Mawar

Sebut saja para tuan – tuan itu adalah lelap yang merahasiakan sesuatu hal terhadap kami, dia dan aku. Rahasia yang teramat pelik dalam satu hembusan napas yang berbeda namun tetap sama, hembusan napas yang bertasbih terhadap pencipta kemegahan alam.

Malam itu tidak sama dengan malam kebanyakan, riak bintang seperti biasanya tidak menggoda bulan. Dingin, senyap namun tak hening. Simponi katak mulai menyuarakan kidung puji – pujian terhadap indahnya malam. Indah tanpa bintang, hanya bulan yang teronggok ditemani cerahnya langit.

Dia masih berkutat dengan lembaran kertas lama itu, membalikkan ini dan itu mengaitkannya dengan fakta ini serta fakta itu. Namun kenang hanya malu, membisik bisik lugu kepadanya. Dia yang masih diobsesi terhadap lembar demi lembar sebuah buku.

SEPERTIGA PAGI DI SEBUAH SISI JALANAN KOTA, BUNGA MEKAR DIAPIT GEDUNG TUA, BUNGA ITU MAWAR” di sebuah sisi jalanan kota, bunga mekar diapit gedung tua,” Dia membaca lembaran tertulis tertanggal 3 bulan lalu. “Tidak mungkin, benarkah ini” Tanggal yang sama saat perkenalannya dengan wanita pemilik senyum. Senyum yang memutar dunia pada poros bumi.

Penasaran mencekam, dicarinya lembaran tertanggal ketika wanita pemilik senyum tidak lagi tersenyum padanya. Tanggal ketika dia dan dunianya mulai berhenti, tidak lagi berputar.

“MAWAR, BUNGA ITU MULAI BERMAIN DENGAN KUMBANG, SATU, DUA, MUNGKIN TIGA” Dia mulai ambil pusing dengan lakaran diksi pada buku tersebut, dengan dilema cintanya. “Benarkah ini, namun aku masih tidak percaya”

Salahkah waktu yang memberi kesempatan kepadanya untuk menemukan buku tersebut. Di rumah tua bertahun lalu, dia berkenalan dengan buku itu berkenalan dengan segala lembaran yang meragukan pikirannya.

Buku itu tertumpuk debu tanpa sadar terbawa lari dari rumah almarhum neneknya. Meninggalkan sekawanan koleksi buku kakek lainnya. Kakeknya seorang penulis, menuliskan kata merajut makna mencari nafkah.

Aku juga dulu punya kakek, berbeda tapi tetap sama. Sama tua sama juga suka tulis. Aku masih ingat saat kakek sedang menulis dengan mesin tulis yang berisik itu. Kata nenek itu mesin tik.
“Kakek lagi apa” nada tanyaku sepertinya tidak mengganggu, tapi kakek kelihatan seperti terusik.
“Lagi nulis, nih Didit main sana” aku saat itu tidak tahu benda yang disodorkannya adalah pulpen dan buku. Aku mempertanyakan pikirku permainan apa yang dihasilkan pulpen dan buku.

Sadarku kabur, tangan tidak terkendali. Pulpen pemberian kakek saat itu mempermainkan imajinasiku. Dinding kamar kakek sangat menggiurkan, jemari mulai tergoda mengajak pulpen bersenggama. Tergores acak, tercoret kacau. Dinding mulai penuh dengan gambar goresan dan coretan asal.

Kakek setibanya sadar dari lamunan yang memaksa imajinasinya sedari tadi untuk menulis, terperanjat dengan dinding kamarnya berubah warna dari cat putih kusam menjadi putih kelam dan bertekstur sana sini.

“Haduh, Didit . . , kakek harus bilang apa ke nenek, habislah nenek pasti marah ama kakek ini” namun dibalik ketakutan kakek akan amarah nenek, kakek tercengang dengan torehan pulpen di dinding kamar umurku adalah tak wajar menggambar objek sedetail itu.

“Didit, ini apakah kamu yang menggambar? Tidak mungkin, tidak dapat dipercaya” lalu kakek mengubah gambarku menuliskannya dengan padanan kata khasnya.

Aku bahkan tidak ingat bagaimana aku bisa menggambar dinding itu, kakek menyuruhku menggambar lagi tapi tidak bisa. Yang ada aku takut melihat kakek menjadi terobsesi dengan coretan pulpen menggambar di dinding. Dinding seluruh rumah perlahan tanpa sadarku mulai tercoret lagi, lagi dan lagi kakek berhasil menutupinya, menyembunyikan tentang gambar itu dari nenek. Menghapus coretan setelah kakek menulisnya.

BIMBANG DIKECAMUK HERAN BERUNTUN DIGUMUL GUSAR DIHUJAT PIKIRAN, LALU TERJAWAB OLEH ANGIN

Pikiran dia bercelaru di perjalanannya mencari keabsahan kebenaran manuskrip kumpulan sajak bertajuk Almanak Love. Kumpulan sajak karya kakeknya, membingungkan dan mengherankan. Sajak itu hampir mengganggu pikirannya karena menurutnya sajak tersebut adalah tuntunan perjalanan hidupnya. Dan sekarang menuntunnya ke rumah sakit jiwa.

