Aster

Malam tak berdaya menampung setiap rajutan kata
Dan hanya rekaman panorama kelam terhiasi palsunya cahaya
Sudut kelopakku meratapi keindahan yang tersaji dari dunia
Bekas sebening kaca senada dengan jernihnya air di dermaga
Aku hanya simbol, mungkin juga penanda
Bisa jadi sebuah pelampiasan akan asmara
Inilah aku bediri disini dengan palsunya dunia
-celotehan bunga di tengah gemerlapnya kota-

—-

“Indah sekali pemandangan dari sini” terkagum dengan indahnya lampu, mungkin lampu neon bisa jadi lampu pijar atau keduanya , yang tersusun rapi di setiap sisi gedung-gedung kota. Wanita ini tidak habisnya terpukau dengan jajaran lampu pencahayaan, sesaat terhipnotis dan hanyut dengan siluet yang dihadirkan malam itu.

“Terimakasih ajak aku kesini, sangat indah sekali dari sini” rambutnya lurus tidak terlalu pendek namun sepanjang rata dengan goresan dagunya, sisi rambut yang menutupi matanya diikat ke belakang.
“Kamu berhasil untuk sekian kalinya, membuatku menjadi wanita yang paling bahagia” masih berdiri dan jauh sebelumnya berdetik-detik yang lalu dia tetap berdiri, terpaku dengan deretan lampu- seperti kerumunan kunang-kunang yang kaku.

Langkahnya mulai mendekat, bukan wanita itu tapi lelaki ini, memantapkan haluan langkahnya dari belakang dirinya bukan dia tapi belakang wanita itu. Dekapan melebur jadi satu di tengah keindahan, pelukannya merengkuh kesah bahagia dirinya, dari lelaki ini untuk wanita itu. Rambutnya yang serata dagu bertemu dengan sisi wajah lelaki ini dalam satu waktu, tangannya dan tangan dirinya menyatu tersimpul jemari dalam satu dekapan itu.

“Kamulah yang selalu berhasil untuk sekian kalinya, sudah lama sejak saat-saat itu, menjadikan hidupku lebih dari sekedar hidup”

–o–

-Senja itu, 16:56 waktu barat di belahan bumi Indonesia.-
“Nino, tolong jangan pergi?” inilah ibuku, kemungkinan dia ibu biologisku, tapi tidak terlihat kemiripan dari kami berdua, ya hanya saja matanya mataku coklat dengan sorotan perspektip yang tajam, hidungnya hidungku tidak terlalu kedalam tapi tidak juga seperti hidung mereka orang Arab yang menjuntai mancung dan sialnya aku mewarisi lesung pipinya.

Tapi beruntung aku mempunyai ayah yang aku tidak pernah tahu, dan memang tidak ingin kucari tahu. Ayahku berhasil memberikan kontribusi pada ketinggianku, jadi ibuku yang perangainya teringin sangat beradaptasi dengan duniaku-dia setinggi bahuku. Terlihat jelas kalau aku jalan dengannya menemaninya ke Mall sekedar berbelanja atau jalan menemaniku pergi ke apotek ternama

Please Ma, aku harus pergi, tidak besok tidak juga lusa atau lain hari, sekuat apa mama melarang, aku harus dan pasti pergi” seperti biasa, kadang hubungan kami seperti teman yang saling curhat tentang gebetannya, berbagi waktu bersama, obrolin mantan, pacar, dan banyak sekali, kalau di filmkan mumgkin seperti sinetron Tersanjung yang panjang episodenya.

