Tergugah

tergugah - cerpen remaja

Seketika hujan meredah di penghujung tertanggal bulan, september meninggalkan genangan di semak perkotaan. Menggenang, air tak berlarut diserap ketamakan aspal jalanan, ego menyumbat gorong-gorong yang tertahan. Sudahkah mereka pulang ke laut, para penggembala hujan? Mungkin tertahan, atau menyatu dengan ketamakan. Hujan sudah redah tapi masih banyak yang terkilan. Terduduk manis menerawang, tengkuk payung terkatup perlahan. Jauh, seorang bocah fakir dilambungkan kenangan.

“Dik ojek payung,” sapa pria muda dengan stelan ala kadarnya.

“Udah lumayan redah bang, buat apa payung bang,” anak payung heran tak terhingga.

“Ehm, abang lagi sakit, gak bisa terkena hujan, tolong antar abang dik,” tipu tak semestinya terucap namun daya terupaya.

“Ok bang,” berawal dari sebuah sahutan yang membawa mereka berdua.

Ban mobil melahap habis jalanan kota, dan terusik heningnya genangan air disana, disini. Cuaca mencerah, awan terbuka setelah hujan beranjak mati.

Satu langkah, dua langkah, mobilnya tertatih perlahan namun pasti. Tanpa anak payung, mungkin pria muda ini tak akan pernah mengerti. Keluhan yang selalu terucap tanpa sebab, kini terjerembab dalam diorama empati.

-o-

Hujan yang redah masih meninggalkan rintik. Awan menjadi sendu yang semula panas terik. Payung tidak meneduhkan hati, namun perasaan hati terasa pelik.

“Dik, orang tua kamu tahu, kalau kamu ojek payung,” pria muda bertanya miris.

“Tahu bang, kenapa bang,” ujar anak payung dengan simpul.

“Orang tua seperti apa yang tidak berusaha membahagiakan anaknya,”  menyangkut ayah dan ibu, pria muda tertanya sinis.

“Saya bahagia kok bang, saya bahagia dikaruniai orang tua seperti saat ini,” ujar tambahnya anak payung dengan sendu mengumpul.

“Maaf dik, bukan maksud abang,” rona pria muda berubah mendung menyambut gerimis.

“Gak pa bang, setiap orang tua memiliki cara tersendiri untuk membahagiakan anaknya,” jawab anak payung semestinya sejalan  layaknya bandul.

“Iya sih, eh nama kamu siapa,” pernyataan ditanya.

“Uchi bang,” jawaban terjawab.

“Makasih ya uchi, udah anterin abang,” pernyataan yang nyata.

“Terlalu banyak ini bang,” akibat ada sebab.

“Ambil aja chi, abang tadi dapat rezeki lebih,” obrolan diakhiri dengan membekas iba.

-o-

Dunia tidak adil bagi mereka, pikirnya hari ini. Dunia sangat tidak adil bagi pria muda, pikirnya hari itu. Pria muda berkecukupan bahkan lebih, sanggup beli ini-itu. Namun tidak ditemukan kedamaian hati dalam rumah bak istana.

Di kemacetan semua mobil berlomba mendekati lampu jalanan, sedangkan penjajah berkompetisi dengan pengemis jalanan. Biasanya lagu dari radio selalu berhasil menciptakan kedamaian, tapi kali ini dalam diri pria muda tidak menemukan kedamaian.

Panorama siluet jalanan mengusik kedamaian hati. Tua, muda, anak semua berkompetisi di jalanan ini, demi mencari rezeki. Teriak koran disana, di sudut teriak maizone, semua berteriak berirama bagai simponi jangkrik malam hari. Pria muda masih terkenang anak payung tadi. Setiap orang tua mempunyai cara tersendiri, begitu juga dengan ayahnya yang baru pergi pagi tadi. Selalu pergi meninggalkan kota, meninggalkan pria muda sendiri. Dia rindu ayahnya namun tidak sadar, ayahnya juga merindukannya setiap hari.

Tidak pernah selama ini, pria muda menelpon ayahnya hanya bertanya kabar, kalau perlu uang barulah percakapan telpon terjadi. Hari ini beda, anak payung menggugah kedamaian hati.

“Pa,” pria muda menyapa di dalam kemacetan.

“Ada apa, papa baru aja tiba di Medan, perlu berapa nanti papa transfer,” jawab ayahnya dengan nada sibuk di ruang tunggu bandar udara Kuala Namo kota Medan.

“Bukan pa, Papa kapan pulang, mau ajak main golf, aku rindu saat papa ajarin aku main golf ketika smp,” pria muda bertanya terbata bersuara pelan.

“ehm, papa masih ada urusan bisnis, dan harus ke Gunung Sitoli besok, papa juga udah lama gak habisin waktu dengan anak papa satu-satunya, maafin papa ya,”  hampir tidak percaya, ayahnya tertegun perkataan anaknya hari ini.

“Kalau aku ke Gunung Sitoli besok gimana pa, kita main golf di sana aja,” pria muda ingin bertemu ayahnya dan memaksa diri.

“Boleh, sekalian kita liburan di sini, papa akan batalin janji seminggu kedepan dengan klien bisnis, papa akan transfer uang tiket pesawatnya ya,” hubungan ayah dan anak mulai membaik, entah karena anak payung mungkin juga karena panorama jalanan.

“Gak usah pa, duit masih ada, ketemu disana aja kita,”.

“Ok Derry, kita jumpa disana ya, papa tunggu,”.
“Ok pa,”.

-o-

“Koran bang,”.

“Korannya satu bang,”.

-End-

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s