Casu Quo (teaser)

Meja itu berserakan dengan tumpukan sketsa gambar yang telah dilakarkannya kemarin malam. Sinar matahari yang meninggi masuk tepat dari belakang meja tersebut, karena posisi meja belajar itu membelakangi jendela ruangan. Hanya ada meja belajar dan lemari dikanannya untuk menumpuk sejumlah pakaian yang tidak lebih hanya berukuran sebesar lemari pendingin. Kasur tidur yang dialaskan lantai adalah tempat tidurnya tepat disebelah kiri meja tersebut.

“ergh” suaranya yang diikuti dengan aksi peregangan otot setelah bangun tidur, guna membantu melancarkan peredaran darah dan membuat otot sendi lebih fleksibel.

“ah sial, aku ada janji hari ini” umpatnya kesal melihat angka yang tertuju oleh jarum jam tepat berdiri di meja belajarnya. Dia pun bergegas bangkit dari ritual yawn stretching

Tama nama lelaki ini, kuliah disebuah universitas swasta fokus pada design grafis. Lelaki yang bergegas pergi dan berlalu untuk menepati janjinya yang sudah telat 15 menit lalu. Sementara jam pun tidak ragu, Terus meninggalkannya dengan jarum tertanda di angka 11 serta jarum satunya yang sedikit panjang tepat di angka 3. Waktu tidak ingin lagi bernegosiasi, Tama langsung mengganti stelan bajunya tanpa memandikan badannya karena Tama tau itu akan menyita waktu.

Mungkin Tama akan mengutuk seorang filsuf Al-Kindi sepanjang perjalanannya, karena telah mengungkapkan dasar – dasar relativitas dalam bukunya AL-Falsafa al-ula; berarti Filsafat Pertama. Menyinggung persoalan adanya hitungan waktu dengan penjabaran yang masih baku, mungkin juga buku karya Al-Kindi menjadi acuan mereka untuk membuat jam tangan murahan yang sedang dicari oleh Tama dikamar kostnya.

“Aku lupa jam tanganku” tersentak ingatannya dengan sebuah jam tangan pemberian pacarnya. Hampir saja dia meninggalkan jam tangan tersebut dan berlalu pergi. Jam tangan yang tidak seberapa harganya namun penting bagi Tama membuatnya harus mencari di setiap sudut kamar kostnya yang berukuran seluas toilet umum hotel berbintang. Dia dapati jam tangannya di meja belajar, terheran Tama melihat sesuatu di meja belajarnya.

Human Legion
cq Indonesia Division
cq Chief Legion TAN MALEKA

“Surat” cq Chief Legion Tan Maleka surat apa ini tidak ada pengirimnya, dan mengapa ada diatas meja? Tama mulai merasa aneh atas surat yang tidak jelas pengirimnya, namun ada nama dia di surat tersebut. Surat yang beramplop warna silver seperti kertas majalah, namun beda dari kebanyakan surat yang beramplop warna kuning gelap atau warna putih cerah, dia merasa ada yang ingin bermain-main dengannya. Dia pun mulai mempertanyakan apa isi surat tersebut.

“Apa maksudnya semua ini, hanya kertas kosong, surat bodoh ini menyita waktuku, ah sial” Tama berdiri dengan kesalnya di depan meja, hanya kertas kosong yang ada di dalam amplop tersebut. Tama meletakkan kertas dan amplop tersebut dalam keadaan terbuka diatas meja dan menindih tumpukan lembaran sketsa yang dilakarkannya kemarin malam. Dan Tama berlalu pergi meninggalkan kertas kosong di atas meja tersinari matahari pagi yang meninggi namun lebih tepat di katakan siang hari walaupun masih pukul 11 lebih.Tapi surat beramplop silver yang isinya hanya kertas kosong tersebut bereaksi tersinari matahari saat Tama menutup pintu kamar kostnya. Perlahan menimbulkan guratan di selembar kertas kosong tadi, menjadikan kertas kosong terisi penuh dengan sebuah aksara tulisan.

—-

Tama keluar dari toilet cafe setelah merapikan rambutnya yang berantakan dan memandikan wajahnya dengan sebuah facial foam kecil yang selalu dibawanya. Matanya mengintai seisi ruangan cafe seperti detektor yang mencari sensor akan sesuatu hal, tapi dalam hal ini lebih tepatnya Tama mencari seseorang yang akan ditemuinya hari ini.

