Tulip

Kira-kira sepuluh jam yang lalu sebuah nomor tak dikenal menghubungiku. Sore itu.

Nomor ini lagi, siapa sih. Masih ada aja ya nelpon gak jelas di zaman yang canggih ini. Tapi sepertinya bukan dari Indonesia.

Benakku mencibir layar smartphone di tengah malam. Aku mengabaikannya dari sepuluh jam yang lalu. Aku tidak terpikir untuk mengangkat nomor tidak dikenal ini. Tapi tidak tahu apa yang menghasutku, sehingga panggilan kali ini aku mengangkatnya.

“Iya . . . ,” .

Di ujung pertalian hanya terdengar suara angin, ruanganku yang kurang pencahayaan menjadikan bulu tengkuk bergidik, tempat tidurku semakin dingin.

“Haloooo, jangan main-main ya, siapa ini,” .

Masih sama, hanya terdengar suara angin. Mungkin angin yang keluar masuk di pernafasannya atau angin yang berhembus di malam ini. Aku yakin orang di ujung pertalian telpon ini sedang menakutiku.

Aku tidak menutup telponnya, hanya membiarkan smartphoneku tergeletak di tempat tidur. Laptop yang ternyala dari tadi dengan lantunan lagu sendu, aku ganti dengan lagu beat keras, dengan niat menghilangkan ketakutanku. Lalu melanjutkan aktifitas yang termulai sejak beberapa menit yang lalu. Membaca beberapa blog favoritku, salah satunya imaji kata.

Tempat berpulangnya kata.

Tempat bermulanya kita.

Mengabaikan telpon dari orang yang tidak aku kenal tersebut, hanya membiarkannya menyala. Sesekali aku alihkan pandangan ke smartphone, masih saja berjalan durasi panggilan tersebut. Sudah lama detik menjadi menit berganti jam. Hampir 1 jam panggilan itu tidak tertutup. Aku mengabaikannya dengan bulu tengkuk kembali bergidik.

Sudah cukup untuk hari ini menurutku, aku harus tidur memejamkan ketakutan. Semakin larut malam, akan semakin telat aku bangun di hari minggu. Hari libur menanti.

Tempat berpulangnya kata. 

Matahari sudah meninggi, cahayanya masuk melalui jendela kamar koskosanku. Hangat dan bersahaja. Jam dinding tersenyum karena aku telat bangun di hari libur. 10:10 WIB. Tidak biasanya aku bangun telat di hari libur, aku langsung mengutuk penelpon bodoh yang menggangguku. Masih dalam keadaan badan terbangun dari tidur, aku mencari smartphoneku di tempat tidur. Setelah mengacak selimut, aku menemukannya di bawah bantal. Dalam keadaan padam.

Perlu dihidupkan kembali, tidak sesulit mencari smartphone di tumpukan bantal, aku langsung mendapati kabel charger di serakan benda – benda di meja kecil sebelah kanan tempat tidur. Aku tinggalkan smartphone keadaan terhubung dengan daya listrik. Berlalu pergi ke kamar mandi. Tidak seperti hari biasa yang selalu antri hanya untuk mandi, hari libur anak kos lainnya, memilih untuk tidak mandi dan tidur sampai pagi bertemu dengan sore. Atau mereka sekedar bermalas – malasan. Semua orang punya cara tersendiri untuk menghabiskan hari libur. Kalau aku mengawalinya dengan mandi pagi.

Setelah mandi, aku langsung mengambil smartphone melihat – lihat adakah notifikasi disana. Hanya satu pesan singkat yang ada. Tidak langsung membuka pesan singkat aku membiarkannya tergeletak kembali di atas meja kecil. Aku takut terlalu bersemangat membaca pesan singkat tersebut, yang ada malah sms pemberitahuan pulsa habis. Kadang itu membuatku merasa sedih.

Sms yang aku harapkan dari teman kuliah, mengajak hang out atau hanya sekedar berbalas pesan. Yang ada dari operator mengingatkan pulsa dalam keadaan kritis. Tapi bagaimana bisa dapat sms dari teman, karena temanku terhitung dengan jari. Bukan aku tidak mau bergaul tapi hanya saja aku takut untuk berteman. Sudahlah hanya cerita lama yang seharusnya tidak aku ingat.

