Lilac

Rana melihat ke arah bunga Lilac yang dibelinya barusan, kebahagiaan menyesak dari mulai dashboard mobil sampai bagian terbelakang mobilnya. Bunga terbaring disebelahnya, tergolek indah di kursi mobil. Sesekali lampu merah memberhentikannya di perempatan, Rana menyunggingkan senyumnya sebab melihat bunga Lilac.

-o-

Cerahnya siang bercahayakan semangat pagi menyudut sinarnya di salah satu kawasan kota yang terbilang pusat keramaian. Sebuah cerita membesar dari omongan khalayak sekitar bahkan luar kota, bersamaan tumbuh kembangnya toko bunga dipersatuan jalan tersebut. Disini sebuah toko berdiri di apit gedung – gedung tinggi. Tidak seperti toko bunga lainnya berplang merek megah dan menyilaukan mata, bunga – bunga di toko ini hanya berjajar rapi menunggu pelaku romansa menyembangi mereka. Tanpa nama toko, tanpa plang merek

Namun bunga disini disebut – sebut sebagai bunga suci, bahkan ada yang mengatakan bunga disini adalah bunga yang dipetik dari kebun aphrodite. Dewi cinta. Tapi tidak sedikit juga yang mengutuk, bunga keramat kata mereka. Rose, tulip, aster dan banyak lagi dituding sebagai bunga keramat. Semua kabar yang beterbangan bersama burung di udara menjadi kisah tersendiri mempengaruhi pangsa pasar toko bunga tersebut.

“Selamat siang, cari bunga apa mas,” senyum bertabur jelas dari juru jual di toko itu menyambut Rana.

“Saya tidak tahu bunga seperti apa yang disukai wanita, bisa kasih masukan,” Rana membelakangi dan meninggalkan juru jual, masuk kedalam toko untuk melihat sederetan bunga terpajang rapi disana – sini.

“Maaf sebelumnya mas, apakah bunga ini untuk seseorang spesial dalam hidup mas?” Juru jual berhenti dari langkahnya mengikuti arah jalan Rana yang membelakanginya.

“Iya, untuk wanita spesial di hari yang spesial.” Tanpa menoleh sedikit pun, mata Rana masih sibuk jelalatan akan keindahan bunga – bunga itu.

“Apakah untuk pacar, Mas?” Juru jual mulai segan menanyakan hal pribadi menurutnya kepada calon pembelinya.

“Iya untuk pacar, yang mana ya mbak kira – kira?” Rana mulai membayangkan seseorang yang disayanginya menerima bunga pemberiannya, tergambar wajah pacarnya bahagia menerima bunga pemberiannya tersebut.

Maaf mas, saya tidak bisa memberi masukan, bila bunga yang mas beli untuk pacar mas,” Rana terkejut dengan perkataan juru jual tersebut, dan mulai melihat ke arahnya.

“Maksudnya? Tidak bisa memberi masukan karena bunga ini untuk pacar saya,” Rana mulai merasa ada yang aneh disini, namun Rana mencoba untuk tenang.

“Mas yang paling mengenal pacar masnya, jadi mas pasti tahu bunga mana yang sesuai untuk pacar masnya,” juru jual mulai memaksa senyumnya untuk menjernihkan kekakuan karena mengetahui bunga tersebut untuk pacarnya.

“Saya pilih yang ini saja, warnanya ungu dan pink,” Rana beranjak melihat sekeliling sembari menunggu bunga pilihannya terangkai.

“Terimakasih mas sudah mau menunggu, semuanya 50.000 rupiah,” setelah terangkai, juru jual tersebut menjadi kasir merangkap karena minggu adalah hari off untuk pekerjanya.

“Terimakasih, mbak,” setelah Rana barter bunga dengan uangnya, Rana melaju pergi ke arah kendaraan yang terparkir sejak tadi di depan toko tersebut.

“Sama sama, semoga pacar mas senang dengan pemberian masnya,” dalam hati terdalamnya dia tahu makna bunga pilihan Rana dan mendoakan semoga tidak ada masalah pada hubungan Rana.

Rose bermakna mengutarakan cinta, daisy berarti cinta dan kesetiaan, Tulip adalah cinta yang sempurna, Lily melambangkan kecantikan, Lilac cinta yang dipertanyakan. Setiap bunga memiliki pilosofi masing – masing, mungkin ini yang menjadi kekhawatiran juru jual terhadap bunga pilihan Rana.

