Negeri Para Semut

Di negeri ini aku hanya menempati kasta terendah. Yang paling tertinggi adalah para penjaga, diikuti para pemburu dan para pekerja. Aku terlahir dari rahim pekerja rendahan, seberapa giat aku belajar tidak merubah kasta yang aku tempati saat ini. Duduk dibangku sekolah yang lulusannya dipersiapkan untuk menjadi para pekerja. Seperti semua sudah diatur tuhan, kami terlahir dengan kasta disini.

Aku tak kenal ayahku, dan ibuku aku pun tak mengenalnya karena di negeri ini kami kelihatan sama hanya ukuran badan yang membedakan pekerja dan para pemburu serta penjaga. Ibuku mungkin mati saat bekerja mencari bahan makanan untuk membangun negeri ini, bisa jadi mati karena cuaca terlalu ekstrim, atau mati terjerat rantai makanan. Mati sia-sia menjadi seorang pekerja, berbeda dengan para pemburu yang mati. Mereka para pemburu yang mati akan di bangun monumen megah seperti altar pemujaan, mengenang jasa para pemburu yang berjuang memperebutkan prasasti Gilley. Lalu kami para pekerja menjadikan mereka semacam tuhan yang memberikan kami semangat bekerja yang akan mati tanpa dikenang.

Setiap saat masuk sekolah, pelajaran selalu itu-itu saja, cerita lama tentang prasasti Gilley. Konon prasasti perdamaian ini pernah berada di negeri kami, sekitar 21 kurun waktu yang lalu. Selama prasasti Gilley berada di negeri kami, katanya perdamaian negeri ini diberkati oleh prasasti tersebut. Aku jadi berpikir bagaimana cara untuk merebutnya kembali, agar negeri ini damai dan tidak ada diskriminasi hak serta penggolongan kasta, lalu aku bertanya. Tapi aku sudah terlalu bosan mendengar jawaban guruku yang juga golongan para pekerja, aku tidak menanyakannya lagi sejak saat itu. Dia hanya mengatakan, pekerja tidak akan sampai kapanpun menjadi pemburu atau penjaga, cukup kalian mendo’akan para pemburu merebut kembali prasasti Gilley dari negeri seberang.

Negeri seberang, negeri yang dimaksud adalah negeri dibalik pohon mahoni. Kami sama namun beda, berbeda warna, setiap saat negeri kami mengirimkan para pemburu untuk merebut prasasti Gilley dari negeri seberang. Setiat saat berperang untuk merebutkannya, namun sedikit yang kembali dan membawa kekalahan. Kalah karena tidak membawa pulang kemenangan perang.

Lalu saat aku dan beberapa temanku yang juga calon para pekerja kompeten, sedang belajar bahan makanan yang layak untuk dikumpulkan untuk persediaan musim sulit pangan. Kami lumayan jauh dari rumah, semacam study tour. Setiap kali study tour ada saja yang tidak kembali.

Seketika itu koloni pemburu sedang bersiap untuk menyerang negeri dibalik pohon. Aku putuskan untuk mengikuti mereka berperang dan menjadi salah satu yang tidak kembali. Kami semakin jauh dari negeri, seruan semangat berperang menggema.

Tidak sampai di negeri seberang, koloni negeriku bertemu dengan serdadu dari negeri seberang. Aku melihat mereka bertarung, saling membunuh demi keyakinan mereka, membunuh demi kesetiaan bagi negeri. Hanya melihat dari jauh, karena kami dipersiapkan untuk bekerja sedangkan mereka belajar untuk dipersiapkan berburu dan berperang. Tersadar aku ditangkap.

Perang usai, hanya meninggalkan bangkai.

Persidangan di Negeri balik pohon mahoni.

“Saya sudah membaca pengakuan kamu” pemimpin sidang Negeri seberang.

“Saya rela menerima hukuman apapun, namun saya mohon kembalikan yang telah menjadi milik negeri kami selama 21 kurun waktu, prasasti Gilley yang bisa menciptakan kedamaian negeri” suasana persidangan semakin ricuh.

“Kami tidak pernah mengambil apapun dari negeri kalian, kamilah seharusnya menuntut dikembalikannya mahkota Jeremy. Mahkota ini adalah simbol keadilan negeri ini”

“Maksudnya, tidak ada yg berbentuk mahkota di negeri kami..”

“Bila kamu tidak ingin memberikan informasi keberadaan Mahkota Jeremy yang bersejarah kepada kami, maka kamu harus mati disini. Di negeri semut merah”

“Mahkota Jeremy dan Prasasti Gilley? Keadilan dan kedamaian apa maksud semua ini. Jangan-jangan sejarah hanya kebodohan yang diciptakan untuk memperbudak negeri semut hitam, dan juga negeri semut merah, negeri kita”

Semua dewan majelis persidangan negeri semut merah tercengang, dan berakhir dengan tanda tanya. Benarkah sejarah diciptakan untuk membodohi negeri.

-o-

*terinspirasi dari perjuangan Jeremy Gilley maka terlahirlah Fantasy Fiction ini. Jeremy Gilley adalah aktor berkebangsaan Inggris, seorang filmmaker, dan penggagas organisasi nirlaba Peace One Day (wikipedia). Yang sekarang lebih dikenal dengan hari perdamaian sedunia 21 september.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s