3 + 1

Sekitar memburam tampaknya. Kursi tua di taman membantunya untuk tetap duduk menatap sekeliling yang memburam. Pandangannya beredar ke tiap sudut taman, hanya didapatinya riuh suara yang saling berantakan. Gaduh yang bahagia. Girangnya segerombolan anak di kejauhan, terdengar jelas dari tempatnya memandang kabur, jarak beberapa langkah resonansi suara seharusnya hilang ditelan angin taman. Rintihan rumput taman dipijaki anak-anak yang berlarian, bermain kaki siapa yang paling kuat berlari. Rerumputan taman hanya meringis dan merintih saat sandal jepit dan sepatu santai mereka bergesekan lalu menindih. Tiba-tiba burung yang bertengger di ujung pepohonan rindang di sana, ikut memenuhi sesak gendang telinganya. Para demonstran kecil sedang memekik kelaparan, meminta jatah makanan dari si Induk burung.

Suara di tengah taman tersebut semakin berantakan. Matanya dipejam, bernafas dalam hingga bahu meninggi lalu merendah kembali. Berulang sampai beberapa kali sampai pikirannya hening. Olah nafas tersebut membantu menetralisir sistem saraf pendengarannya, impuls terhantar semestinya. Tidak ada suara gaduh lagi, hanya saja ritme jantung perlahan melemah. Satu, dua, tiga, nafas masih memburu.

“Ayah” seorang anak memanggil dari sudut pandangnya, sekitar 10 langkah dari kursi taman. Pandangannya yang mulai jelas seraya deru jantungnya yang statis, sangat mengenali suara itu.
“Apa benar itu ayah” anak tersebut mendekat kearahnya. Namun,

10

Sudah kuhabis umurku untuk ini semua, tidak akan pernah aku serahkan begitu saja kepada mereka. Setidaknya aku mencoba bejana ini, walaupun ada seribu probabilitas yang ada di depan nanti. Aku tidak peduli.

9

“Jangan Rick, alat itu belum stabil” teriak partnernya dari luar ruangan lab.

8
7
6

Aku tahu ini belum stabil, aku tahu perhitungannya karena akulah konsep awal semua ini. Walaupun dimensi spasial kurang mendukung pada saat ini. Aku harus tetap mencobanya.

“Rick, apa yang harus aku katakan pada nisan Jane dan Anakmu” partnernya mencoba menggugah niat Rick.

5

“Diamlah kau, karena merekalah aku menjalankan projek ini” pekak Rick, dari dalam lab, walaupun terdengar pelan dari sisi partnernya

“Kita bisa memulainya lagi dari awal Rick, tinggalkan tempat ini” bujuknya dengan memberi harapan.

4

Dari awal? Aku tidak perlu awalan aku hanya menginginkan akhiran. Jane. Tim. Aku mendedikasikan semua ini hanya untuk kalian.

“Diaaaaam, kau tidak perlu mengajariku sebuah awalan, kau tau ini semua telah mereka rencanakan” projek yang menyita waktunya, projek yang merenggut nyawa Jane dan anaknya, demi projek ini Rick mengabaikan keluarganya

“Tapi bukan seperti ini akhir semuanya, aku tahu mereka ingin memusnakan kita, kita juga sudah tahu semua ini bertentangan dengan kehendak Tuhan” partnernya masih saja memastikan bahwa Rick tidak akan berbuat bodoh.

3
2
1

Bahkan aku pun ragu Tuhan memiliki kehendak, aku membenci-Nya. Selamat tinggal partner jangan sia-siakan keluargamu.

Lintas aurora terbuka dan menghilang sekelebat. Menelan Rick

“RIIIICCCK!!! Bodoooooh, BODOH”

“Tim jam berapa sekarang?” Rick bertanya pada anaknya. Bertanya tergesah.

“Jam 10, Ayah sejak kapan mengecat rambut ayah” Tim senang dan bercampur bingung

“Mana ibumu, kita harus pergi dari sini” seakan mengabaikan pertanyaan anaknya, Rick langsung mengganti sesi temu kangen dengan pertanyaan.

“Itu ibu disana, kami sedang bermain petak umpet” Tim menunjuk kearah wanita yang mengejarnya dari arah belakang, tepat di hadapan Rick.

“Kita harus menemui ibumu, kita harus pergi” berjalan mendekati Jane. Wanita itu, istrinya.

Pandangannya tertuju, terpusat, Jane menemukan Tim, menemukan Rick.

“Tim kamu terlalu jauh, bersembunyi, ibu khawatir” nafasnya masih tidak statis.

“Ibu lihat, akhirnya Ayah pergi bersama kita, menghabiskan akhir minggu bersama” seru Tim penuh harap.

Jane dan Rick berdiam, pandangan mereka cukup untuk mengutarakan segalanya.

Akhirnya penghujung minggu datang, aku ke ruangan lab bawah tanah, semoga pintu lab terbuka dan menagih janji kepada orang yang selalu berhutang janji.