“Maaf sayang Tama telat” Tama menghampiri gadis berambut panjang yang duduk sendiri di sudut cafe bersamaan Tama mulai duduk di depannya. Rambut panjang diikat kebelakang dan hanya helaian rambut bagian depan yang teruntai sejajar dengan bingkai kacamatanya. Riena mahasiswa sastra jepang ini adalah pacar pertama di kampus Tama, ya mereka satu universitas.

“hem” Riena menjawab datar sapaan Tama, sedatar pandangannya yang hanya tertuju pada iced coffee yang Riena pesan 30 menit yang lalu sesekali memainkan sedutan di gelas tersebut. Suasana kaku terasa menyesakkan ruangan cafe yang umumnya ramai dengan celotehan pengunjung lain. Hening, terlihat jelas di meja cafe ini, terduduk mereka Riena dan Tama dengan posisi yang saling berhadapan.

“kamu sangat cantik hari ini Rie” Tama berusaha mencairkan kekakuan dengan cara terlalu biasa yang kebanyakan dilakukan oleh laki-laki lain. Tama harus lebih banyak mengerti apa yang diinginkan Riena, setidaknya pujilah sweater putih bergambar teddy bear yang dikenakan Riena hari ini, secara Riena suka dipuji penampilan barunya terlebih lagi sweater japstyle yang baru dibelinya dari onlineshop.

“baru tahu” Riena hanya ingin Tama merasa bersalah karena telah membiarkannya hampir 1 jam di cafe ini sendirian, seharusnya Tama tahu akan hal itu mengapa Riena terlalu datar menjawab setiap sapaannya. Padahal sebenarnya dia sangat terkejut Tama memakai jam tangan dan kemeja pemberian darinya di ulang tahun Tama setahun yang lalu, kemeja warna putih cerah dengan corak kotak kecil berwarna hitam. Jadi lebih dominan kotak kecil hitam dan kelihatan berwarna hitam sekilas, dan Tama tidak pernah memakainya karena Riena tahu Tama tidak menyukai warna hitam.

“Tama tahu Rie marah, Tama janji deh gak bakal lagi ninggalin Rie sendirian lagi” tidak seperti biasanya, Riena hari ini sepertinya marah sekali kepada Tama. Riena tahu bahwa Tama sering telat bila ada janji namun berbeda hari ini, Riena susah untuk mengucapkan maaf.

“Janji? ini udah janji yang ke berapa yang kamu ucapkan” Riena mulai menambah suasana yang kaku menjadi rumit, rumit bagi Tama.

“iya Tama tahu, seharusnya hari ini itu tepat waktu tapi ada sesuatu hal yang membuat Tama telat” Tama memulai mencari sebuah alasan berharap Riena bisa menerimanya, sebuah pembelaan yang biasa Tama lakukan untuk meringankan rasa bersalahnya.

“maaf permisi, pesanannya ada yang mau ditambah?” dipertengahan pembicaraan Tama dan Riena, terpotonglah bualan mereka oleh pelayanan seorang pelayan cafe yang menanyakan pesanan.

“saya pesen…..” Tama yang sedang bingung melihat aneka gambar yang terpampang jelas di lembaran menu cafe, dan ketika sudah mendapat pencerahan yang akan di pesan, Riena membuat Tama menjadi serba salah.

“mbak saya minta billnya ya” Tama terkejut, dan Riena sepertinya serius akan hal itu.

“gak mbak, dia bercanda. Rie maksudnya apa sih” Tama mencoba memastikan kepada Riena, pelayan cafe pun ikut terkontaminasi kebingungan, bercampur shocked Tama mendengar kalimat yang terucap oleh Riena.

“saya minta billnya mbak sekarang, kalau tidak saya tidak mau bayar” Riena mengulang permintaannya dengan sedikit nada meninggi setengah atau seperempat oktaf, sehingga langsung pelayan berlalu dan mengabil bill pesanan Riena.

“Rie mau kemana, Tama kan baru datang” Tama membujuk Riena yang sedang kesal, kesal karena telat atau mungkin kesal karena permasalahan yang sedang dihadapinya.

Siang itu, terlalu menyengat setiap lapisan kulit para manusia, berhamburan dijalanan dengan kendaraan mereka. Tapi tidak dengan Tama sengatan teriknya matahari tidak begitu terasa dibandingkan perasaannya yang sudah tersengat di cafe itu.

Tama sampai dikostnya dengan segala perasaan bingung apa yang terjadi hari ini.