Seperti minggu – minggu biasanya, aku menghabiskannya dengan kertas origami. Melipat kenangan lama dan menjadikannya dalam bentuk yang baru. Itu mengapa aku menyukai seni melipat kertas ini. Sudah lama sekali aku tidak melipat kertas ini menjadi tulip. Tulip kertas. Mungkin satu, atau dua, atau beberapa tulip kertas untuk hari ini. Tak sempat tulip ke tiga aku merasa bosan. Sepertinya sudah waktunya untuk bermain dengan smartphone. Getrich atau permainan bodoh lainnya untuk menghilangkan kebosanan. Tapi sebelumnya aku harus melihat pesan dari siapa yang masuk tadi, walaupun tebakanku pesan tersebut dari operator seluler.

+31xxxxx

Masih hobi melipat kertas? 03:00AM

“Nomor ini?” . Aku mendadak terkejut, pesan singkat ini bukan dari operator seluler. Nomor ini, nomor kemarin malam.

Aku langsung melihat data panggilan masuk, untuk memastikan apakah benar nomor tersebut adalah nomor kemarin malam. Menelponku tanpa suara, hanya terdengar hembusan angin seperti orang sedang bernafas. Dan setelah melihat ternyata ini benar nomor kemarin malam. Durasi panggilan hampir 2 jam lebih.

Kata yang singkat dan berhasil membuatku terheran. Namun siapa?

Tempat bermulanya kita.

Aku teringat teman lama, lama sekali. Dan dia menghilang begitu saja setelahnya, itulah yang membuatku masih ragu menjalin pertemanan lebih dekat, sedekat itu. Tidak ada lagi. Aku lupa namanya yang aku ingat, kami berdua menyukai bunga tulip. Apakah benar bunga tulip adalah lambang dari kesempurnaan cinta dan kasih sayang.

Saat itu, umur kami tidak berbeda jauh, yang jelas tidak sampai 10 tahun. Rumah kami bersebelahan, rumahku di kiri dan rumahnya di kanan. Hanya pagar yang membatasi rumah kami. Pagar yang selalu berhasil dia lompati. Aku masih ingat permulaan itu.

Hei, kamu lagi apa?”. Aku hanya diam, memperhatikan senyum bergigi ompongnya. Aku tak membalas senyumnya, kemudian melanjutkan kembali lipatan origami.

Aku tidak tahu bagaimana dia menaiki pagar tersebut, tiba – tiba dia sudah ada saja di sebelahku. Dengan senyum ompongnya, sekali lagi dilayangkan kepadaku yang lagi sibuk belajar melipat kertas origami kala itu.

“Aku ikut melipat kertas ya, “. Tanyanya, tanpa aku jawab dia sudah mengambil lembaran kertas origami di tangannya. Aku hanya diam.

Sebentar kami tidak ada kata, hanya sibuk melipat kertas. Aku dengan kertasku dan dia dengan kertasnya yang aslinya adalah kertasku. Lipatan demi lipatan mengapa terasa sulit sekali saat itu. Mungkin karena ayah dan ibu mengganggu konsentrasi kami.

Ayah dan ibu sering sekali bersuara tinggi saat sedang mengobrol, aku saat itu tidak tahu apa yang menjadi bahan obrolan mereka. Hanya kata cerai yang aku ingat saat itu, apakah kata ini membuat semua orang dewasa menjadi gila. Sampai melempar piring, menangis, dan penyebab ayah tidur di sofa. Namun sekarang aku tahu arti kata itu.

“Kamu hebat ya, bisa betah di rumah dengan ayah dan ibu seperti itu, ” ucapnya saat mendengar teriakan ibu saat itu, mungkin ayah hanya diam menonton tv seperti biasa, aku masih melipat kertas.

