Realitas Rena Mayia

Senja beriringan masuk menembus jendela kaca, membias menjadi cahaya temaram. Merah, brown gelap, dan pewarna lain. Di sini buku sesuka hatinya, terkulai lemas di karpet hijau karena seharian dijamah, atau sekedar merebahkan tulang-tulang buku mereka agar tetap renggang. Sebagian besar buku disini memang kelihatan tua, ada yang seumuran dengan orang tuaku.

Orang tua, tanpa sadar aku memegangi bingkai kayu di meja kerja ini. Ayah, ibu dan aku tertera disana, perpustakaan lama menjadi latarnya. Rumah ini memang berbeda jauh dengan gambar di bingkai. Ada sofa, rak buku yang menggantung di dinding, kelihatan stylish dan bergaya, sengaja ruangan ini aku disain agar menumbuhkan minat baca bagi pengunjung.

Mataku mengedar ke ruangan ini, sekarang, dari meja kerja tempatku mengarsip buku ataupun hanya sekedar tiduran. Aku merasakan hangat dari pundakku, aku merasa ibu memegang pundakku dan ayah disampingnya. Aku tak mau digugah, biarkan semua ini berlalu semestinya. Hangat dan damai.

“NOT”

Mataku terpejam berusaha mencari kenang yang masih tertinggal. Samar, ibu yang tersenyum ke arahku.

“NOOOOT.”

Masih buram, ayah menggendongku dari terlelap. Lagi-lagi hangat dan hening.

“RENA MAYIA!”

“Iya, saya” aku tergugah, hangat itu hilang. Sirna seketika. “Kau?” Heran pandangku

“Not ko ngapain” mengapa harus ada lelaki ini.

“Jangan panggil aku sukakmu. Namaku Rena” laki ini namanya Yoga, dan selebihnya tidak ada yang penting dalam dirinya.

“Not, aku pinjam buku ya” aku beranjak dari tempat dudukku, meletakkan kepingan kenangan pada tempat semula. Menjauh dari Yoga.

“Gak. Gak boleh, balekan dulu buku yang ko pinjam” acuh, aku berjalan dan menimang buku yang telah terlelap.

“Please, boleh ya Not, yang lain pasti aku balekan kok” aku diam, masih menyibuk memindahkan buku, kembali di tempat tidur mereka. “Boleh ya, gini aja, kita tukaran sama buku yang baru aku beli, gimana?”

“Terserah” semoga setelah ini dia pergi menjauh, ambillah buku sesukamu. Aku lagi ingin sendiri.

Kembali hening, aku suka, aku suka keheningan di perpustakaan walaupun aku tidak terlalu bersahabat dengan perpustakaan. Terkadang kenang yang satunya singgah mengganggu, dan sepertinya pikiranku akan mengenang kejadian itu. Tidak, jangan, jangan sekarang.

“Eh Not” aku tidak mengerti, apa lagi yang diiinginkan Yoga, bukannya buku sudah diambilnya.

“Apa lagi?” Aku kesal, tapi sedikit terimakasih, kalau saja Yoga tidak mengagetkanku kenangan itu akan merasuki pikiranku.

“Aku mau masti-in aja Not, GoodReads Medan bulan ini gathering di sini ya?” tanyanya serius.

“Iya, terus apa lagi” aku masih cuek.

“Gak itu aja kok, nih bukunya Not, seru loh, aku tinggalin di meja ya, ko harus baca” dia ternyata berkata benar akan barter buku. Semoga bukan buku fiksi.

“Ya” aku sudah lama melupakan caranya mengeja. Membaca, apakah aku sanggup. Yoga ini, aku tidak mengerti mengapa mudah sekali akrab dengan manusia planet yang satu ini. Ketika aku memilih menyingkir dengan kemanusiaan lain, dia datang seperti teman lama yang tidak pernah disembangi, temu ramah, lalu rindu memuncak. Nyatanya, beberapa pekan aku mengenalnya. Aku tidak tahu sisi silam kemanusiaannya, dan dia tidak pernah tahu sisi silam seorang Rena Mayia, Renot baginya. Pertemanan singkat, sesingkat aku juga harus mencari nama untuknya, Yogek.

Aku mengemas daftar buku baru di mejaku, menandai judul memarka nama author di sistem komputer. Lalu cover buku yang tergeletak di sudut meja menculik perhatianku, buku dari Yoga. Bertajuk Fiksi. Pria Sunyi.

Buku fiksi ini masih perjaka, belum mengenal manis dan kebanyakan pahit dari sudut cerita di dunia. Masih berlapis plastik dengan art cover seorang pria di kerumunan, tidak bisa melihat dengan jelas mimik wajahnya karena dia menunduk. Tanpa sadar aku mencari synopsis dari Pria Sunyi.

