Seribu kala

Rintih angin memanggil aku, kamu, dia, mereka, orang itu, semua. Berbagi cerita dalam bejana berbeda. Hasut menjadi dasar, kalut meremang, tenggelam di keramaian. Disana bergidik kaku, ada juga mulas sendu, di antara mereka malu palsu. Saling menyaling dan menyilang.

Merugi, abaikan masa. Berpaling dari fitra, citra pun didera. Sadar dalam keadaan tak sadar. Semakin hilang pekerti, terjatuh jauh ke dalam. Gelap, tanpa dasar.

” . . . ,”.

Jatuhlah kita bersama, yakin. Sesatlah kita bersama, yakin. Hilanglah kita bersama, yakin. Terasing, di dunia sendiri. Namun harus percaya, aku dan kamu akan menjadi kita pada waktunya. Memantaskan diri walaupun khalayak mengutuk. Abaikan.

Aku siap menunggu kala itu.

Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari Tiket.com dan nulisbuku.com #TiketBaliGratis

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s