“Ayaaaaah, ayolah kamu sudah janji, akhir pekan ini kita akan bersama” Tim memohon ayahnya yang sedang berkutat dengan komputer.

“Tim pergilah bersama ibu, ayah sedang menyelesaikan pekerjaan” ayahnya menyuruh Tim pergi tanpa melihat kearah Tim, sibuk yang teramat tidak memperbolehkannya menoleh ke arah Tim

“Ayolaaaaaah ayah” Tim masih berharap dengan penuh permohonan

“TIM! Jangan ganggu ayah” Tim tahu nada bicara itu, nada yang selalu terdengar saat ibunya marah, nada suara yang kemarin malam saling bersahutan.
Tim pergi, langsung pergi ke arah pintu keluar lab, berpapasan dengan ibunya.

Ibu masuk ke lab, semoga ayah mau pergi setelah dibujuk ibu. Aku ingin mendengarnya.

“Hei, apa yang sudah kau janjikan dengan anakmu, tepatilah”

mengapa ibu mendadak berseru pada ayah, apakah ibu marah.

“Aku ada deadline yang harus aku kerjakan, besok aku harus persentasi”

ayah ayolah jangan membuat ibu marah lagi, aku bingung dengan kalian.

“Terserahmu, kau lebih mementingkan pekerjaanmu”

ibu mulai marah lagi, mengapa ibu selalu marah.

“Sudahlah Jane, aku tidak mau berdebat soal ini.”

ayah jahat ataukah ibu yang jahat, mungkin aku yang jahat.

“Jane percayalah padaku kita harus pergi dari sini segera” Rick merampas pergelangan Jane lalu berlari menjauh dari taman.

“Kemana” Jane menjawab ragu. Apakah suaminya benar telah berubah, meninggalkan pekerjaannya demi keluarga

“Kemana ayah” Tim bersahut menimpali pertanyaan ibunya

“Percayalah Jane” Rick memastikan istrinya, tatapan matanya memusat ke pandangan Jane, istrinya. “Kita akan ke Pantai Tim” membuat anaknya senang, karena dia sadar, dia tidak pernah membahagiakan anaknya, keluarganya.

“Asik ayo ibu” Tim mulai membujuk ibunya, yang masih ragu dengan keberadaan suaminya, yang banyak berbeda.

Mereka bergegas menjauh. Setelah menjauh beberapa meter dari taman, menyeberang jalanan ramai kendaraan, di trotoar jalan mereka berhenti.

“Tunggu, apa maksud semua ini” Jane keraguannya memuncak, berujung mencari kepastian dari Rick, suaminya yang bercita menjadi seorang saintis.

“Ibu kenapa, marah lagi?” Tim mulai murung, melihat rona wajah Jane, ibunya yang selalu marah dengan pola pikir ayahnya.

“Jane, di taman itu ada bom, kita harus menjauh aku tidak mau kehilangan kamu, kehilangan Tim, kehilangan kalian, kehilangan keluargaku” Rick mencoba meyakinkan Jane.

“Ibu apa maksud ayah?” Tim kebingungan dengan percakapan singkat orang tuanya.

“Kau bukan Rick, wajahmu begitu tua, rambutmu beruban, siapa kau?” Jane pergi membelakangi suaminya, menarik tangan Tim “Ayo Tim kita pergi”

“Jangan Jane, percayalah padaku” Rick mengejar Jane tanpa sadar, Jane berlari ke arah jalanan.

DHUAAAR.

Suara gema bom dari arah taman terdengar, mengejutkan semua orang, pejalan kaki, pengemis gadungan, pengemudi bus, bahkan belalang taman yang sedang bersenggama.

GEBRAAAAK.

Benturan dahsyat, Jane dan Tim tergeletak seketika, Rick hanya diam. Memandangi adegan tabrak seperti di layar action.

“TIDAAAAAK” Rick mendekati Tim yang sudah tak bernyawa, Jane masih meringis kesakitan.

“Ri i i c k”

“Aku disini, tenanglah Jane semua akan baik-baik saja”

Mendadak Rick teringat perkataan partnernya, yang selalu diperdebatkan tentang hukum teorema kuantum, bahwa ada 3 dimensi ruang dan ditambah 1 unsur waktu yang berwujud spasial agar terjadinya lompatan kuantuam. Lalu partnernya menambahi tentang kehendak Tuhan, tak akan bisa diubah, walaupun berapa kali bermain dengan waktu. Takdir itu statis. Hukum kuantum hanya teori.

“AAAAARRRRRRRRKKKKKHHHHH”

image

from ig @yogaberyoga

Storiette ini teruntuk kakanda Pera Sagala member GoodReads kota Medan.

Iklan

4 pemikiran pada “3 + 1

  1. Awalnya menurut Nikmal terlalu membosankan. Terlalu njlimet. Terus, entah Nikmal yang terlalu bodoh, atau Bang Yoga yang terlalu pintar. Nikmal gak ngertos sama ceritanya, Bang. Mungkin kurang detail. 🙂

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s