. . semua akan merasakan titik jenuh, dan aku jenuh berbagi udara dengan kalian . . /Pria Sunyi

“hampir saja, aku harus pergi” menyandang tas kecil, lalu bergegas meninggalkan rumahku, rumah perpustakaan, melanjutkan harapan itu. Sisanya aku tak sadar.

Aku seperti mengenal tempat ini, tapi dimana, mataku hanya menyajikan siluet kenangan, tapi tidak bisa mengeksplorasi tiap ruang teras rumah tua ini. Yang aku tahu rumah ini seperti rumah adat, mungkin suku Batak atau suku Padang.

Wanita tua keluar dari rumah ini, menyambutku, senyum bersemi dari wajah keriputnya, dan aku kenali dianya adalah nenekku. Aku bertanya kakek dimana, tapi pertanyaan itu bukan kehendakku, terucap begitu saja. Nenek hanya mengangguk lalu tersenyum lagi, memaksa keriputnya di senyum yang kedua. Setelahnya kami merengkuh erat pelukan hangat, aku bisa merasakannya. Dan melesap hilang.

“heeee . . ” mataku tersadar, pening merunut perlahan, namun rasanya damai. Tentram dan sunyi, tempat nyaman kedua setelah rumahku, rumah para buku. Masih kutelusuri sumber kedamaian ini, bau kedamaian yang menyengat datangnya dari arah gelasku.

Kuraih gelas di mejaku, tanganku tertahan, oleh seseorang.

“Lepas tanganku” tangannya hangat, tanpa kupersilahkan duduk, dia sudah berada didepanku.

Tidak banyak bicara bahkan tidak ada kata yang terucap, dia hanya senyum, aku bisa melihat bibir tipisnya yang menyungging, matanya tidak aku lihat. Lagipula aku tidak ingin dia tahu bahwa aku seorang librarian yang menghabiskan tiap malam di bar mencari sisi kedamaian yang hilang. Ada yang bilang dari mata kita bisa tahu karakter hidup seseorang, itu yang aku takutkan.

Dia seorang pendengar yang baik, lain dari itu aku tidak tahu. Tiba-tiba aku menghujaminya dengan cerita yang terbual bersama tegukan kesekian kalinya.

“Lucu gak? Seorang anak kecil, bermain api menyebabkan kebakaran hebat.” Pria ini diam mendengarkan. “Lalu ibu dan ayahnya terbakar mati, he he” aku tertawa tertahan dibalasnya dengan senyum.

Lain cerita namun sealur, aku dan dia masih alot berbual, aku si pembual dia mendengarkan. Mungkin pikirnya dunia sudah gila, tapi bagiku dia yang gila, pergi ke bar tanpa pesan sesuatu. Pria aneh.

Dia pergi tanpa kesan, seperti pertama dia duduk tanpa permisi. Memunggungiku, aku hanya memastikan dia bukan hantu aku melihat punggungnya, pada saat itu barulah aku tahu, aku menjadi sumber perhatian seluruh pengunjung bar. Di sudut meja sana tatapnya sinis kearahku seakan jijik dengan kelakuanku, apa yang aku lakukan, aku lupa. Di belakangku seperti ada sekoloni yang bergunjing tentang wanita gila dan sebuah buku. Penasaran, aku mencari sosok wanita itu, memasang radar di sepasang mata berusaha mendapatkan sosok wanita gila dan sebuah buku. Aku tidak menemukannya, apa peduliku dan apa peduli mereka.

Waktu memang kejam, sesukanya saja mengganti malam jadi pagi. Terbangun di atas sofa ruang baca, mengapa. Aku mencoba mengingatnya, kemarin hari sabtu, hari ritual pergi ke bar dan bertemu sang pencipta damai, tapi kemarin beda. Seorang pria.

Aku masih sebangsa dengan manusia, agar seperti manusia pada umumnya, bangun tidur, hal pertama yang dilakukan adalah melihat handphone. Walaupun tak ramai aktivitas media sosialku, tapi ada saja yang membuat tangan ini memegang handphone terlebih dahulu. Hanya ada email pemberitahuan dari goodreads.com tentang buku terbaru, spam menurutku. Dan satu lagi pemberitahuan whatsapp dari Yoga.

yoga; Not, bangun.
yoga; Tau gak.
yoga; Koleksi buku orang tuamu memang keren. Aku sampe gak tidur bacanya.
yoga; Seorang anak kecil yang mempunyai kemampuan memanipulasi api. Lalu membakar seluruh desanya.
yoga; Aku harus berterimakasih udah ko pinjemin.
yoga; Btw. Pria Sunyi, gimana, seru?