“Maksudmu, ” aku menjawabnya tanpa berhenti melipat kertas origami saat itu. Sudah berapa kertas yang kami habiskan, tapi tidak juga menjadi sebuah bentuk utuh.

“Aku saja, keluar rumah karena tidak tahan dengan omelan ibu, kamu hebat ayah ibu kamu lagi bertengkar, kamu bermain origami, ” jawabnya sambil mengerjakan lipatan kertas tersebut.

“Ayah ibuku tidak bertengkar, meraka hanya mengobrol seperti biasa, ” aku malu sendiri atas jawabanku yang bodoh saat itu, mengapa bisa aku menjawab seperti itu.

“Baiklah, namaku Devi, “.

“Ehm, namaku Tania, “.

Lihat ini, Tan, ” sambil menunjukkan kertas origami yang sudah berwujud.

“Kamu hebat Devi, aku belum bisa membuatnya, “.

“Tapi ini apa ya? “.

“Ini bunga Tulip, bunga Tulip ini sangat indah, aku melihatnya di majalah ibu , “.

“Benarkah? “.

“Bunga Tulip ini banyak di Belanda, ada warna merah, kuning, dan banyak lagi, “.

“Belanda dimana ya Tan? “.

“Gak tahu, tapi aku mahu kesana suatu hari, melihat langsung keindahan bunga Tulip, “.

“Baiklah, kita akan bertemu disana ya suatu hari, “.

Pertemanan aku dan Devi terbilang singkat, tapi kami selalu menghabiskan waktu akhir pekan di teras belakang rumahku. Bercerita tentang masa depan, dia ingin memiliki keluarga yang besar, dan akan menikahi seorang lelaki yang bisa membuatnya bahagia. Lalu aku bertanya apa arti menikah, aku tidak tahu saat itu, Devi tahu banyak tentang urusan orang dewasa di umurnya yang terbilang belia saat itu.

Pertama telpon, lalu sms, itu sudah cukup untuk membawa kembali kenangan teman lamaku. Teman yang tiba – tiba hilang, karena dia pindah rumah ke daerah yang aku pun tidak mengetahuinya.

Telpon ini berdering lagi, dengan nomor yang sama, dan aku mengangkatnya dengan berharap, tapi harapan itu sebuah kemungkinan kecil. Darimana juga Devi mengetahui nomorku.

“Tania, “.

“Iya, ini siapa, “.

“Alhamdulillah, dari kemarin aku mencoba menghubungimu, tapi nomormu selalu sibuk, tiba-tiba kamu angkat, seperti ada gangguang operator handphonemu, “.

“Ini, siapa? “.

“Ini aku Devi, ingat tidak? “.

“Bagaimana aku bisa lupa dengan Devi yang selalu melompat pagar tetangganya, eh darimana kamu tau nomorku, “.

“Tidak penting Tania, kamu harus datang ya ke Belanda bulan depan aku nikah, “.

“Serius, di Belanda? dengan orang Belanda? “.

“Iya serius tapi bukan dengan warga Belanda, warga Indonesia kok, tenang saja, semua akomodasi aku yang tanggung, “.

“Tapi, “.

“Tidak ada kata tapi, kamu harus datang, “.

“Ehm, baiklah, “.

“Ok bye, nanti aku telpon lagi ya, “.

“Congratulation Devi, “.

“Makasih Tania, “.

Aku bahagia mendengar kabar tersebut, minggu yang cerah pikirku, aku pandangi tulip kertas ini, sesekali tersenyum. Tidak sabar melihat Devi dengan gaun pengantinnya.

-0-

Storiette ini didedikasikan untuk sahabat team relawan Sinabung, dan diikut-sertakan tantangan menulis dari mandewi.com. Thanks juga buat pemilik tumblr imaji kata, yang udah nantangin nulis cerpen ini.

 

 

Iklan

6 pemikiran pada “Tulip

  1. Seperti bukan tipikal tulisannya Yoga. Congrats yaaa, bisa mencoba style baru dalam menulis. Kemajuan bro 🙂 hehehe… btw, gue terharu nih :’) *lu pasti tau apa yg buat gue terharu, hehe* Thanks…

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s