Lucid Dream

Salah besar kalau mereka pikir ini tempat yang sempit dan penuh dengan kehampaan. Sepersekian ukuran meter sebenarnya dapat melampaui batasan-batasan umum. Walaupun umum kelihatan memang sesempit batasan indera.  Dan batasan. Kenapa ada kosakata batasan. Sebuah konsepsi yang terlahir karena ketidakmampuan manusia itu sendiri. Lalu mereka menghadirkan sebuah penjelasan  kata-kata yang terpadan demi mempertegas sesuatu yang tidak bisa mereka capai. Meng-kambing hitam-kan sebuah kosakata karena kebodohan. Sehingga ketidakmampuan pun berlindung di sebalik kata batas.

Teruslah kalian berpegang teguh dengan konsepsi keilmuan bodoh yang menggerogoti daya nalar sedikit demi sedikit. Tanpa mengetahui dengan pasti hakikat ilmu sebenarnya, kalian mengatakan itu adalah ilmu pengetahuan. Logia. Semua yang diselingi dengan kata logia menjadikannya wacana keilmuan. Teoritas Yunani Kuno telah mencuci otak kalian. Impuls yang terlahir murni telah menyimpang dari tugas alamiahnya. Neuron terhantar tidak tentu arah. Otak pun menjadi usang karena dicekoki dengan hal-hal yang begitu banyak unsur subjektifitas dan obejektifitas bualan dunia.

Luas bisa terlihat luas kalau pikiran menafsirkan itu sebuah keluasan. Bahkan tempat ini begitu luas. Jasad bisa saja mereka kekang tapi pikiranku tidak. Aku bisa menerobos dinding yang ntah terbuat dari lilin atau terbuat dari kayu. Tidak penting dinding ini terbuat dari apa. Karena bila pikiran mengkehendaki dinding ini sebuah lilin maka itulah kenyataannya. Realitas ada selama pikiran merealisasikannya.

—-

Tahun-tahun pertama begitu terasa lambat bila dijalani dengan hal yang begitu sederhana, sesederhana menghirup udara. Terlihat tatapan itu menusuk ke ruang kosong dimensi paralel yang menimbulkan berbagai probabilitas. Langkah pasti setahap dengan koper yang kelihatan tua namun memiliki kasta brand ditahun jayanya-barang tua yang berusaha beradabtasi dengan lingkungannya.

“Lening. Fred Lening” sebuah nama yang jelas untuk ukuran penamaan manusia.  Menyodorkan tangan yang dibalut jam tangan mewah, mungkin milik brand ternama atau bahkan limited edition.

“siapa kau, apa kau teman sekamarku” jawab pria remaja stelan alakadarnya dengan begitu tepat pada sasaran. Walaupun terdengar tidak bersahabat tapi itulah dia.

“huuuu menyeramkan, setidaknya perkenalkanlah namamu terlebih dahulu freshman. Apakah ibumu tidak mengajari hal yang dinamakan kesopanan. Atau ibumu sibuk menjajahkan tubuhnya agar kau bisa masuk di sekolah ternama ini”

“Aku tidak peduli dirimu senior atau apalah sebutan bodoh itu, sekedar panggilan murahan bagiku. Dan jangan sesekali kau berlagak tau akan kehidupanku” pergi menjauh dan melanjutkan mencari ruangan.

“Kita akan bertemu lagi” dia berteriak tapi tidak terlalu kedengaran dari jarak tempat remaja koper tua, terlebih fokus hanya tertuju pada penomoran pintu ruangan.

Ramai orang di lorong namun mereka hanya melihat dan tidak menyapa, sesekali berbisik kecil kepada teman obrolannya. Respon yang sangat wajar dari mereka melihat seseorang baru dengan sadarnya berjalan seakan sudah lama mengenal tempat ini atau bisa juga dikatakan aneh. Bermacam sorot mata yang melayang kearahnya seakan menodongkan senjata dengan amunisi penuh dan siap untuk meledak kapan saja. Sementara sebagian sibuk dengan sebuah permainan bodoh tentang mendiskriminasi seseorang anak baru yang tersesat dengan nomor ruangannya.

-klik-

“hi” terlihat jelas seseorang sedang berbenah dengan koper terbuka. Koper yang jauh berbeda dengan miliknya menandakan berbeda juga pola pikir keduanya. Konsep pikiran manusia terlihat dari sesuatu yang dia kenakan atau gerak tubuh manusia tersebut yang bisa menghadirkan bermacam-macam hipotesis.

“oh, hi” tidak bisa memulai dialog pertemanan dan itu adalah sebuah anugerah yang dia miliki

“namaku Jason” sahutnya sambil mencari-cari sesuatu ditumpukan baju di dalam koper.

“dan siapa namamu?”

“panggil saja aku EL” langsung beranjak ke tempat tidur kosong di sebelah tempat tidur yang sedang berdiri Jason disana.

“ok, nice to meet you” jawabnya santai. Tidak memperdulikan siapa nama sebenarnya yang terletak di kartu identitas dan itu merupakan pertanda baik bagi dirinya. Tidak terlalu mencampuri urusan ideologinya kelak.

—-

Menerawang dalam dan semakin dalam di alam yang tidak tahu ntah dimana. Seakan mimpi ini terlihat nyata atau kenyataan ini yang terlihat seperti mimpi. Tidak dapat aku membedakan mana yang nyata sekarang. Mencoba mengingat namun tidak bisa kujangkau. Hanya terlihat sesuatu kelebat dan secepatnya hilang. Rumah sakit atau sebuah penjara dan siapa yang terbaring di tempat tidur, tapi tidak seperti tempat tidur lebih mirip tempat penyiksaan. Semakin aku berusaha mengingat semakin memudar ingatan itu.
“Ardell, waktunya kamu terapi, malam ini kamu mimpi lagi ya, saya ingin dengar”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s