Gak pa pa,”.

“What?”

“I mean, no problemo,”.

“Kamu Indonesia? Saya Indonesia juga,”.

“Iya, Apa yang membawamu ke sini,”.

“Kalau saya bilang berkunjung ke rumah Paman kamu akan percaya?”

“Mungkin,”.

“Kamu sendiri, apa yang membawamu ke Berlin,”.

“Pasti kamu tidak akan percaya dengan cerita saya,”.

“Ok, make me trust you,”.

“Ehm, aku tidak yakin aku bisa. My story is too long to tell,”.

“I have a long time,”.

Di kata terakhir kami senyap seketika, lalu senyum seakan mengenal lama bahkan kami belum bertukar nama.

-end-

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s