-o-

“Apa seharusnya aku menelponnya ajak dia ketemuan, sepertinya tidak perlu aku kerumahnya saja,” di mobilnya, Rana bercelaru dengan kebahagiaan, terbayang olehnya wanita pasangannya.

Smartphone milik Rana bergetar, suara vokalis band punk rock asal Jepang Flying High by Good4Nothing, menjadikan nada pesanan singkat membuyarkan lamunannya di perempatan lalu lintas.

“Sms dari Alfi, kamu dimana boring nih, ngafe yuk” pesan singkat cukup mengutarakan isi hati pacarnya, boring bukan makna sebenarnya lebih tepatnya rindu kepada Rana.

Dimana fi, gimana di tempat biasa? Ok sent. Astaga ada polisi, hampir dia liat aku nyetir sambil main smartphone, bisa kena tilang nih,” Rana tau setiap agenda ngafe, alfi tidak banyak permintaan ingin pergi ke cafe mana.

Di cafe yang mau arah ke sekolah aja,  ketemu disana. Tidak seperti biasanya Alfi seperti ini,” di kepala Rana mulai mempertanyakan keganjilan sms yang di terimanya dari pacarnya, tapi Rana tidak mempersoalkannya.

Ok, ketemu disana dua jam lagi ya sayang.” Rana mengirimkan pesan terakhirnya dengan rasa kebingungan yang menyeruak keluar, namun bingung itu terkalahkan oleh bunga yang tertidur di kursi mobil sebelahnya.

Ok, sayang” pesan balasan penutup dari Alfi, Rana membacanya setelah itu melihat ke arah bunga Lilac tersebut.

-o-

Rana bersetubuh dengan waktu sejak setengah jam lalu, ditunggunya Alfi yang tidak ada kabar sedari tadi. Pesan singkat, telpon, dan berbagai jejaring pesanan dicoba Rana untuk mencari tau, tapi tidak ada kabar kejelasan Alfi sekarang ini. Kekhawatiran Rana menyelimuti meja cafe itu, bahkan ice tea pun tak sedingin setengah jam tadi. Smartphone mulai lelah dan hanya tiduran santai di meja cafe, lalu setelah itu deringan nada panggil mengusik rebahan santai smartphonenya.

Unknown Number? Siapa ini. Halo” Rana berharap panggilan tersebut dari Alfi, namun tidak.

“Kamu tidak perlu tahu siapa aku, Alfi ada bersamaku bila kau tidak ingin sesuatu terjadi dengan Alfi, datang sendiri ke sekolah, jangan mencoba untuk menghubungi polisi,” perasaan Rana mulai teraduk dalam satu wadah, emosinya meluap. Bukan kabar seperti ini yang ditunggu Rana.

“Hei BODOH, kau kira kau siapa bisa mempermainkan aku,” Rana tidak mempercayai panggilan tersebut, malah membentak seseorang yang jauh di talian panggilan disana.

“Heee,” suara terdengar seperti senyum sinis diujung sana, mematikan panggilan singkat yang berhasil membuat Rana panik.

“Sial dimatikannya,” Rana berdiam setelah itu, tidak tahu berbuat apa kemudian Line menambah kepanikannya. Seseorang mengirimkannya Video ke pesanan Line, tanpa nama profil. Didalamnya terekam jelas, Alfi dalam keadaan terikat di kursi dan sebuah kain menutup mulutnya. Setelah rekaman tersebut text tertulis

-bila ingin alfi selamat, datanglah sendiri ke sekolah, seberapa besar pengorbananmu di hari jadi kalian-

“Tai, siapa orang ini,” sumpah serapah terkeluar dari Rana, yang bergegas pergi ke sekolah.

Rana sesampainya di sekolah, dia tidak tahu tepatnya Alfi disekap. Namun tiba-tiba smartphone menjawab ketidaktahuannya.

-selamat datang dipermainanku
-disini aku yang pegang kendali
-aku bisa melihatmu sendiri dari sini
-jika aku menjadi kamu, aku akan ke ruang komputer bukan pergi ke tangga untuk menaikinya dan bertemu pacarmu
-teet

“Sial dia mematikan panggilan tanpa aku sempat mengatakan sesuatu” Rana tidak bisa berpikir jernih, dia memilih pergi ke tangga untuk datang menjemput Alfi.