“Dokter, sebenarnya apa yang terjadi dengan kakekku” dipertanyakannya sebab kakeknya menjadi tidak waras. Dilihatnya dari kejauhan tatapan kakek hanya kosong, terduduk di kursi taman rumah sakit tersebut.

“Saya pun tidak tahu pasti, menurut diagnosa ini hanya trauma kecil masa lalu, tapi melihat kondisinya sekarang bukan sekedar trauma kecil. Ada sesuatu hal yang membuatnya shock berat” ungkap dokter.

“Aku akan menemuinya dok, ada hal yang ingin aku tanyakan padanya”

“Semoga saja kamu dapat jawabannya, bertahun dia hanya menatap kosong tanpa sedikit pun kata”

“Terimakasih dok, ya semoga”

“Kalau ada sesuatu hal, hubungi suster penjaga, atau perlu denganku aku dikantorku”

Angin saat itu ditiup senja memaksa masuk ke lamunan orang tua disana, itu kakeknya. Menatap lurus ke arah yang disebut tanda tanya. Tanda yang mempertanyakan kepastian diselimuti ketidakpastian. Dia datang menghampiri tanya yang tidak pasti, duduk tepat disebelah kakeknya, sambil memegang naskah sajak Almanak Love.

Hampir mereka berdua disesatkan oleh waktu. Kakeknya dan dia duduk tanpa sebarang kata. Setengah jam yang singkat dipandangi rumput taman, bertabur para penebar imajinasi masyarakat di Rumah Sakit Jiwa ini. Imajinasi membuat dia sebagai tontonan menyatu dengan kursi taman.

Kek, aku ingin menanyakan sesuatu padamu, tentang tulisanmu” dia diam sekejap.
“Aku masih heran tentang manuskrip Almanak Love. Sajaknya mengganggu pikiranku kek, aku merasa tiap diksinya mewakili kehidupanku kek. Lalu mengapa judulnya Almanak Love-kosa kata Indonesia dipadankan dengan kosa kata Asing” celoteh tak terdasar tak sengaja terkesiap namun kakeknya tetap diam.
“Bila diartikan kata demi kata berdasarkan wikipedia Alamanak berasal dari kosa kata serapan bahasa arab berarti musim, iklim-yang menginformasikan secara tabular beberapa hal disusun secara kalender, data astronomi dan berbagai jenis statistik terdapat pada almanak juga. Lalu love, cinta-sebuah emosi tentang sayang dan filosofinya memotivasi sifat baik yang mewarisi semua kebaikan”

“Rasakan keheningan hembusan angin, kamu temukan jawabannya” tiba tiba kakek itu terucap lalu dia terkesiap.

—-

Tentang angin, aku jadi ingat ada satu angin di sore yang meredup berhembus dalam satu titik. Kelopaknya menggoyahkan birahi setiap memandang, padahal saat itu aku belum berkenalan dengan tuan birahi. Aku pun heran, baca tulis belum lekat dalam pikiranku. Namun birahi mengganggu. Mawar menyapa dengan kelopaknya. Aku terbangun dalam diam yang lelap.

“Didit tidak menggambar hari ini” kakek menerorku seperti hari hari itu, selalu bertanya tentang gambar. Kepalaku pusing.
“Ayolah didit, biasanya setelah kamu bangung, kamu menggambarkan sesuatu di dinding, tunjukan pada kakek dimana gambar itu” aku masih bertanya, sejak kapan aku pandai menggambar, soalan ini menggangguku, kepalaku pusing, dan kakek mulai pusing. Kami berdua pusing.

Dia mulai berkenalan dengan angin, sejak saat itu sedetik terasa mengakrabkannya bertahun-tahun dengan angin. Angin menyentuh lembut imajinasinya yang tidur dalam kesenyapan. Lalu bangun.

“SERPIHAN ANGIN MENGANTARKAN KELOPAK MAWAR BARU UNTUK SI KUMBANG PINCANG” kakeknya terucap seketika saat dia bangun.

“Maksud kakek?” Kakeknya hanya menunjukkan naskah sajak kepadanya.

“Aku tidak gila, semua orang tidak percaya bahwa kamu menggambar saat kamu tidur” dia heran, dan semakin heran melihat gambar di akhir naskah yang semula tidak ada.

“Aku tidak mengerti maksud kakek” dia baru saja terbangun, namun kakeknua sudah mulai melucuti pernyataan

“Aku yakin, ada makna tersendiri dalam gambar setiap gambar Didit, namun aku tidak tahu apakah penting atau tidak, namun selalu gambar Didit kebanyakan menggambar mawar yany berarti perlambang pernyataan cinta” kakeknya ucapkan heran kepadanya.

Aku adalah Didit, Didit adalah dia bertahun-tahun lalu. Bertahun lalu juga kakek menyendiri dalam tanya di rumah sakit jiwa ini.

Iklan

2 pemikiran pada “Mawar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s