Pria Sunyi

Tidak pernah aku cari tahu sejak kapan hobi ini menjalar di dalam tubuh dan membodohi segala kesibukanku. Angka, neraca, terkadang laba dan terkadang rugi. Atau sejak angka bertemankan sunyi, sunyi yang mencari jati dirinya diremang malam, mungkin juga saat neraca tidak mampu mecatat keindahan langit.

Kesibukan tiap malam yang membosan dipenuhi dengan siklus akuntansi, bahkan Yuni teman satu indekos kadang tersungging senyum berkata tentangku. Wanita karir. Berkata yang lebih tepatnya ngata-ngatain. Begitu setiap kenangan yang larut selalu aku bawa pulang dari kantor tempatku melakarkan laporan keuangan. Tapi aktivitasku terbodohi oleh hobi membacaku, mungkin orang yang melihatku tidak heran dengan sirkulasi waktu yang aku gunakan. Alphabet dan aksara mempengaruhi tebal lensa mataku, namun aku tidak peduli bringasnya desas-desus orang kantor, karena aku pernah mengalami hal yang lebih pahit di perkuliahan. Karena itu aku suka membaca. Mengalihkan dunia dengan membaca.

Malam setelahnya, setelah menenteng berkas laporan yang kubawa pulang ke indekos. Ada yang berbeda dengan Yuni, jerawatnya hilang dalam semalam, apakah ini yang namanya keagungan make-up. Dan sejak kapan Yuni punya baju se-elegant itu, selalunya dia pinjam koleksi bajuku setiap dia ada acara kantor atau sekedar kondangan. Tapi tak cukup ruang di kepalaku untuk memikirkannya, tumpukan berkas laporan menyapaku. Aku berhambus pergi tanpa kata saat berpapasan dengan Yuni, tapi dia malah menegurku. Lagi dan lagi, senyum menyungging mengeliat di dempulan keagungan polesan wajah itu. Yuni mengumbar sindiran tentang pacar dan malam minggu. Aku hanya membalas senyum dengan apa adanya.

Ritual kebanyakan orang, berdesakan di jalanan kota, atau hangout dengan pacarnya yang belum tentu menjadi pilihan hidupnya. Semua orang punya ritual setiap malam minggu. Aku. Bercumbu dengan kesunyian. Pria Sunyi. Aku tak tahu nama dunianya, atau paras yang dititipkan tuhannya. Tulisannya cukup untuk mewakili kebencian rutinitasku yang terpaksa aku jalani. Kebencianku akan dunia yang harus aku tinggal didalamnya.
Aku berkenalan dengan Pria Sunyi setahun yang lalu. Siapa dia. Bukan siapa – siapa, hanya sebuah blog yang ditulis oleh kesunyian. Kesunyian membuncah selalu tertulis lugas. Pria Sunyi, halaman depan yang tersuguh paparan pantai tiada sesiapa. Mewakili kepribadiannya. Postingan umpatan bahkan kutukannya akan keramaian selalu membuatku mendidih ketingkat orgasme. Setiap kumpulan kata yang aku baca, pria sunyi dan aku, seakan bercinta dalam kasat mata.

Hari ini, malam minggu ini, malam disaat Yuni pergi digondol mobil hitam. Aku mencari pria sunyi, sudah 3 minggu Pria Sunyi tidak mengutuk keramaian, tidak mengumpat kisruh di dunia. Kemana Pria Sunyi. Aku rindu setiap postingan di blog-mu. Kamu berhasil membuatku sunyi. Terimakasih.

Iklan

Satu pemikiran pada “Pria Sunyi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s