“aku tidak mengerti, apa yang terjadi dengan Rie, sampai dia pulang mendadak seperti itu” Tama di dalam kamar kostnya, mengeluhkan apa yang terjadi hari ini bersamaan melucuti jam tangan yang di semula dikenakannya dan akan diletakan dimeja belajarnya.

“ini surat tadi” Mengapa ada tulisan, sepertinya tadi tidak ada yang tertulis di kertas ini? Tama mencoba mengambil kertas tersebut yang terbaring di meja sejak tadi dan mencoba membacanya, tapi dia semakin bingung melihat isi kertas tersebut.

“ini sebenarnya apa sih, mengapa tulisan ini angka dan hurufnya tidak beraturan, dan lebih didominasi oleh angka” Tama membawa kertas tersebut menjauh dari meja dan menjauh dari sinar matahari, membawanya ke tempat tidur yang bersebelahan dengan meja belajar namun tidak terkena cahaya matahari langsung.

Tama menyalakan laptopnya mungkin ada petunjuk tentang isi surat tersebut. Setelah laptop menyalah dan sudah terkoneksi dengan modem. Tama menjadi tidak fokus, Tama lebih membuka jejaring sosial. Setelah 1 jam berlalu barulah Tama teringat dengan kertas tersebut, tapi apa yang dilihatnya tulisan tersebut perlahan memudar. Tama tanpa tahu kertas tersebut bila terkena sinar matahari akan muncul kembali, membawanya kembali ke meja belajar dan bangkit dari tempat tidur. Ingin melanjutkan sketsa gambar kemarin malam yang tertunda, ketika Tama meletakkan kertas surat tersebut di atas meja.

Perasaan heran dan terkejut bercampur aduk dalam diri Tama saat melihat kertas kosong tersebut perlahan menampakan tulisannya kembali. Tulisan yang penuh dengan angka, Tama mulai menulis ulang di selembar kertas. Lalu mencari semua informasi dari google, tapi tidak ada artikel yang menjelaskannya.

“apa mungkin” Tama mulai berandai. “tidak mungkin ini adalah kode itu”. Berandai jauh dari kemungkinan yang diciptakannya dahulu saat duduk dibangku sekolah menengah.

“hexadecimal” dia mulai mencari artikel berkaitan tentang hexadecimal di internet. Dan ditemukan sebuah aplikasi flash converter hexadecimal to text. Dan dia terkejut akan hasil konversinya.

Kalaukamuberhasilmembacaisisuratiniituberartikamutelahberhasilmemecahkankodehexadecimaldansayaharapkamutidakmemecahkankodeinidenganbantuaninternet

“mana mungkin aku bisa memecahkan kode ini pakai kepalaku”

Bagaimanakabarrienaakuharapkausudahmenghubunginyakarenadiamembutuhkanmukauharustahuitu

“riena? Sebenarnya siapa pengirim ini”

Kompetisigambaryangdiadakanolehperusahaanotomotifjepangdengantemamasadepandansketsarobotmumenjadiacuanbagimerekamembuatpasukanrobot
Akuadalahkamukamuadalahakuyangsekarangmemimpinumatmanusiadiindonesiadalammemerangirobot
Satuhallagimerekasudahtahukeberadaanmu
tanmalekakauharusberhatihati

“Benarkah surat ini, dari aku di masa depan”

Semoga semangat masih ada, untuk melanjutkan cerita ini, walaupun cerpen ini cuplikan rencana untuk sequel kedua dan yang sekuel pertama pun gak tau kapan terealisasi.

Iklan

2 pemikiran pada “Casu Quo (teaser)

  1. Sebenarnya, gaya bercerita bang Yoga udah lincah banget. Sempat bawa Nikma hanyut dalam cerita. Cuman, kurang sreg sama awalnya, pas part ini: Tama nama lelaki ini, kuliah disebuah universitas swasta fokus pada design grafis. Terlalu blak-blakan dan monoton buat ngedeskripsikannya. Coba buat begini:
    1. Tama kuliah disebuah universitas swasta itu sedang fokus pada design grafis. Contoh yang pertama ini langsung lugas.
    atau enggak gini, contoh yang agak membawa pembaca sedikit hanyut dan tidak monoton:
    2. Lelaki yang akan kuliah disebuah universitas swasta itu sedang fokus pada design grafis. Lelaki itu bernama Tama.

    Terus, masih kurang “ngeh” sama akhirnya. Mungkin, Bang Yoga harus ngelanjutin ceritanya ya. Biar Nikmal jadi ngeh 😀

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s