Dan bisa juga kami menjadi seperti musuh, yang selalu perang dan siap angkat senjata sampai mati matian, mempertahankan ideologi kami masing-masing. Pernah hampir tercetus perang dunia ketiga di dalam rumah-yang isinya hanya empat orang ini, aku, mama, bu Idah, dan pak Diman. Faktor utamanya adalah karena berbeda paradigma tentang program TV yang disajikan stasiun lembaga televisi, adu argumen saling memojokan program TV masing masing, tidak sekali remote TV berpindah tangan, walaupun TV ada di masing masing kamar, kami sering perang di ruang keluarga dan bu Idah, pak Diman hanya sebagai non-blok tidak berpihak ke blok timurnya mama dan blok baratnya aku, kami sering perang urat saraf karena bodohnya program TV yang mama tonton, dan terlalu berat program TV yang aku tonton untuk dijadikan tontonan malam

“Nino, aku ini mamamu, dan aku tahu, sekarang tanggal berapa, bulan berapa, dan tahun keberapa. Kamu mau pergi, mama harus ikut” inilah kekuatan orang tua khususnya ibu, hampir setiap ibu mempunyai bathin yang kuat terhadap anaknya, dan sialnya aku mempunyai ibu diatas SNI (Standard Nasional Ibu Ibu) dalam hal kebathinannya tentang anaknya. Dia seakan masuk ke alam bawah sadar, dan membaca setiap inci kepalaku atau jangan-jangan ibuku letakkan chip di tengah encephalonku dari sana dia memonitoringgerak-gerikku

“Tidak boleh….!, urusan yang satu ini mama tidak boleh ikut, titik…!” Aku membentak ibuku, ibu yang telah melahirkanku, melahirkan bertaruh nyawa, nyawa yang terkadang terbuang sia sia dengan tingkah lakuku. Aku menuju mobil ibu, memunggunginya tertinggal didepan pintu, sekali aku menoleh dia tetap berdiri di sana di pintu rumah.

Paaak Dimaaaan! Tolong buka pagar!” aku teriak terbelalak, pak Diman pun tak menjawab tapi terlihat bergegas membuka pagar, dia menoleh ke arah mama sambil membuka pagar, pasti mama masih diam di sana. Aku masuk mobil, dengan sesal menyelubungi tiap ruang mobil ini, aku mulai merasa bersalah, setiap aku bertengkar dengan ibu setelahnya mataku seakan kelilipan debu, tapi kali ini semoga ibu memaafkan aku.

-Maafkan aku mama-

Sesaat aku ingin menghidupkan mobil, aku malah tersenyum, senyum yang bercampur dengan tertawanya hati, tapi tidak sampai merubah raut wajah. Aku kembali menemui mama, dan mempersembahkan senyum lebarku, dengan terkibarnya senyumku berkibarlah bendera kedamaian.

“Sudah mama bilangkan, mama harus ikut” dan akhirnya mama ikut ke tempat tujuan aku pergi, kunci mobil yang semula di gantungan kunci bersama kunci kunci lainnya, tidak ada pada tempatnya hanya kunci mobil yang hilang, dan ternyata kunci mobil ada ditangan mama. Sepertinya benar teoriku, bahwa mama pasang chip dikepalaku, mengapa dia bisa tahu aku akan pergi malam ini, dan mama menyembunyikan kunci mobilnya, yang aku ambil hanya gantungan kunci beserta kunci kunci lain.

–o–

“Sebenarnya alasan aku hidup di dunia ini hanya dua hal, salah satunya karena kamu” dekapannya masih mencair dalam suasana malam itu, ditemani gelapnya malam namun tidak sampai gulita dan hanya bulan yang sangat terang hari itu mungkin lebih terang dari malam-malam yang lalu bahkan kelihatan bulan membesar dari biasanya.

“Hari itu, hari hari dimana kita bergumul dengan bualan cinta menjadikan aku lebih hidup” lelaki ini masih mendekap hangat dirinya-diri wanita itu, perlahan mengusik sejuknya malam yang tidak seperti biasanya, sunyi disini namun tidak dengan suasana disana-dijalanan kota yang ramai orang baru pulang kerja.