-o-

Sesampainya di tangga, Rana mendapati tangga menuju ke atas terkunci dengan gembok kombinasi bernomor. Dan lagi smartphonenya berbunyi dari seseorang yang tidak lain adalah penculik Alfi.

-aku bisa melihatmu dari sini, bahwa kau memilih menaiki tangga
-apa mau, sialan
-hahaha apa mauku, aku mau kau tersiksa melihat kematian pacarmu
-sedikit saja kau sentuh dia, kau akan aku ku bunuh
-huu aku takut, hahaha buktikan kalau kau bisa, aku rasa kaulah yang takut disini,
-teet

“Kurang ajar, dia menguji kesabaranku, tidak aku maafkan,” pesanan Line berbunyi saat sumpah serapah terkeluar dari sebegitu kesalnya
Gambar sebuah meja, disuatu tempat di sekolah ini namun Rana melihatnya saat dia berlari ke arah Tangga tadi. Diikuti dengan pesan suara.

“Kalau aku jadi kau, aku memilih hidup dengan hina namun bisa bertemu dengan seseorang. Sent video bila kau sudah melakukannya”

“Apa maksudnya, tapi yang terpenting aku cari meja di gambar ini terlebih dahulu,”.

-o-

“Sama persis, ini mejanya” Rana mengecek meja tersebut saat dibukanya laci didapatinya sebuah jarum suntik tidak pasti berisi cairan apa dan tripod handphone serta sebuah kertas bertuliskan

-untuk bertemu seseorang yang dicintai sebanding dengan memilih menjadi pengidap HIV-

Rana mulai mengerti permainan yang menyudutkannya, bila Rana tidak menyuntikan cairan berwarna jernih kekuningan ke tubuhnya dia tidak mendapatkan angka kombinasi untuk membuka tangga.
Dengan nafas terengah Rana membulatkan tekad untuk memasukan batangan besi bersilinder ke lengan kirinya yang sebelumnya mencagakkan smartphone untuk merekam video yang akan di kirimnya. Setelah dikirim Rana mendapatkan telpon.

apa kau sudah mengecek keseluruhan meja di setiap sisinya
-apa maumu sebenarnya
-aku tidak menyuruhmu untuk bicara, disini aku yang pegang kendali
-setiap benda memiliki sisi atas dan bawah, samping kanan dan kiri.
-teeet

“Bagian bawah meja?” Rana langsung melihat bagian bawah dan mengambil kertas yang melekat di bawah meja.

_ _ 1 3

“Sekarang apa lagi, dua digit angka harus aku cari kemana,” berjalan Rana ke arah tangga menemukan kebuntuan, tapi langsung terpikirnya pilihan kedua saat pertama kali si penculik memulai permainan ini dan beranjak pergi kesana. Ruang komputer.

-o-

“Aku harus mulai dari mana, setiap sisi sudah aku lihat tidak ada petunjuk angka kombinasi disini,” Rana mulai putus asa, lalu pesan singkat masuk ke smartphonenya.

-jika aku jadi kau,  aku berpikir tidak semua siswa bisa menggunakan komputer

“Apa lagi ini, di situasi seperti ini nyawa Alfi dipertaruhkan, aku tidak bisa berpikir dengan jernih selama Alfi dalam bahaya,” Rana sangat mengkhawatirkan Alfi, dia mulai frustasi duduk di lantai bersandarkan dinding dan hanya melihat galery album foto di smartphonenya, dia menangis melihat senyum Alfi di setiap foto. Lalu saat Rana memalingkan senduhannya di antara barisan komputer, Rana membaca ulang pesan singkatnya.

“Jumlah komputer, mengapa aku tidak memikirkannya,” menghitung satu persatu komputer tersebut.

2 1 1 3

Langsung Rana berlari menuju tangga, dimasukannya satu persatu digit angka tapi tidak juga bisa terbuka.

-Sepertinya kau sudah menemukan semua kombinasi angkanya
-Aku sudah melakukan semua permainan sampahmu, kombinasi ini tidak bisa terbuka, dasar sialan dimana Alfi
-hahaha, dengarkan baik – baik, dahulu adalah dahulu, sekarang adalah sekarang, begitu juga ruangan komputer itu
-teet

“Akhh…..”

-o-

“Maksudnya dia apa, dulu dan sekarang,” Rana mulai bingung dan berpikir maksud yang disampaikan penculik, lalu tersirat dalam kenangnya.

