Teh Botol

Itu hari adalah hari di mana semua hari tidak penting baginya, ribuan hari yang disesapinya dalam tiap desahan nafas berhenti dalam satu menit. Menit yang tidak terlupa dalam benaknya, terngiang di kepalanya selalu. Lamat – lamat wajah wanita di sudut itu muncul lagi untuk sekian kalinya, tersenyum kepadanya.

Siang yang terik tidak seterik seperti dirasakannya, berbeda di dalam kafe kecil itu. Walaupun hanya baling kipas yang menyemburkan angin, sepertinya bisa menaklukkan panas matahari yang menghujam kulit – kulit mereka. Mereka yang keluar dari kafe berbeda saat mereka masuk.

“Hi” wanita itu menyapanya. Menyapa dia yang terbodoh melihat wanita seramah dia. Tidak berparas ayu tapi bagai oase di teriknya panas itu.

Masih dalam keadaan tidak sadar, dia meyakinkan dirinya apakah benar wanita tadi menyapa kebodohannya. Mengintai dari jendela kafe, dia dapati wanita itu duduk di sana, dia memperhatikannya dari luar sini sampai mata mereka bertemu dalam satu pandang. Wanita itu senyum untuk kedua kalinya, senyum lagi. Belum sempat lelaki ini membalas senyum wanita itu seseorang menepuk bahunya dari arah belakang.

Lelaki ini sekarang duduk dengan mata membelalak ke seluruh ruangan. Duduknya hari ini di kafe adalah dudukan ke tujuh. Masih ulet menyembangi kafe itu hanya demi sosok senyum seorang wanita itu hari. Tapi tidak ada wanita itu hari kunjung datang, malahan pelayan dengan senyum basi datang. Senyum paksa bukan senyum yang lahir dari hati, senyum SOP, senyum 900.000rupiah.

“Mas pesan apa,”.

“Saya pesan . . ,”.

“Mas pesan teh botol kan? Makanannya nanti kan?”.

“Iya,”.

Ternyata lelai ini cukup terkenal di kalangan pelayan. Terkenal karena gunjingan yang beredar, bahwa ada seorang pelanggan misterius sedikit bicaranya dan pesanannya teh botol, selalu teh botol.

Perlahan menoleh ke arah belakang, berdiri dengan tubuh buncitnya dan berusaha dia palsukan. Buncit tetaplah buncit.

“Maaf mas, mas mengganggu kenyamanan pelanggan kami,”.

“Pak satpam, saya tidak berbuat apa-apa,”.

“Tapi mas mengganggu kenyamanan pelanggan kami, maaf mas, mas harus pergi,”.

“Tapi pak satpam,”.

“Tidak perlu saya berlaku kasar terhadap mas, mas harus pergi,”.

Dia pergi menunduki jalan setapak terotoar kafe, berusaha mengintip sudut kafe itu. Wanita itu sedari tadi melihat adegan percakapannya dengan satpam tadi. Saat dia melihatnya, wanita itu mengangkat teh botolnya seakan menawarkannya minum. Tapi dia terlalu fokus terhadap senyumnya. Senyum wanita itu.

Gunjingan semakin merebak ke seisi kafe, tapi dia tidak peduli. Dia hanya menanti pemberi senyum, karena pikirnya dia harus membalas senyum itu. Bukannya dia tidak sanggup membayar pesanan lain, namun hanya teh botol yang bisa dia beli. Benar kata mereka yang berbual di ujung bar kafe.

“Tau gak kamu orang itu, tiap hari pesanya teh botol saja,”.

“Iya kata pelayan lain juga gitu, gosipnya dia ingin balas dendam dengan satpam yang dipecat seminggu yang lalu,”.

“Satpam? Bang Darto maksudmu,”.

“Iya, bang Darto mengusirnya saat itu, kata bang Darto sih dia pengemis,”.

“Gak mungkin dia pengemis, dengan baju bagus seperti itu. Tidak mungkin dia pengemin,”.

Tidak salah obrolan mereka mencerca di belakangnya, tapi kurang tepat tuduhan pengemis. Karena dia tidak meminta-minta, orang lainlah yang memberi.

“Aku harus membalas senyumnya, tapi dengan pakaian gembel ini, mana bisa aku masuk kafe itu, aku harus ngamen lalu beli baju bagus, lalu membeli teh botol seperti wanita itu, lalu membalas senyumnya,”.

Iklan

4 pemikiran pada “Teh Botol

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s