“Semoga akan terus menjadi seperti ini, kamu dan dirinya adalah wanita yang istimewah bagiku” perlahan dekapan itu mulai melonggar, melonggarkan kesunyian bersarat. Pelukannya tak lagi hangat, namun masih berkesan dikeduanya. “Aku berharap hanya menjadi yang pertama, dan bukan kedua atau ketiga”

–o–

Hari itu, hari yang mulai menggelap-

Oh baby ill take to sky . . . . Forever you and i…. you and i….

Petra pun bernyanyi di telpon genggam yang berukuran tidak normal untuk sebuah ukuran handphone, yang tergelatak di meja kerja atau di laci meja, atau di bawah tumpukan berkas yang berserakan rapi.

“Mas, udah dimana” sudah daritadi aku tunggu, sekitar setengah jam lebih, dan baru ini telponnya masuk. Apakah ini bagian dari kejutan bodohmu, atau kamu tidak sadar, aku sengaja tidak menghubungimu, supaya kamu berpikir dan sepertinya kamu tidak bisa berpikir. Apakah benda tumpul membentur kepalamu, aku tunanganmu.

“Udah didepan kantor kamu nih sayang, maaf macetnya menggila sayang” alasan klise, sama seperti semua alasan, seharusnya lebih kreatif dalam mencari alasan. Belum lagi ini adalah hari, ah sudahlah…. alasan sangat biasa dan alasan apa yang mau aku harapkan lagi. Tapi setidaknya sebuah alasan yang menjadi moodboosteruntuku. Setidaknya alasan permintaan maaf karena telat jemput cari bunga aster. Tapi apakah kamu pernah tahu aku menyukai bunga itu, walaupun kamu sering melihat bunga Aster di halaman rumahku. Tapi kamu tidak tahu itu.

“Ow yaudah, nih udah mau kelar, sebentar lagi aku keluar kantor mas” kamu terlalu lama mas Rifki, aku sudah bosan ini semua, bosan dengan klisemu. Pernahkah kamu merasa, aku ingin mengatakan sesuatu. Bawalah aku, bawa aku ke langit itu, dan hanya kita berdua, aku bosan dengan ini semua.

“Mas tunggu di parkiran ya Via kesayangan” walaupun aku mencoba dengan sangat, mencoba kembali ke masa itu, tapi aku tak bisa. Bisakah sang waktu memainkan perannya, kembalikan aku pada saat pertama kita bertemu, saat dimana aku terhanyut dalam bualan cintamu. Aku suka masa itu, bukan yang sekarang terikat dengan sebuah pertalian komitmen. Fase ini sangat membosankanku, seandainya kamu tahu mas, aku butuh perhatianmu disetiap pagiku dan menjelang tidurku.

–o–

Kalian tidak ada bedanya bagiku, dan aku tidakmembedakannya, dan kamu tahu itu” lelaki ini mulai memalingkan pandangan serta arah tubuhnya tidak lagi ke langit, ataupun cahaya lampu melainkan terarah ke wanitanya. Lelaki ini memegang tangannya mencoba menghangatkan kembali apa yang mereka sudah mulai hangatkan sejak tadi.

“Baiklah” kehangatan terlihat jelas semakin mendingin, melewati kesejukan malam saat itu. Sekitaran terasa dingin apakah ini akan hujan, tapi tidak ini hanya dingin biasa yang tadinya hangat.

“Aku ada kejutan kecil, sebentar yaa” lelaki ini berusaha menghangatkan suasana yang dari tadi mulai mendingin, dengan dibawanya sekantung plastik, mungkin isinya pupuk atau tanah bisa jadi juga sebuah benih tanaman.

“Apa itu, untuk apa tanah itu” kalimat yang terucap mulai datar, intonasi yang terkeluar dari bibir tipisnya tidak lagi sehangat tadi.

“Ini bukan hanya tanah, tapi aku mencampurnya dengan bibit bunga, bunga Aster” beruntung bibit bunga aster, mengembalikan suasana itu, suasana yang sejak tadi mulai redup atau bisa jadi mulai tidak stabil.