Apakah maksud dia, bantuan komputer dari pemerintah 3 tahun yang lalu,” perasaan yang ganjil merasukinya, “darimana dia tahu tentang bantuan komputer itu, aku yakin dia pasti seseorang yang mengenal betul akan sekolah ini, bisa jadi dia siswa disini” pengandaian tak bersebab hanya dugaan yang bersanding di benaknya.

“Kalau begitu, jumlah komputer di ruang komputer bukan 21 melainkan 7” langsung Rana mengganti angka kombinasi, yang semula frustasi karena dipermainkan oleh penculik.

0 7 1 3

Kombinasi yang mengunci jeruji besi sebagai sebuah portal menaiki tangga lantai atas, akhirnya terbuka dan Rana bergegas berlari tak tentu arah menyingkapi setiap kelas hanya kursi kosong sejajar rapi yang dia temui. Nafasnya terus berlari sesak apakah mungkin daya tahannya melemah karena suntikan beberapa menit yang lalu. Demi menyelamatkan Alfi dia rela menyuntikan cairan yang tidak diketahuinya mungkin dapat menggerogoti sisa umurnya.

Dalam pencariannya menemukan Alfi, Rana merasa bahwa seseorang yang menyekap Alfi pasti orang yang Rana kenal dan juga mengenal baik tentang Alfi. Masih membingungkan Rana siapa seseorang tersebut, hanya ada satu nama siswa yang menjadi sebuah batu yang mengganjalnya

-o-

Mereka menyemak di depan ruang komputer, menunggu giliran mempelajari praktik komputer. Komputer menjadi salah satu barang istimewah di sini dan tidak semua sekolah memiliki lab komputer, hanya kebijakan sekolah yang membelanjakan kasnya untuk memfasilitasi komputer dimana saat itu pelajaran IT belum masuk dalam daftar kurikulum masih bersifat pengembangan diri masa itu.

“Siapa? tebak,” seseorang menghampiri Rana dari arah belakang, menutup matanya.

“Siapa lagi kalau bukan wanitaku,” Rana menarik tangan Alfi dari wajahnya.

“Kamu sudah selesai praktik komputernya Fi,” Rana bertanya kepada Alfi yang sejak tadi menunggu giliran praktik.

“Sudah, giliran kamu tuh, masuk lab sana,” Alfi menyuruh Rana masuk.

“Gak ah, aku ama kamu aja disini Fi” Rana malah bolos untuk sekian kalinya, demi berduaan dengan Alfi.

“Dasar kamu, bilang aja kamu kangen ama aku kan,” Rana hanya membalas dengan senyum sipu, akhirnya mereka berdua berlontar kata menjadi satu kesatuan romansa hampir satu, dua, bahkan tiga belas menit sudah terlewati.

“Rana, tau gak? Orang tua Jeri ke sekolah hari ini”

“Terus kenapa?”

Dengar – dengar sih, Jeri hilang dan kabur dari rumah”

“Terus kamu peduli,”

“Kamu kok gitu, dia kan teman kita, seharusnya kita harus peduli”

“Kamu saja yang peduli, aku gak”

“Kamu kenapa sih membenci Jeri”

“Jangan tanya kenapa deh, Jeri itu kan mantan kamu, jawab aja sendiri,”

“Kamu cemburu yaa,”

“Cemburu, sebagai pacar iya aku cemburu, sebagai teman aku gak peduli dengan Jeri,”

“Maaf deh lelakiku,”

“Alfi, aku mau masuk kelas,”

“Ow, yasudah. Bukannya kelas praktik hanya beberapa menit lagi”

-o-

Rana semakin terpenuhi amarah, karena Rana tahu bagaimana gilanya Jeri. Jeri akan melakukan apa saja untuk mengambil Alfi kembali.

“Sial, dimana dia menyekap Alfi,” Rana mulai tidak bisa mengontrol amarahnya, namun Rana langsung melihat poto Alfi yang dikirimkan sedari tadi. Poto yang mengubah hari istimewah mereka berdua. Berharap Rana dengan melihat poto Alfi yang terikat menambah kekuatannya untuk mencari Alfi.

“Poto ini, aku tahu dimana ini, dan ada yang aneh dengan poto ini” Rana langsung bergegas ke tempat yang dikenalnya.

-0-

  –  bink –
Saat penculik sedang mengirimkan pesan singkat kepada Rana, tiba tiba ringtone tersebut muncul dari arah belakang penculik tersebut.

