Rindu Dalam Diam

Y:

Faktanya kehilangan.

Nyatanya diam tanpa sebab namun sering dihantui.

Mirisnya bongkahan rindu membatu di dasar hati.

Ironisnya kenangan menghampiri namun lari.

Dan resmi aku kehilangan kamu.

D:

Bukankah kehilangan itu kita yang ciptakan sendiri?

Sengaja berlari dan melupakan.

Sengaja bertahan namun tak mengungkapkan.

Nyatanya semua merasa hilang dan menghilang sekelebat mimpi.

Y:

Ingatlah, terkadang rindu lebih baik daripada pelampiasan rindu.

R:

Mereka pasti berbeda, tidak akan sama dilihat dari segi mana pun.

Kecuali yang sama itu adalah sama.

Kalau kau diam siapa yang tahu,

tembok pun tak bergetar karenamu.

Apakah diam bisa menelanjangi pikiran kita untuk beradu?

Y:

Diamku untuk mencari cara merobohkan tembok itu.

Percayalah kekuatan rindu dalam bait doa.

D:

Terkadang diam merupakan cara terampuhnya.

Mungkin ragu atau sedang menahan pilu,

mungkin juga sedang memilih waktu,

merobohkan tembok yang kau bangun.

Aku percaya kekuatan rindu dalam doa,

dalam doa ada kekuatan bernama rasa.

R:

Lalu, aku percaya kekuatan diam dalam doa,

lebih dalam maknanya daripada seubah ucapan.

Sebelum tembuk itu hancur, mungkin diam lebih baik.

Rindu Yang Diam:

Diam, salah satu bentuk bicara kan?

Hancurkan saja temboknya biar ramai. . . .

#PerangDiksi from R , Y, D dan satu lagi inisial D

Iklan

2 pemikiran pada “Rindu Dalam Diam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s