“Kamu? Dari mana kamu bibit bunga aster” wanita tadi mulai tertarik dengan isi kantung plastik yang dibawa lelaki itu. Kantung plastik berpindah tangan ke wanita yang ingin memastikan apakah benar bibit tersebut adalah bunga aster.

“Sini berikan padaku, biar aku tanam bibit tersebut” direbutnya kantung plastik yang dipegang wanitanya, tapi dia kalah cepat meraih plastik tersebut.

“Tidak perlu, kamu buat lubang saja di tanah, biar aku yang menanamnya, aku takut kamu salah tanam bibit ini tidak berkembang”

–o–

-di mobil itu, mobil yang tidak terlalu biasa-

“Sayang kenapa, lelah sekali kelihatannya” ada yang lain dengan tunanganku hari ini, tidak seperti via yang itu, via yang selalu ceria setiap aku jemput dari kantornya walaupun setelat apapun aku datang dia selalu ceria.

“Gak kenapa-napa mas, gak lelah juga kok” aku tahu ini hari lahirmu, dan mana mungkin aku melupakan hari bahagiamu. Aku sudah kemas hadiah terbaik untuk wanita terbaik dikehidupanku.

Sayang, tolong ambilkan berkas di laci dashboard itu sayang” mungkin kamu berpikiran hidupku hanya untuk berkas kantor setelah kamu mendengar kalimat itu, tapi sebenarnya tidak. Aku selalu memikirkanmu ditengah kesibukanku yang tak berarti itu.

– klek –

“Aku pikir mas lupa dengan ulang tahunku, ini isinya apa ya, aku buka sekarang ya” semoga kamu suka, hadiah yang tidak seberapa itu, dan seharusnya aku berikan tahun lalu.

“Buka saja semoga kamu suka via” aku berharap kamu suka, maaf jika terlambat aku memberikannya.

“Ini kan, makasih ya sayang” iya benar, hanya sebuah jam tangan yang kamu pernah bilang kamu suka sekali jam tersebut. Ornamen bunga di jam tersebut selalu kamu ceritakan di pertengahan obrolan pulang.

“Sekarang kita kemana, makan dulu atau langsung pulang” aku senang kamu langsung memakainya, jam tangan itu sangant indah melingkar di pergelangan tanganmu.

“Temanin via ke taman sekitaran jalan Ade Irma mas” baiklah kemana pun akan aku temani, demi dirimu.

“Ok sayang, kita akan kesana secepatnya”

– sampainya di sana –

“Sayang tunggu disini sebentar ya” aku terkejut, maksud kamu berkata seperti itu, kamu mau pergi kemana tanpa aku disampingmu.

“Kenapa? kalau kamu ada apa apa bagaimana” mengapa kamu ingin sendiri, aku tersentak mendengarnya

“Aku sebentar aja mas, please yaa, mohon mengerti aku sayang” aku memang tidak pernah bisa mengerti kamu keseluruhan, tapi yang jelas aku mencintamu jauh sebelum aku mengenalmu.

“Ya baiklah, jangan lama lama ya sayang”

–o–

-di taman itu, taman yang tidak terlalu ramai-

“Ibu kok sendirian di taman ini” siapa ini, bagus tadi saya tunggu di mobil daripada nunggu di luar mobil, mengapa tiba tiba dia menghampiri saya, lebih baik aku pergi saja.

“maaf, saya harus pergi, ada perlu apa ya” memang sih dari kelihatannya dia orang baik baik, tapi tampilan luar bisa menipu. Lebih baik berhati ? hati.

ow, maaf bu, saya lagi nungguin tunangan saya, dia bilang ada keperluan sebentar” tunangan, Anak muda zaman sekarang tunangan kok dibiarin jalan sendirian.

“sama dong, saya lagi nungguin anak saya” tapi tidak mengapa juga, nemenin saya cerita habiskan waktu sampai anakku datang.

