Kertas Kuning

Meja makan warna dasar putih dengan bercak kusam di setiap sisi, diterangi dari atas satu bohlam tepat sejajar dengan meja kusam, semakin jelas terlihat putih kusam. Rebusan sayur  berwadah mangkuk plastik, ditemani sepiring gorengan yang selalu berganti, terkadang tempe, ikan, sesekali ayam kalau ada hari libur. yang meliburkan.

Duduk hikmat di meja makan sedang menyantap nasi, seorang lelaki tua dengan anak lelakinya bercerita pasal hidup dan kehidupan. Hidup yang menghidupi sebuah kehidupan, dan berjalan seiring jarum jam. Perlahan detik berganti menit lalu penanda waktu mengingatkan penikmat masa, tepat di jam 7.

“Ayah aku terpilih jadi petugas upacara untuk hari ini, hebat kan Yah” mengumpul kunyahan sarapan dimulutnya.

“Iya, habiskan dulu sarapanmu” sibuk menyendoki nasi di piring.

“Ayah, sebenarnya aku udah bosan hidup seperti ini” mendadak nafsu makannya hilang, dan ayahnya hanya diam tak bersebab. “Kapan kita bisa hidup tenang dan damai, tanpa memikirkan biaya hidup”

“Cepat habiskan sarapanmu, pergilah sekolah” ayahnya terperangah mendengar anaknya berucap.

“Aku udah kenyang, aku pergi sekolah dulu” pergi meninggalkan sepiring nasi yang bersisa, meninggalkan ayahnya pagi itu.

“Prana” ayahnya memanggil namun tetap saja anaknya memunggunginya “Pranaaa! Habiskan makananmu”

Aku pulang ayah. Benakku mengucap sendu, seraya membersihkan bingkai poto lama almarhum Ayah. Hampir genap 30 menit aku pandangi, senyum lebar ayah masih bisa aku ingat. Senyum yang selalu aku rindukan, dan bukan untukku. Namun sekarang senyummu untukku, dan untuk semua orang yang mengenangmu.

Senja berganti malam, memulangkan ayahnya yang dipinjam oleh sekumpulan anak-anak di luar sana. Prana semula hening mengerjakan tugas sekolah di kamarnya, kamar yang menyatu dengan ruang keluarga serta ruang makan. Sebuah kamar yang mereka sebut rumah. Ayahnya juga ikut menghening menulis sesuatu di lembaran kertas berwarna kuning cerah, lalu meninggalkan kertas tertulis di atas meja makan.

“UNTUK ANAK YANG BERMIMPI BESAR, TERUSLAH BERMIMPI DAN BUATLAH JADI NYATA” Prana membaca tulisan tangan ayahnya di selembar kertas kuning di atas meja. Dengan perasaan bahagia, Prana menyunggingkan senyum, sebuah ucapan motivasi cukup menenangkan hatinya.

“Kertas ini bukan untuk kamu” ayahnya mengambil paksa kertas yang sedang dibaca Prana. Tanpa sebarang kata, Prana pergi menjauh dari meja makan. Mendekati tempat tidur. Kasur beralas lantai. Berpura tidur dan kesal merudung.

Itu hari, sebuah perusahaan besar menelponku. Bertanya apakah aku adalah ahli waris Suyitno bin Tardji. Ya. Suyitno adalah ayahku, mendadak aku teringat sebelum aku sempat menjawab pertanyaan telepon perusahaan ini. Aku teringat, sebulan sekali, bahkan seminggu sekali, ayah menelponku dan bertanya kabar, serta menyuruhku pulang. Aku hanya menjawab santai, bahwa pekerjaanku tidak memungkinkan aku untuk pulang. Aku hanya diam, diam dalam kenang, kemudian suara dari telepon menegaskan dengan santun pertanyaannya tentang ahli waris.

Begitulah awalnya aku datang ke perkantoran besar itu, perusahaan yang bergerak di industri kreatif. Seketika aku menanyakan pada bagian informasi dari kantor itu, langsung dipertemukan oleh pemilik kantor mewah tersebut. Seseorang muda berkursi roda dan selalu energik dan suka tersenyum.

Segudang pertanyaan, menerawang benakku, apa hal sebab aku diundang di kantor itu. Dia hanya senyum, sesekali bercerita tentang hidup dan kehidupan yang memaksa kebanyakan manusia untuk hidup tanpa menemukan arti hidup.

Buku diari dengan selipan kertas kuning diambilnya dari rak buku. Dia mengambil pembatas buku berwarna kuning tersebut dan memberikannya kepadaku. Aku tergidik membaca huruf demi huruf, tangisku tak tertahan.
-UNTUK ANAK YANG BERMIMPI BESAR- ucapku tertahan hanya sampai kalimat tersebut.

Pemuda ini adalah pemimpin sebuah perusahaan, dan dia berterimakasih karena almarhum ayahku telah menginspirasi dia, hingga menjadi seseorang yang tidak bisa dibayangkan. Dan dia mengajakku untuk mengelolah perusahaannya sebagai bentuk terimakasihnya terhadap almarhum ayahku.

Ayah Prana adalah seorang badut yang selalu mengisi hiburan seminggu sekali di yayasan anak – anak penyandang cacat sejak lahir. Tanpa dibayar namun selalu ikhlas memberikan senyum untuk semua anak – anak. Sesaat ketika ayahnya sedang mempersiapkan pakaian badutnya untuk menghibur anak – anak.

“Ayah tidak seharusnya jadi badut, biar Prana aja yang cari duit, nanti kalau Prana udah besar dan sudah bekerja, kita akan tinggal di rumah yang mewah” Prana kecil berangan jauh.

“Semua itu tidak menjanjikan kebahagiaan, dengan ayah menjadi badut ayah bahagia bisa berbagi keceriaan kepada mereka dan kebahagiaan ayah sempurna karena ada Prana. Suatu saat Prana akan mengerti” ujar ayahnya.

-Aku mengerti ayah-

Ku mengambil perlengkapan badut ayah, dan memakainya. Mencoba berbagi keceriaan, seperti yang ayah lakukan.

Di remake ke tulisan singkat dari film di youtube yang pernah aku tonton, tapi lupa judulnya apa karena sudah lama sekali. Masih tulisan lama yang tersimpan di draft, akhirnya dimunculkan ke permukaan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s