“Permainan sudah berakhir, dimana Alfi” Rana masih berpikir bahwa penculik tersebut adalah Jeri.

“Hahaha, aku sudah menyekap Alfi di suatu tempat,” penculik tersebut terkejut bagaimana Rana menemukan ruang sekap tersebut. “Kau tidak pantas memilikinya Rana, hanya aku yang pantas memilikinya, karena aku mencintainya.”

“Jangan anggap, aku tidak mengenalmu karena hoodie dan topeng yang menutupi identitasmu,” Rana semakin yakin bahwa penculik tersebut adalah Jeri. Rana melihat pisau yang berada di genggaman tangan penculik tersebut, namun bukan pisau yang menjadi fokusnya melainkan sesuatu di pergelangan tangannya yang mengintip dari selah lengan hoodie penculik.

“Alfi dalam bahaya saat ini, aku meletakkan ribuan karet gelang di lehernya, kau harus menemukannya kalau kau memang mencintainya, kau bisa bayangkan betapa dia tersiksa dengan karet gelang tersebut,” Rana menjadi diam, kaku karena perkataan penculik tersebut. Amarahnya mulai lenyap seketika mendengar perkataan penculik.

“Semula aku tidak yakin, aku malah menduga kamu adalah Jeri, sejak kapan kamu bisa meniru suara lelaki,” Rana mulai mendekati penculik tersebut dengan langkah menderap perlahan di ruangan unit kesehatan sekolah.

“Apa maksudmu, apakah kau tidak mencintai Alfi, mengapa kau begitu sangat tenang,” Rana mulai mendekati penculik tersebut secara perlahan, semakin dekat dan dekat “Jangan mendekat aku peringatkan kau, aku akan membunuhmu,”.

“Pertama aku sempat tertipu dengan photo yang kamu kirim, dan aku percaya Alfi di culik, lalu semuanya ini, di sekolah ini. Mengembalikan siluet masa itu,” beberapa langkah lagi Rana bisa menjangkaunya, penculik itu.

“Aku bilang jangan mendekat aku akan membunuhmu menggunakan pisau ini,”.

“Aku yakin kamu tidak akan membunuhku,” Rana merengkuh penculik tersebut, memeluknya erat penuh dengan kehangatan, “Alfi, aku mencintaimu dan kamu tahu itu. Jangan beranggapan aku mengabaikanmu,”

Rana membuka pelukannya, dan melepaskan topengnya.

“Dari mana kamu tahu, kalau penculik ini aku?”

“Semula aku gak tahu, pertama yang menuntunku adalah photo yang kamu kirim, ikatan di photo itu setelah teliti ternyata longgar dan mengapa tidak terikat dengan kursi yang kamu duduki, lalu pesan yang kamu kirim, mengapa penculik mau tahu tentang hari istimewah korbannya, kemudian gelang pemberianku aniversary tahun lalu kelihatan dari tanganmu, dan lagi hanya aku yang tahu wanitaku memiliki phobia karet gelang”

“Hahaha, iya yaa,”.

“Tapi aku tidak habis pikir, mengapa kamu sampai seperti ini melakukannya, dan cairan itu mengapa?”

“Cairan itu hanya, cairan infus biasa, dan aku hanya ingin memberikan kejutan, aku tahu kamu suka komik Detective Conan. Aku hanya ingin melihatmu berperan sebagai Conannya yang sedang menyelematkan Ran, hehehe. Belum lagi aku hanya ingin mengetahui seberapa cintakah kamu padaku”

“Kalau kejutan seperti ini, aku sangat terimakasih dan harus sampai sebegininya kamu. Tapi alasan kamu mempertanyakan kecintaanku, aku sangat mencintaimu dan tidak akan membuatmu sedih. Walaupun belakangan ini aku sering mengabaikanmu, maafkan aku Alfi”

“Sudah, sudah, inikan hari aniversary kita, ayo kita buat harapan”

“Sebentar, aku gak beli kue, tadi aku beli bunga namun tertinggal di cafe”

“Bunga? Manisnya kamu, aku juga membawakan hadiah komik Conan edisi terbaru”

“Serius? Komik? Terimakasih Alfi,” Rana mengambil pemantik dari saku celananya “Ayo kita ucapkan harapan lalu tiup api dari pemantik api ini bersama-sama”

“Wuuussshhhh” Rana dan Alfi meniup api dari pemantik dan mengucapkan harapan kedepannya.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s