Aku bahkan tidak berniat membacanya, memang hanya sedikit, sepenggal sinopsis, setelahnya aku letakkan di meja. Aku beranjak dari sofa hanya ingin memastikan buku tersebut, tapi tidak ada. Seingatku ada di meja sebelum aku pergi. Aku memeriksa sekitaran meja, tetap tidak menemukan buku itu. Mungkin aku yang lupa, pasti ketemu dengan sendirinya.

Pagi yang tepat untuk menyesap kopi mandhailing arabika. Jangan kenali kopi dari cumbuan pertama, rasakan yang kedua, ketiga, lalu seterusnya. Rasa pahit berangsur hilang, maka misteri terpecahkan. Ku letakan mug kopi, kesandarkan lagi punggung ini di sofa, dan akhirnya. Buku novel Pria Sunyi menemukanku, di dalam tas yang mengangah, memandangiku.

“Ternyata di tas” aku mengambilnya, tapi dia sudah tak perjaka lagi saat aku temukan.

“Apa aku sudah membacanya, gak mungkin” lembaran demi lembaran aku buka, ada lipatan di selembar halaman sebagai penanda buku.

“Buku ini tertumpah alkohol, apakah aku membawanya ke bar” tidak mungkin aku membacanya, sejak kematian ayah dan ibu aku tidak membaca buku fiksi lagi. Aku takut hal buruk akan terjadi.

Setelah kebakaran hebat di perpustakaan ini 10 tahun yang lalu, aku tidak mau membaca lagi. Sebenarnya aku hanya melanjutkan impian orang tuaku tinggal di rumah pustaka ini, memotivasi orang banyak untuk membaca. Aku takut berada di perpustakaan ini, takut berada di rumahku sendiri. Dengan buku disekitar, keinginanku akan membaca tidak bisa berhenti, akhirnya aku membaca majalah atau sekedar rubrik artikel. Bacaan yang tidak mengusung unsur fiksi di dalamnya.

Tapi selain kenangan mengerikan itu, rumah ini juga adalah kenangan indah, sebab itu sebagian tempat aku tidak mengubah dekorasinya. Salah satunya meja kerjaku, meja kerja ayah. Dulu aku selalu duduk di kursi kerja ayah, sesekali ibu menemaniku dan ayah membaca buku di sudut rak buku. Demi kenangan itu, itu aku meninggalkan nenek sendirian di desa, kakek sudah meninggal saat aku masih bayi. Tinggallah dia seorang diri, nenek tidak ingin tinggal di kota, nenek ingin tinggal di desa dan menghabiskan nafasnya di desa begitu ujarnya saat aku pergi. Peluk dan isakan tangis tak terbendung saat itu. Nenekku orang yang tangguh, dialah yang merawatku sejak umur 12 tahun. Kopi ini membuat aku jadi merindukan nenek, minggu depan aku harus ke rumahnya, sudah lama sekali.

-notif whatsapp-

yoga; Not aku di depan rumahmu nih, mau balikin buku.

Apa yang harus aku katakan, buku ini sudah kusam dan kesan lembab di beberapa halaman, lepek. Besok aku beli yang baru saja, sebagai gantinya.

rena; Bukumu gak tau keselip dimana?
yoga; Bilang aja belum siap bacanya, bukain cepetan, aku balekan buku aja kok, mau kondangan lagi nih
rena; Ciye kondangan, sama siapa
yoga; Mau tau aja.

Di depan pintu rumah buku.

“not ini bukunya, aku langsung pergi yaa”

“kamu, kamu yang kemarin di bar kan”

“aku, mana ada aku ke bar, seharian di rumah baca buku”

“bukan kau yog, temanmu, yang di belakangmu itu”

“aku sendiri loh kesini”

Rena hening, realitas maya memanipulasi benaknya.


Diikut-sertakan dalam #tantangannulis – @jiaeffendie

Dan didedikasikan untuk GoodReads Medan

Latar di Medan, jadi maaf kalau logatnya buat reader pusing. 🙂

Awalnya nulis cerita ini mau ambil yang ketakutan tiba tiba berujung sebuah rahasia. Sangat bermanfaat tips penulisan karakter dari mbak Jia, aku alami sensasi pembrontakan dari karakter saat aku menulis ceritanya. Terimakasih mbak, terimakasih juga bro Septian Davi Lubis yang kasih info ini.

Iklan

4 pemikiran pada “Realitas Rena Mayia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s