Bualan terasa akrab seperti ibu dan anak, mungkin karena seorang ibu yang berperangai santai dan terbuka atau si lelaki yang selalu menghargai setiap sosok orang tua, semua orang tua dianggapnya seperti orang tua sendiri. Candaan terlempar sebegitunya tanpa ada sarat namun santun, dan tidak sedikit juga meluap keluar curahan hati masing-masing dari mereka. Dan hanya mereka berdua, Rifki dan Ibunya Nino.

–o–

“Nino?” ucap wanita itu dengan terkejut becampur heran.

“Hi Via, selamat ulang tahun” sambut lelaki itu yang selalu riang, di setiap sisa nafasnya.

“Sedang apa kamu disini? Aku hanya merawat bibit yang pernah kita tanam bersama”

“Indah sekali, dan kelihatan terurus, tapi aku tidak mengerti untuk apa kamu lakukan ini semua”

“Untuk apa, Seharusnya aku yang bertanya, aku tidak melihatmu di sini tahun lalu dan di tahun-tahun itu, kamu yang sedang apa malam-malam begini?”

“Jangan bilang kamu setiap tahunnya, ke sini menikmati keindahan kota dan ditemani bunga aster ini”

“Tidak, aku disini hanya mengganti air di pot kaca dan meletakkan bunga Aster yang baru aku petik”

“Tapi, apakah ini semua kamu lakukan hanya sebatas itu?”

“Sudahlah, jangan banyak tanya, cepatlah pulang nanti tunanganmu khawatir”

“Jangan sok tahu kamu. kalau kamu masih? tapi kenapa kamu akhiri semua itu, hari itu, 3 tahun lalu”

“Tahulah, cincin itu melingkar erat di jarimu Via, Sudahlah jangan banyak pertanyaan, pulanglah sana tunanganmu nanti khawatir”

-Via pun pergi dengan rasa kesal yang mendalam, tapi Nino tetap duduk di kursi itu, ditemani bunga Aster yang berdiri tegak di Pot Kaca-

Via aku mohon, biarkan aku mencintaimu dengan caraku sendiri disisa nafas ini.

–o–

di mobil itu, dalam perjalan pulang

“Via kamu tidak apa-apa, matamu merah”

“Gak apa – apa kok mas, aku capek sekali antar pulang aja mas yaa”

“Baiklah sayang, tau gak Via, tadi ada seorang Ibu yang lagi nungguin anaknya sendiri di tengah taman, dia sangat sayang sekali dengan anaknya, mas gak bisa bayangin bagaimana nasib ibunya kalau anaknya tiba-tiba meninggal dunia karena penyakit yang dideritanya”

“Maksud mas?”

“Kata ibu itu, anaknya mengidap Varises Otak diponis oleh Dokter 3 tahun lalu tidak akan bisa hidup lama hanya setahun saja sisa hidupnya, namun sebuah keajaiban dia bisa hidup sampai saat ini, itu yang mas gak tahu”

-Dasar Nino bodoh-

–o–

“Kamu suka tempat ini Via”

“Aku suka tempat ini Nino, tempat ini indah dan bakal tumbuh bunga Aster nantinya”

“Setiap tahun kita rayakan ulang tahun Via disini saja, Selamat ulang tahun Via”

Iklan

2 pemikiran pada “Aster

  1. Pembukanya yang ini cukup bagus. Tapi Nikmal kurang sama pas part ini: “Terimakasih ajak aku kesini, sangat indah sekali dari sini” Coba diganti menjadi ini: “Terimakasih banyak ya, kau sudah ajak aku kesini. Sangat indah sekali pemandangannya dari sini. Aku suka” Terus waktu parti ini: “Kamu? Dari mana kamu bibit bunga aster”, lebih enak kalau ditambah sedikit kata menjadi: “Kamu? Dari mana kamu dapat bibit bunga aster?” Menurut Nikmal ya Bang, semakin detail kita bercerita, semakin mudah pembaca mengetahui apa yang ingin kita sampaikan. 🙂

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s